"Pagi ini kita sarapan roti isi," ujarku sambil menyimpan piring di atas meja makan. "Asyik!" Fia berteriak kegirangan. "Jangan lupa habiskan susunya," kuusap puncak kepalanya. "Siap, Bunda!" sahutnya lagi. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Kuraih ponsel lebih dulu, ternyata ada pesan baru masuk. Dari nomor tanpa nama. Siapa? "Jam sembilan nanti kita ada jadwal pertemuan dengan para pemilik pabrik furniture yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan." Keningku mengkerut. Apa maksudnya? Kutekan foto profil di sudut kanan layar. Gambar seorang laki-laki sedang berdiri, menyandarkan pinggul di tepian meja. Lalu satu tangannya memegang cangkir kopi,dan satu tangan yang lain menyelusup di dalam saku celana. Tidak ada senyum di wajahnya. Namun, raut itu sungguh mempesona. Membuatku

