"Ini susunya, Bunda." Fia menyimpan gelas di atas nakas. "Terima kasih, Kak Fia," ucapku. "Sama-sama." Fia pun naik ke atas ranjang. "Dedek bayi sekarang mau apa lagi?" tanyanya sambil mengusap perutku. "Udah cukup. Dedek enggak mau apa-apa. Mau bobo aja," sahutku. "Kalau gitu Kak Fia ambil dulu buku gambar. Kak Fia temenin dedek bobo di sini." "Iya, boleh." Fia pun turun dari ranjang. Dia keluar dari kamar, pergi ke kamarnya untuk mengambil peralatan menggambar. "Aww." Aku mengusap perut. Sebuah tendangan keras diberikan oleh bayi di dalamnya. Padahal usianya baru menginjak minggu ke delapan belas, tapi pergerakannya terbilang sangat aktif. Aku menarik napas, mengembuskannya lagi. Kuulangi sampai beberapa kali. Hingga terdengar suara langkah kaki berlari memasuki kamar. "Bunda ke

