"Halo, Pak Roy." "Di mana?" "Saya sedang di lokasi proyek Harmonise Bay." "Oh, dengan Arya?" "Iya, saya bersama Pak Arya. Ada sesuatu yang penting?" "Tidak. Aku hanya melihatmu tidak ada di meja. Ya sudah, kopinya aku berikan saja sama Yuni." "Maaf, saya tidak memberitahukan sebelumnya pada Pak Roy." "Tidak apa. Happy working. Bye." "Ya, terima kasih." Kusimpan ponsel di atas meja. "Kenapa?" Aku merasa heran melihat Arya terus menatapku. "Apa memang seperti itu? Kamu enggak pernah nolak kalau diajak makan siang sama Roy," tanyanya intens. Aku tersenyum simpul. "Enggak. Karena biasanya, lelaki seperti itu akan terus mengejar. Aku malas jika harus menolak, lalu ujungnya tetap saja dipaksa. Toh, nanti pun kalau mereka sudah bosan atas sikapku yang selalu mengacuhkan mereka, para lel

