Aku melirik jam tangan, sepuluh menit lagi menuju jam enam petang. Kuputuskan untuk berpamitan. "Maaf, Pak Roy, Pak Jeremy, Pak Arya. Sepertinya saya harus pamit sekarang," ucapku setelah menyimpan gelas di atas meja. "Pulang?" Pak Roy menyimpan gelasnya dengan agak kasar. "Ini masih siang, Dinda." "Maaf, tapi ... saya--" "Dinda punya hal lain yang lebih penting di rumahnya, Roy," sela Arya. Dia mendelik ke arahku. Kemudian menyimpan gelasnya. Semua diam. Pak Roy dan Pak Jeremy pun tak berkomentar apa-apa. "Pulang lah, Dinda. Masih ada waktu lain untuk minum kopi lagi bersama kami," tukas Arya. Dia menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Sedangkan tangannya bergerak memainkan ponsel. "Terima kasih, Pak Arya," ujarku sambil menganggukkan kepala. Pak Roy terlihat kurang su

