Mobil sedan hitam itu meluncur tidak lancar di wilayah perkotaan karena terjebak macet. Di sepanjang jalan itu lagi-lagi tidak ada yang berbicara. Auranya pengap hanya karena emosi Mama. Apalagi macet ditambah panas dan keringat membuat suasana hati Mama semakin buruk. Nanda dan Sinta juga tidak ada yang berani membuka suara. Mereka juga tahu kalau Mama Keysa sedang marah. Jadi lebih memilih untuk bermain ponsel dan menyumpal telinga menggunakan earphone. Perjalanan pulang membutuhkan waktu lebih lama daripada saat keberangkatan. Memakan waktu sekitar empat puluh lima menit lebih sampai para gadis di belakang sana lagi-lagi ketiduran. Keysa merasakan kembali tangannya ditarik pelan oleh Papa. Lalu barulah dia terbangun dari tidurnya. Bertepatan dengan suara azan Magrib berkumandang. Selu

