Orientasi Mahasiswa Baru

3403 Kata
Keysa mematut diri di depan cermin sembari menyisir rambutnya. Sepasang matanya masih terkatup-katup dengan bibir yang terus menguap. Dirinya baru bisa tidur nyenyak pukul lima pagi, dan harus bangun kembali pukul tujuh karena hari ini adalah ospek pertamanya di kampus. Pertemuannya pada sosok hantu bernama Elena membuat dirinya menjadi monster seperti ini. Bagaimana tidak? Seusai Elena memperkenalkan diri, hantu itu terus mengganggunya dengan menarik selimut, menyanyi dengan nada sumbang, bahkan melayang tepat di atas wajahnya. Berusaha membuat Keysa terus terjaga sepanjang malam. Dan inilah dia sekarang. Wajahnya kacau dengan kedua mata yang tampak sembap. Keysa mengembuskan napas panjang. Sedikit bisa bernapas lega kala sosok Elena tidak menampakkan diri seusai azan subuh berkumandang. Keysa mengalungkan ID card ke lehernya, meraih tas ransel hitamnya, lantas beranjak menuju kampus. Turun ke lantai satu menggunakan lift dengan mulut yang terus menguap. Dan tak jarang, bibirnya merutuki nama Elena yang membuat dirinya lunglai seperti ini, membuat beberapa kali kakinya tersandung akibat kedua matanya yang memilih untuk terpejam. Sesampainya di kampus, Keysa langsung memosisikan diri ke dalam barisan kelompok yang telah ditetapkan satu hari yang lalu. Tak lupa dengan memakai topi dan jas almamater yang melekat apik di tubuhnya. Keysa mengembuskan napas panjang dan terus menguap saat rombongannya digiring menuju lapangan untuk mengikuti apel. "Hei! Kamu!" Suara berat itu menghentikan langkah Keysa. Dahi gadis itu sedikit berlipat kala seseorang menarik lengannya dengan lancang. Kepalanya ia paksa mendongak untuk melihat siapa yang berani menyentuhnya seperti ini. "Kenapa rambut tidak diikat? Mau saya potong paksa?" Hal pertama yang Keysa lihat adalah seorang laki-laki tinggi menatapnya dengan sorot memusuhi. Berbagai atribut yang berbeda dari mahasiswa baru melekat di tubuhnya yang cukup berisi. Sepasang alis laki-laki itu tebal, tajam dan menukik. Tulang hidung dan rahangnya tampak tegas dan dingin untuk dilihat. Tatapan Keysa tertuju pada sebuah id card yang mengalung jatuh di d**a laki-laki itu, memberikan informasi jika orang itu adalah panitia pelaksana MOS tahun ini. Keysa mendesis mendengar ancaman tak masuk akal itu. Dia menghempaskan tangannya dari cengkeraman laki-laki itu. Melepaskan topi sembari tangannya yang lain merogoh saku almamaternya untuk mengambil karet. Mengikat asal-asalan rambutnya yang hitam panjang sepundak, dan berakhir memasang kembali topinya dengan kasar. "Dan ini, kenapa wajah kamu lusuh gini? Berapa jam kamu tidur? Baru saja ospek hari pertama, tapi kesan kamu malah kayak gini. Kami panitia sudah menyiapkan sambutan buat kalian para anggota mahasiswa baru, tapi orang seperti kamu ini sama sekali tidak menghargai jerih payah kami! Kayak gini mau jadi lulusan sarjana?!" Ahhh, berisik sekali! Keysa lagi-lagi menguap dengan kedua tangan yang mengusap matanya untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel di setiap ujung matanya. "Kalau kakaknya tanya itu, jawab!" bentakan itu membuat Keysa kian menggeram dengan kedua tangan yang mengepal erat. "Jangan salahkan saya! Salahkan saja Elena yang terus mengganggu tidur saya!" Keysa membentak dengan kesal. Tak ada rasa takut sedikitpun dari kata-katanya. Keysa bahkan balas menyorot netra hitam yang mengkilat pada lawan bicaranya. "Siapa itu, Elena?" "Setan bule kurang kerjaan!" jawab Keysa ogah-ogahan. Lipatan kecil penuh tanya langsung tergambar di dahi lawan bicara Keysa. "Gak usah banyak alasan! Pakai bawa-bawa setan lagi! Kalau salah ya salah aja! Udah, cepat cuci muka dulu! Saya enek lihat muka kamu!" Keysa menghentakkan satu kakinya, menahan emosi yang siap meletus dalam tubuhnya. Sepasang matanya menyalang penuh kebencian. Bibirnya yang pucat terbuka dan kembali bersuara ketus, "Siapa juga yang mau dilihatin sama kamu!" Selepas berucap seperti itu, Keysa langsung pergi dari tempatnya. Tak lupa dengan mulut yang terus menyumpah serapah, mengomel-ngomel tidak jelas di sepanjang langkahnya. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Keysa memauki kamar mandi dengan menghentak-hentakkan kakinya. Mengundang pusat perhatian seluruh orang yang juga menggunakan tempat itu. Saat hendak memasuki bilik toilet, tubuh Keysa langsung terpental hingga menubruk pintu di belakangnya. "Astaghfirullah." Keysa menegang hebat dengan kedua mata yang melotot seperti ingin keluar dari rongganya. Keringat dingin langsung membanjiri seluruh tubuhnya. Seluruh tubuh Keysa terasa lemas tak bertulang melihat sosok lain yang dengan santainya jongkok di atas kloset. Sosok itu mengeluarkan bau yang amis sekali. Darah segar bercampur nanah mengucur di seluruh kulit wajahnya yang terkelupas dan hancur. Sosok itu mulai menangis dan mengeluarkan rintihan seolah tahu jika Keysa bisa melihatnya. Tanpa pikir panjang, Keysa dengan cepat keluar dari areal toilet dengan menahan mual luar biasa yang mengaduk-aduk isi perutnya. Ia baru saja tersadarkan jika belum membaca doa sebelum menggunakan tempat itu. Keysa keluar dengan berlari sempoyongan, membuat orang-orang menerka penuh tanya. Terlebih melihat wajah Keysa yang pucat dengan wajah yang penuh keringat. Kesya menghentikan langkah di tepi lapangan. Tubuhnya terasa lemas tak bertulang. Keysa menjambak rambutnya sendiri yang keluar dari ikatan topi. Menggerang frustrasi kala makhluk tak kasatmata terus saja menghantuinya. Jikalau ia bisa menutup mata ketiganya ini, Keysa benar-benar ingin menutup selama-lamanya dan hidup dengan normal. Namun, semakin ia berusaha menutupnya, semakin kuat pula ia akan kemampuannya. Bahkan, kini Keysa sedikit kesulitan membedakan mana manusia dan mana hantu. Terlebih, ia mudah sekali lelah, jika energinya tak sengaja bertabrakan dengan mereka. "Dek, kamu sakit?" Suara halus seorang perempuan mengagetkan dirinya yang tengah mencak-mencak seperti orang kurang waras. Kepala Keysa mengangguk kecil sebagai jawaban. Menatap perempuan yang mengenakan jilbab putih beserta almamater yang sama seperti dirinya, membiarkan saja saat lengannya diamit perempuan itu untuk mengajaknya duduk di pinggir lapangan. "Kak, saya haus. Boleh minta minum?" pinta Keysa pada perempuan itu yang ia yakini sebagai salah satu panitia ospek setelah melihat id card yang mengalung di lehernya. Perempuan itu mengangguk dan mengambilkan botol mineral yang tersedia di tepi lapangan. "Terima kasih, Kak!" Keysa menerima botol mineral itu dengan lemas. Bahkan sedikit kesusahan membuka tutupnya. Setelah berhasil terbuka, bukannya diminum, air itu justru ia siramkan pada wajahnya. Mengabaikan jas alamamater, rok, beserta sepatunya yang basah akibat ulahnya. Hal itu pun langsung membuat perempuan tadi syok dan sedikit melangkah mundur agar tidak terkena cipratannya. "Memangnya, air di toilet mati, Dek?" Kepala Keysa menggeleng kecil menjawab pertanyaan itu. Ia mengembalikan botol mineral yang telah kosong pada perempuan itu. Dan anehnya, perempuan itu menerimanya. Keysa meringis kecil, lantas beranjak untuk mengikuti apel yang hendak dimulai dua menit lagi. °°° Satu minggu kemudian, selepas menjalani berbagai ospek dan pengkaderan yang menyita fisik dan psikisnya, Keysa kini resmi menjadi mahasiswa baru angkatan 2020. Sama sekali tidak berubah dari zaman sekolahnya. Keysa tetap menjadi seorang gadis yang pendiam dan misterius. Bahkan, dari tiga puluh lima jumlah teman kelasnya, Keysa hanya mengenali dua orang, yakni Sinta dan Nanda. Selebihnya, ia sudah lupa nama-nama temannya yang sok akrab waktu perkenalan dulu. Awal mula pertemuannya dengan Nanda dan Sinta cukup menjengkelkan di ingatan Keysa. Pasalnya, kedua orang itulah yang melihat kejadian memalukan yang menimpa dirinya. Di mana ia tidak sengaja tergelincir saat menuruni tangga. Mirisnya lagi, kepalanya mendarat sempurna pada tong sampah di bawah sana. Mereka berdua benar-benar saksi bisu atas peristiwa itu. Dan anehnya, keduanya kini menjadi teman dekatnya. Keysa memasuki kelas bersama Sinta dan Nanda. Kedua temannya memilih kursi barisan depan, sementara Keysa lebih tertarik pada kursi paling belakang, tempat paling ujung dekat jendela. Alibinya ia rabun dekat, padahal ia hanya ingin bisa tidur atau mengunyah permen karet agar tidak ketahuan dosen. Dasar Keysa! Di dalam kelas, Keysa langsung menelusupkan kepalanya di atas kedua tangannya yang bertumpu pada meja. Mengabaikan isi kelas yang mulai ramai terpadati orang. Keysa sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya. Bahkan ia memilih menyumpal kedua telinganya menggunakan earphone, membuat pertanda tersirat jika dirinya tidak mau diganggu siapapun. Hingga akhirnya ia tersadar dan harus mengangkat kepalanya saat dosen perempuan muda, dengan sepatu hak tinggi dan bibir yang terproles lipstik merah delima itu memasuki kelas, membuat seisi kelas langsung terdiam dan duduk tertib di bangkunya. Keysa menegapkan tubuhnya. Mengambil binder dan pena untuk fokus pada materi yang akan disampaikan dosen. Sepertinya, bagi dosen itu, hari pertama bukan hanya untuk perkenalan seperti yang terjadi si SMA dulu. Setelah mengabsen dan menanyakan domisili beserta asal sekolah, beliau langsung memberikan materi presentasi yang tersambung ke arah layar LCD. Semuanya berjalan lancar, hingga pada pertengahan kelas, Keysa sedikit terganggu oleh bayangan putih yang terlihat pada ujung ekor matanya. Keysa memilih tidak peduli, ia tetap memfokuskan diri untuk menulis. Lama kelamaan, Keysa mulai dibuat risih saat merasakan sesuatu yang menyundul-nyundul kepala belakangnya. "Apasih!" Keysa mengaduh dengan berbisik. Sebelah tangannya mengusap belakang kepalanya dengan sedikit kesal. Bukannya mendapat ketenangan, Keysa semakin dibuat tidak tenang kala serangan itu kian terasa mengganggunya. Hingga akhirnya, Keysa memilih untuk menoleh, melihat siapa yang berani mengusiknya seperti ini. "Astaghfirullah ...!" Gubrakk ... Dan satu teriakan keras itu diiringi kursi beserta bindernya yang terjatuh ke atas lantai. Membuat semua orang yang berada di dalam kelas berjingkat kaget. Terutama sang dosen yang langsung terlihat melotot dengan napas engap menyalang ke arah Keysa. Pelototan kesal dan juga marah dari semua orang kini tertuju pada Keysa. Keysa menggigit bibir bawahnya. kepalanya menunduk dalam dengan kedua tangan yang meremas sisi bajunya. "Ada apa?!" bentak sang dosen dengan wajah menyala-nyala. Keysa kian menundukkan kepalanya. Sama sekali tidak berani menatap dosennya. Jantung Kesya mendadak bekerja lebih cepat. Merasakan telapak tangannya yang begitu dingin. "Maaf, Bu ...." Hanya suara lirih yang keluar dari bibirnya yang bergetar. "Kaget, saya!" Bentakan itu kian terdengar lantang da menggetarkan kelas yang kini hening. "Kenapa kamu?!" Seluruh tubuh Keysa mulai bergetar, napasnya tercekat di tenggorokan. Dan keringat dingin mulai terasa membanjir di segala sisi. "Ad-ada, Pocong, Bu," jawab Keysa dengan tergagap. Semua orang melebarkan matanya. Suara grasak-grusuk mulai terdengar di telinga Keysa. "Pocong? Di mana?" teriak dosen yang tidak percaya. Keysa menelan ludahnya dengan susah payah. Tangan kanannya yang bergetar bukan main mulai bergerak dengan kaku untuk menunjuk tempat di mana sosok mengerikan itu berada. Kepala Keysa tetap menunduk dalam, sama sekali tidak berani untuk menoleh ke belakang lagi. Semua orang langsung mengarahkan pandang ke tempat yang ditunjuk Keysa. Ada yang terlihat tegang, ada yang terlihat tidak percaya, ada yang ketakutan, dan ada juga yang terlihat tidak peduli. "Omong kosong! Gak ada setan siang-siang gini! Keluar kamu dari kelas saya!" Keysa mendengus dengan mengembuskan napas panjang. Keysa pun mengangguk lemas menjawab perintah dari sang dosen. Dikeluarkan dari kelas dengan kasus seperti ini, bukan hal yang pertama bagi Keysa. Bahkan, Keysa lupa kejadian seperti ini sudah kali ke berapa menimpa dirinya. Begitu seringnya hingga ia tak sanggup untuk menghitungnya. Di setiap langkahnya keluar kelas, telinganya mendengar sayup-sayup bisikan aneh yang tak sepantasnya ia dengar. Keysa berjalan keluar dengan kedua bahu yang terasa lemas. Memilih duduk seorang diri pada deretan kursi besi yang tak jauh dari ruang kelasnya. Keysa memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Jantungnya masih terasa berdetak kencang. Sungguh memalukan, ini adalah kelas perdananya di kampus, namun Keysa langsung membuat keributan yang diluar nalar manusia. Keysa menahan diri untuk tidak menangis. Menggigit bibir bawahnya kuat saat cairan bening panas mulai melapisi kedua matanya. Lagi-lagi, Keysa kembali dikejutkan oleh kedatangan sosok pocong di kelas itu yang kini justru melayang tepat di depannya. Tubuh Keysa terperanjat hingga punggungnya menabrak kepala kursi dengan sangat keras. Jantung Keysa semakin berdetak tak keruan. "Si-siapa kamu?! Jangan ganggu aku!" bentak Keysa nyaris terisak. Keysa cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain, bibirnya siap untuk meramalkan sebuah doa. "Sorry, Bro. Gua gak bermaksud buat lo ketakutan." Keysa langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Merasakan hawa merinding yang langsung menyergap tubuhnya. Keysa menelan ludahnya susah payah saat sosok itu kembali mengeluarkan suaranya. "Gua juga gak bermaksud buat elu dikeluarin dari kelas. Maap ye! Jangan takut gua napa! Gua pan gak gigit." Keysa memberanikan diri untuk menoleh. Menatap hantu yang terbalut kain putih bak kepompong di sebelahnya. Keysa tidak bisa membunyikan ketakutannya saat sosok itu justru tersenyum lebar ke arahnya. Tapi anehnya, tidak ada energi negatif atau aura mengintimidasi dari sosok itu. Sepasang mata Keysa menelisik guratan wajah sosok itu yang putih bersih, serta balutan kainnya pun tak bernoda. Berbeda sekali dengan pocong yang pernah ia temui satu tahun yang lalu. Di mana pocong yang dulu memiliki wajah gosong, dengan sepasang mata mata melotot. Energinya sangat negatif dan langsung memberi sinyal tidak baik dalam benaknya. Akan tetapi, pocong di hadapannya ini berbeda. Energinya dingin dan tidak mengeluarkan bau busuk atau menyengat sama sekali. Detak jantung Keysa pun perlahan kembali normal. "Gua bukan setan yang perlu lo takuti, kok. Gua ini anaknya baek-baek, serius!" Pocong itu berbicara lagi. Sementara Keysa hanya terdiam di tempatnya. "Lo boleh gak percaya sama omongan gua. Gua juga mau ingetin, lo jangan mudah percaya sama omongan orang ye. Apalagi setan kayak gua. Karena sifat setan gak jauh beda sama manusia. Depannya baek, eh tau-taunya nusuk dari belakang. Tapi kalau gua anaknya baek kok, sumpah!" Pocong itu kembali nyengir. Menampakkan sederet giginya yang rapi dan putih. Keysa lantas menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal karena merasa aneh setelah dinasehati oleh sosok pocong. "Udah lama gua gak ketemu orang yang bisa liat gua. Jadi, pas gua tahu lo bisa lihat, gua langsung seneng. Bosen ah gua gak ada kawan manusia." "Hei! Terus kamu kira aku mau berkawan sama pocong?!" Kedua mata Keysa membulat sempurna. Keysa akhirnya berani membuka suaranya. Sementara hantu itu tertawa puas. "Pasti mau lah. Gua pan ganteng. Level gua lebih tinggi dari setan yang biasanya lo liat!" Keysa menaikkan satu alisnya melihat kepercayaan diri yang luar biasa itu. "Kenape? Gak percaye sama ane?" Keysa menahan tawanya kala mendengar logat pocong itu. "Mau liat sosok asli gua gak? Gua jamin, lo bakal nyesel udah takut sama gua." "Asal gak serem! Dan jangan liatin ke aku wujud kamu pas mati!" jawab Keysa. Pocong itu pun mengangguk. Dan dalam waktu kurang dari satu detik, pocong yang sempat ditakuti Keysa berubah menjadi sosok laki-laki muda. Usianya kira-kira tujuh belas tahun. Rambut hitamnya dipotong rapi seperti anak baik-baik. Bibir tipis bewarna merah muda alamai tersenyum hangat, manis sekali. Keysa sedikit tercengang dan terpukau dalam waktu beberapa saat. Dia terus menelisik setiap guratan wajah sosok itu. Bahkan jika dilihat-lihat, wajah sosok itu lebih halus dan mulus daripada wajahnya sendiri. Tidak ada satu pun jerawat yang singgah di kulit itu. Kulit wajahnya benar-benar halus, putih dan bersih secara alami tanpa adanya skincare. Keysa jadi iri sendiri melihatnya. "Kenapa lihatin gua kayak gitu? Gua ganteng kan?" Keysa dengan polosnya mengangguk t***l. Sementara sosok itu terlihat tersenyum geli. "Terus, kenapa kamu justru memilih bentuk kayak lontong? Sungguh, kamu terlihat lebih baik jika menampakkan wujud asli kamu," kata Keysa dibuat penasaran. "Ah, males, gua," jawab sosok itu dan kembali pada wujud pocong. "Para kuntilanak di sini pada agresif tahu! Gua didempetin mulu! Risih lah gua! Dikira gua cowok apaan, segala dibikin rebutan!" "Hahaha, bagus dong! Kamu jadi banyak ceweknya. Kamu keren jadinya!" "Pale lo keren?! Murah, iya!" Keysa langsung terbahak mendengar nada kesal dari sosok itu. Sedikit tidak percaya juga, ternyata sosok pocong ada yang good looking dan bersahabat sepert ini. "Terus, kenapa kamu masih di sini? Apa yang membuat kamu gak bisa nyebrang?" Raut wajah sosok itu mendadak berubah. Auranya pun mulai terasa sedikit panas. Namun sepertinya sosok itu dapat mengontrol suasana dan langsung kembali normal. "Ada sesuatu," jawabnya. “Sesuatu? Apa itu?” Keysa mengerutkan keningnya tidak mengerti. Namun tiba-tiba, siluet putih menyilaukan matanya, membuat Keysa langsung terpejam. Seperti berada di dalam kaset film lama, Keysa seolah dibawa ke suatu tempat. Dirinya kini seakan menonton sebuah video layar lebar. Cukup singkat, namun Keysa langsung merasakan kesedihan yang sesak di d**a. Ternyata, sosok pocong di depannya ini tengah memberikan kilas balik hidupnya di masa lalu. Singkat cerita, sosok itu dulunya sangat diagung-agungkan para wanita di sekolahnya. Dan salah satu dari para wanita itu, incaran temannya sendiri. Dan, sosok pocong ini mengaku bernama Cahyo. Pada waktu sore menjelang maghrib, Cahyo diajak ke suatu tempat, entah di mana itu. Yang Keysa lihat, dirinya kini ada di suatu lapangan luas dengan rumput lebat setinggi lutut orang dewasa. Cahyo digiring dengan lima teman laki-lakinya. Keysa mendengar, jika Cahyo hendak diberi hadiah mainan yang Cahyo idam-idamkan dari dulu. Namun, ternyata itu adalah tipu muslihat untuk menarik Cahyo ke tempat yang sepi, agar dapat leluasa menghabisi Cahyo. Cahyo dihajar habis-habisan. Anak itu hanya bisa menggeliat dengan tubuh yang meringkuk. Kedua tangannya melindungi belakang kepalanya yang ditendang puluhan kali. Cahyo dihajar tanpa tahu apa kesalahannya. Ingin sekali Cahyo melawan dan bertanya apa kesalahannya, namun ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya seakan remuk dan sakit untuk digerakkan. d**a Cahyo terlihat naik-turun karena sesak, seolah bongkahan batu besar menindih di atasnya. Napasnya kian pendek dengan pandangan mata yang mengabur. Saat tubuh Cahyo terkulai lemas, dan sekarat. Sebuah golok menghajar leher serta menghunus dadanya. Darah segar langsung menyembur pakaian dan orang-orang itu. Tubuh Cahyo menggeliat dan berujung kejang mengeluarkan erangan yang sangat memilukan di telinga. Keyakinan bahwa Cahyo akan mati, membuat kelima orang itu langsung mengangkat tubuh Cahyo, melempar jasad Cahyo pada sebuah lubang yang cukup dalam, seolah semua ini sudah mereka direncanakan. Selanjutnya, ke lima orang itu menimbun tubuh Cahyo dengan tanah dan bebatuan yang ada di sana. Cairan bening langsung membasahi pipi Keysa. Di hadapannya kini, terlihat sosok Cahyo saat terakhir kali mengembuskan napas. Tatapannya nanar. Wajahnya biru lebam dengan darah di mana-mana. Luka tusukan benda tajam di leher dan dadanya pun masih terlihat membekas. Seragam yang melekat di tubuhnya sudah tak terbentuk lagi. Semua robek di segala sisi dengan darah yang mengalir deras pada luka-lukanya. Keysa dibuat terpukul dan nelangsa atas cerita Cahyo. Bahkan dirinya sekarang dapat merasakan apa yang tengah dirasakan Cahyo. Rasa marah, sedih, sakit hati, kecewa dan dendam masih menyesakkan dadanya. Keysa benar-benar tidak menyangka, anak usia remaja dapat berbuat keji dan bahkan lebih rendah dari hewan nekat membunuh temannya sendiri. "Terima kasih sudah cerita." Keysa mengusap kedua pipinya. Bibirnya ia paksa untuk tersenyum, walaupun sangat terlihat getaran di sana. "Sekali lagi, jangan mudah percaya sama siapapun. Gua harap, cukup gua aja yang jadi korban." Keysa menggangguk lemah. Air matanya kembali mengalir. Namun dengan sekuat tenaga, ia menahan diri agar Cahyo tidak kembali terlarut dalam masa lalunya. "Jadi, ini yang membuat kamu masih stuck di sini?" Cahyo mengangguk. "Kehidupan selepas kematian gak semudah itu. Otak gua terus-terusan ingat kejadian itu. Sulit bagi gua ikhlas dan maafin mereka. Gua mikirin ibu, abah, dan adek gua di rumah. Gua bisa bayangin, gimana stressnya mereka nunggu gua yang gak pulang-pulang. Dan selepas gua mati, ingatan gua pendek. Gua bahkan gak tahu rumah gua ada di mana. Gua pengen banget peluk ibu. Gua cuma mau minta maaf sama ibu. Dan ternyata gua terlambat." Keysa seketika terdiam. Membiarkan air matanya kembali turun dengan deras. Saat ini juga, ia tiba-tiba teringat pada mamanya. Keysa bahkan tidak sanggup membayangkan jika ia berada di posisi Cahyo. Dan satu fakta lagi yang membuat Keysa kian syok dan terpukul. Cahyo kembali bercerita lewat mata batinnya, jika jasadnya itu sampai saat ini tidak ditemukan. Keysa dapat melihat saat itu Cahyo masih ada di tempatnya merenggang nyawa. Menunggu ada seseorang yang menemukan jasadnya dan menguburkannya dengan layak. Serta mengabari keluarganya jika dirinya telah tewas. Namun, hingga belasan tahun lamanya, ternyata tidak ada satupun orang yang datang ke tempat itu. Keysa mendengar kata, Ibu, pulang, dan rumah di tengah cerita Cahyo. d**a Keysa kian teramat sesak saat Cahyo membagi semua rasa dan emosi pada Keysa. Keysa dibuat iba dan cukup salut oleh sosok di hadapannya ini. Karena hantu yang masih memiliki emosi, marah, dendam, biasanya akan mengeluarkan aura negatif, dan terbelenggu akan emosinya. Namun, Cahyo berbeda. Keysa dapat merasakan bahwa Cahyo sebenarnya sudah ikhlas akan kematiannya. Akibat Cahyo masih di dunia ini ialah, masih merindukan ibu dan keluarganya. Dan juga beberapa emosi lain yang belum sepenuhnya lepas. "Aku bisa bantu kamu, nyebrang." Cahyo tersenyum simpul melihat wajah Keysa yang penuh air mata. "Terima kasih. Tapi gua cukup nunggu aja. Nanti ada yang bakal jemput gua untuk pulang. Lagian, lo gak tahu caranya bawa gue ke cahaya itu, kan?" Keysa termangu. Benar akan ucapan Cahyo. Dirinya pun tidak tahu di mana mengantar Cahyo menuju tempat yang lebih baik lagi. "Aku akan bantu kamu dengan doa." Sekali lagi Cahyo terenyum. Dirinya dibuat lebih tenang seusai bercerita pada Keysa. "Terima kasih lagi. Tapi, nama gua aslinya bukan Cahyo. "Iya aku tahu." Keysa tersenyum mengerti. "Gua pakek nama Cahyo karena artinya cahaya. Dengan nama itu, gua berharap segera ketemu sama cahaya itu. Udah enek gua di sini ngelihat tingkah laku kalian yang masih hidup. Setiap harinya bukannya lebih baek, malah gak ada adab!" Keysa mengangguk setuju. Membenarkan ucapan Cahyo. Dirinya sendiri yang masih hidup juga lelah melihat perbuatan manusia. Kejahatan di mana-mana. Selalu mengagung-agungkan pangkat dan harta. Dan bahkan masih banyak yang memuja setan hanya untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah. Saling memfitnah satu sama lain demi mendapat keuntungan, dan masih banyak lagi. Keysa sendiri tidak sanggup jika harus menyebutkan satu-satu. "Sekarang, lo tahu gua. Tahu cerita gua. Jadi, gua boleh kan berkawan sama lo?" "Hah?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN