“Hah!” Maira terkaget. Langsung mendorong Bara lumayan kencang. “Aw!” Pekik Bara yang punggungnya terbentur kaca. “Che-chef, Chef. Ma-mau ngapain?” ujar Maira gugup sambil menyilangkan kedua tangan guna menutupi bagian tubuh depannya. Maira sendiri menarik diri, hingga punggungnya menyandar sepenuhnya ke jendela mobil. Kedua mata Bara terpejam, sedikit merintih menahan sakit terutama di bagian bahunya – karena terlebih dulu membentur kaca. “Saya mau ngelepasin sabuk pengaman kamu. Kamu enggak sadar kalau posisi tidur kamu bisa bikin leher kamu sakit?!” Bara mendesah kesal, lalu mengusap tengkuknya. Maira mengedarkan pandang sejenak. Di tengokkan kepalanya ke kanan, ke kiri, dan atas. “I-ini, dimana?” tanya Maira yang sudah menurunkan kedua tangannya. “Di depan kontrakan kamu.” j

