"Eh?" Aku terkejut saat Adios mengenggam tanganku erat. Dia memperlakulanku seperti kekasih. Dan itu membuat sesuatu di dalam d**a berdetak lebih cepat dari biasanya. Lelaki itu tidak menanggapi kekagetanku, bahkan menoleh pun tidak. Dia masih dengan wajah tanpa dosanya berjalan lurus ke depan seolah tidak mendengar pekik yang baru saja aku lontarkan. Mau melepas tangannya, aku enggan. Akhirnya menautkan jemari menjadi opsi yang kuambil saat ini. Kali ini dia menoleh, lalu tersenyum manis. Kami berjalan dengan jari saling tertaut hangat. Di saat ini, aku bisa melupakan tentang Mas Dales dan semua perlakuannya terhadapku sebelumnya. Hati menghangat, seiring posesifnya Adios ketika kami sampai di pinggir jalan dan hendak menyeberang. Telapak tangan Adios pindah ke pinggang dan menarik

