Suara keyboard komputer sedikit berisik. Semua bekerja dalam hening. Tak ada yang mengobrol, masing-masing dari mereka menyumpal telinga dengan headset. Kecuali Zaidan. Baginya suara tarian dari jari-jemari di atas keyboard itu menghasilkan suara dan harmonisasi yang unik. Seunik hatinya saat ini. Pasalnya setelah sepuluh tahun, dia baru merasakan jatuh cinta, jika dulu Zaidan hanya merasa mencintai bayangan anaknya. Kini Zaidan mencintai wujud dan keberadaannya. Setiap sujud di sepertiga malamnya, Zaidan selalu mengucap syukur. Syukur yang sebesar-besarnya karena dia diberi jatah usia untuk bisa berkumpul dengan anak semata wayangnya. Tak ingin membohongi hati, dia juga berdoa agar bisa bersatu dengan Aqna, jika tidak di dunia, dia meminta agar Allah mempersatukan mereka di akhirat

