43. Pengorbanan

1708 Kata

Aku menatap wajah itu. Sorot mata dingin tapi menyimpan arti lain. "Terima kasih, Pak Roy. Sudah menjaga Dinda. Maaf karena sudah merepotkan," ucapku segera. "Tidak apa. Aku memang sengaja mengikuti kalian ke sini," ujarnya. "Sengaja?" ulangku, karena kurang mengerti arti dari perkataannya. "Om, kita naik apa lagi?" tanya Fia, menyela rasa ingin tahuku. Aku berpaling ke samping, Arya merunduk, menatap Fia. "Kita pulang. Nanti kita jalan-jalan lagi," sahutnya. Keceriaan sedari tadi hilang begitu saja dari raut wajahnya. "Tapi Fia masih betah. Fia mau--" "Fia," panggilku. Kugelengkan kepala sebagai isyarat. Akhirnya anak itu hanya bisa mencebikkan bibir seraya melepas pelukan tangannya dari tubuh Arya. . "Kenapa kamu harus secemas itu?" tanyaku setelah melihat Arya terus terdiam sepa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN