Mata itu tidak pernah berhenti melirik ke belakang, derap langkah kaki mendekat semakin membuatnya melangkah cepat. Sesekali tangan itu mengelus lembut perut besarnya, napas yang terengah-engah terdengar jelas. Mungkin bila orang melihatnya seperti ini, mereka akan berpikir dia dikejar penjahat. Tetapi ini lebih dari itu, bahkan rasa tidak percaya masih memenuhi hatinya. Tubuhnya bersembunyi di balik tembok dengan harapan dapat selamat, mulutnya terus berdoa. Dia menoleh ketika sesuatu menyentuh pundaknya, ekspresi ketakutan tampak jelas di sana. “Eugene? Sedang apa di sini?” tanya seorang pria. Setitik harapan muncul di hati wanita itu, kemudian dia menggenggam tangan Alex dengan erat. “To.. tolong aku,” suara lirihnya terdengar samar ditelinga Alex. Namun, dia masih dapat mendengarnya d

