Aku mengerjapkan mata ketika terjaga dari tidur. Mengembuskan napas, menyadari hari sudah terang. Ketika menoleh ke arah kanan, Arya sedang duduk di kursi. Menatapku, dengan segelas kopi di tangannya. "Selamat pagi, istriku," sapanya. "Pagi," sahutku masih dengan suara serak. "Pak Dirga sudah datang?" tanyaku was-was. Menyadari tubuh yang tertutup selimut ini masih dalam keadaan telanjang sempurna. "Harusnya sudah, tapi aku larang sebelum dia masuk." Arya menyimpan gelasnya di atas meja. Kemudian melangkah, duduk di tepian ranjang. "Sepertinya aku harus mengubah sebagian peraturan di rumah ini, karena sekarang bukan hanya aku sang pemilik rumah. Ada Nyonya Dinda, yang berhak membuat peraturan juga di sini." Tangan kanannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi keningku. "Ini teta

