Berdamai

1283 Kata

Sesungguhnya maut itu rahasia Ilahi. Entah Aziz lupa akan hal itu, atau dendam telah membutakannya, sehingga membuatnya terus membenci. Dia bukan tidak tahu dendam itu penyakit hati. Tapi kehilangan adik kesayangan membuatnya melupakan persahabatan Aziz dengan Hamdan.  Aziz tercenung menatap Aqna berkata demikian. Permintaan terakhir? Apa dia akan kehilangan Aqna? Tidak. Dia tidak akan sanggup.  Air mata tergenang. Jatuh dengan indah. Bukan bentuk dari kekecewaan seperti sebelumnya. Namun, itulah bentuk dari runtuhnya semua dinding keangkuhan. Aziz meraih kedua tangan Aqna. “Papa minta maaf,” ucapnya lembut.  Aqna terharu. Dia dapat melihat ketulusan Aziz. “Mungkin setelah ini Aqna bisa pulang dengan tenang.” Aziz segera merengkuh tubuh kurus anaknya. “Jangan bicara seperti itu. Papa b

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN