"Makan siang sama siapa hari ini?" tanya Yuni. Aku menoleh ke arahnya. Yuni bertanya dengan pandangan lurus ke depan. Dia tidak sedang menggodaku rupanya. "Sama kamu." Yuni memalingkan wajah. Mimik wajahnya menampakkan tanda tanya besar. "Kenapa? Mungkin mereka sibuk," tukasku demi mengentaskan keheranannya. Yuni tersenyum. "Temen aku baru diangkat jadi manajer di restoran. Kita ke sana, mau?" "OK!" Kukedipkan sebelah mata. Yuni kembali melakukan aktivitasnya, aku pun melanjutkan pekerjaanku. Kulirik lagi ponsel di samping gelas. Memang dari pagi tidak ada satu pun pesan dari Pak Arif atau Pak Roy. Ah, leganya. . Lima menit lagi menuju jam makan siang. Aku tersenyum lega lalu mematikan komputer. "Mau keluar sekarang?" tanya Yuni. "Aku ke toilet dulu," sahutku. "OK. Aku simpan

