“Sudah bangun ?” aku merasa kaget tatkala kembali merasakan diriku dipeluk dengan cara yang begitu intim. Sesuatu seperti ini masih asing untukku dan aku belum bisa menerimanya secara penuh. Bahkan saat menyadarinya saja, kepalaku rupanya juga berbantalkan lengan kokoh sang pria yang sepertinya enggan sekali untuk melepas aku pergi dari pelukannya. Bahkan pria itu memberiku senyuman terindah miliknya ketika aku baru saja membuka kedua mataku. Senyum yang tidak pernah aku lihat darinya semenjak hubungan kami tidak seharmonis dahulu. “Sekarang…” aku malah persis seperti orang bingung yang baru saja kembali dari dunia lain. linglung. “Tadi kita melakukannya sebanyak kurang lebih tiga jam, kau kelelahan dan tertidur selama empat jam. Sekarang.. ah… sudah pukul lima pagi.” “Pukul lima? Aku

