"Boleh dong! Boleh, ya! Pan gua baik plus ganteng!"
Selepas Cahyo meminta izin untuk bisa berteman dengan Keysa, gadis itu langsung beranjak dari tempatnya sembari memijit pelipisnya yang sedikit pening. Karena Keysa tidak mau kejadian tujuh tahun yang lalu terulang lagi. Di mana dia sempat pernah berteman baik dengan sosok kuntilanak di belakang rumahnya, ternyata kuntilanak itu justru menghasut dirinya menjadi teman di alamnya. Dan saat itu Keysa benar-benar nyaris bunuh diri dengan melompat dari lantai dua. Untung saja ada mamanya yang tahu kejadian itu.
"Gua gak akan ganggu elu, kok! Gua juga gak bakal ikut lo ke mana-mana. Cuma di kampus ini aja. Boleh, lah! Sombong amat lu jadi orang!"
Keysa menahan langkahnya. Kedua matanya terpejam erat seraya kedua tangannya mulai terkepal. Keysa menahan napasnya. Sisi-sisi gigi gerahamnya saling bergesekan menahan rasa kesal luar biasa mendengar pocong yang cerewet itu.
"Oke, asal kamu gak ngerepotin aku!" jawab Keysa menyerah. Sementara Cahyo langsung bersorak senang.
Keysa menggangguk. Kembali melangkahkan kedua kakinya. Namun, lagi-lagi ia menahan langkahnya. Menoleh ke samping dan melihat raut Cahyo yang seakan bertanya, "Apa?" ke arahnya.
"Kok kamu jalannya gak loncat-loncat?" tanya Keysa sableng. Sementara Cahyo langsung berkata, "hah?" di tempatnya.
Dan sepertinya Cahyo cukup tanggap atas pertanyaan Keysa. Sosok itu menimpali, "Lo emang korban pilem, ye? Ngapain gua capek-capek loncat. Tinggal ngelayang, wusss aja! Lagian, gua pan bisa terbang."
"Terbang?" Keysa membeo tidak percaya.
"Iye lah. Lo pingin liat?" Keysa mengangguk penasaran.
"Oke. Lo pengen ke mana sekarang?"
"Kantin. Aku lapar."
Cahyo mengangguk paham. Ia langsung melayang dan terbang di hadapan Keysa. Seketika itu, mulut Keysa ternganga dengan kedua matanya yang terbelalak kaget. Luar biasa! Ini adalah kali perdananya melihat pocong terbang. Mirip sekali dengan kartun casper yang pernah ia tonton. Wah, keren sekali! Alias, serem anjir! Keysa langsung sedikit bergidik membayangkan sosok pocong selain Cahyo yang melayang-layang di udara. Bisa-bisa yang ada, dirinya langsung mati kutu di tempat.
Sesampainya di kantin, Keysa dapat langsung melihat keberadaan Cahyo yang melayang di atas meja dengan menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Bagaikan setan yang tengah berjoget kala mendengar musik dangdut. Keysa tertawa di belakang punggung tangannya. Ternyata, kemunculan Cahyo cukup dapat menjadi penghibur untuknya. Keysa segera mendekat menuju meja yang telah diboikot Cahyo.
"Kamu gak duduk?" tanya Keysa di dalam hati. Karena ia tidak mau dianggap gila jika terlihat berbicara sendiri dalam lingkungan yang cukup ramai.
"Percuma gua duduk. Mana bisa nyentuh kursi pantatt gua. Tetep melayang juga."
"Ah, bener juga!" batin Keysa. Ia lantas kembali beranjak untuk memesan makanan. Menelisik setiap bilik penjual berbagai makanan. Sepasang matanya langsung tertarik pada bilik yang ramai. Menu yang dijual pun berfariasi. Dan sepertinya, ia akan memesan nasi goreng saja.
"Jangan beli di situ!" Cahyo tiba-tiba saja telah berada di sampingnya. Dahi Keysa otomatis langsung berlipat mendengar larangan Cahyo. "Mereka pakai jin pelaris," jelas Cahyo yang membuat sepasang mata Keysa langsung membulat sempurna.
"Beli aja di tempat lain. Asal jangan di situ." Keysa mengangguk mengerti. Keysa menajamkan pengelihatanya. Dan tubuhnya langsung tersentak. Benar saja, ada satu sosok besar hitam yang ada di sana. Keysa menelan ludahnya susah payah. Sosok itu terlihat menyeramkan dan tidak bersahabat. Keysa pun langsung ngacir dari tempat itu menuju bilik lain, dan berakhir memesan pangsit basah dengan es teh manis.
Keysa kembali ke mejanya. Seraya menunggu makananya datang. Ia mengeluarkan binder yang ada di dalam tas ransel hitamnya. Membaca sekali lagi materi yang tadi di sampaikan dosen. Keysa menggigit pangkal penanya. Otaknya mencoba berpikir keras. Catatannya tidak lengkap dan sejujurnya ia kurang paham.
Cahyo melongok melihat kebingungan Keysa. kepalanya langsung manggut-manggut mengerti. "Oh, itu, bisa gua."
Kepala Keysa dengan cepat mendongak. Menatap Cahyo dengan tidak percaya. "Serius?"
"Hmm. Gua dah di kelas itu lama. Udah sampek bosen-bosen gua sama pelajaran itu. Dah ahli gua!" kata Cahyo pakai sombong.
Sepasang mata Keysa berbinar takjub. "Kalau gitu, kamu bisa jelasin ke aku?" Cahyo mengangguk mau. Ia pun dengan gamblang menjelaskan tentang materi itu. Dan Keysa sangat mudah menerima penjelasan dari Cahyo. Bahkan dirinya langsung paham intinya. Penyampaian materi dari Cahyo bahkan lebih mudah dimengerti daripada dosennya tadi.
"Ngerti kagak? Lo ngangguk-angguk mulu dari tadi," kata Cahyo jadi curiga.
"Ngertiiii! Terima kasih, Cahyo!" Keysa tersenyum senang. Setidaknya ia tak perlu khawatir lagi mengenai ketinggalan materi. Keysa kembali memasukkan bindernya ke dalam tas, lantas mulai melahap pangsitnya yang sudah datang lima menit lalu.
"Sip. Kalau lo bingung lagi, tinggal tanya gua aja. Kalau gua ngerti, pasti gua jelasin."
Keysa mengangguk sembari menyuapkan pangsit ke dalam mulutnya yang telah menggembung seperti balon. Anak itu terlihat kelaparan sekali. Dan tak sampai lima menit, Keysa telah menghabiskan mi pangsit dan setengah gelas es teh manis.
"Barbar juga ya cara makan lo! Gak ada kalem-kalemnya jadi cewek," ujar Cahyo. Sementara Keysa langsung mengibaskan tangan di udara tanda tidak peduli.
"Ngomong-ngomong, kamu pernah bertemu orang yang seperti aku sebelunya?" tanya Keysa penasaran.
"Lo satu-satunya cewek barbar yang pernah gua temui."
Sepasang mata Keysa langsung melotot kesal mendengar itu. "Bukan yang itu maksudku! Tapi, kamu pernah gak ketemu orang yang bisa melihat dan berkomunikasi sama kamu!" jelas Keysa pakai emosi.
"Oh ... pernah. Lo orang ke-tiga yang gua temui."
"Dikata aku pelakor apa! Seenak jidat bilang aku orang ke-tiga!" batin Keysa dengan mngerucutkan bibirnya.
"Keysa!" Suara seruan itu langsung membuat kepala Keysa dan Cahyo menoleh bebarengan. Terlihat, Sinta dan Nanda yang tengah berlarian kecil ke mejanya.
"Yaampun, kita cari di mana-mana, ternyata kamu nangkring sendirian di sini!" ucap Nanda yang langsung memosisikan diri duduk di sebelah Keysa. Sementara Sinta duduk di hadapannya.
"Hei! Kok gua gak dianggep!" protes Cahyo pada Nanda. Jelas saja Nanda tidak mendegarnya.
"Ini, Key, catetan aku. Kamu bisa salin." Sinta menyodorkan bindernya pada Keysa. Keysa pun menerimanya, lantas membaca isinya. Kepalanya manggut-manggut mengerti. Ternyata, penjelasan dari Cahyo seratus persen valid. Keysa pun mengembalikan kembali binder itu ke pemiliknya.
"Terima kasih. Tapi aku udah ngerti kok." Sinta terbelalak takjub. Sementara Keysa tersenyum simpul.
"Eh, btw, Key. Kamu tadi seriusan lihat ... pocong?" tanya Nanda sedikit berbisik. Namun masih terdengar jelas oleh Sinta dan dirinya. Keysa menatap kedua temannya yang sangat antusias dengan mencondongkan kepalanya untuk lebih mendekat ke arahnya.
"Kalau aku bilang serius, emang kalian percaya?" tanya Keysa sedikit sinis. Pasalnya, belum ada yang mempercayai kemampuannya ini. Selain dari sanak keluarga terdekatnya.
"Percaya!" seru Nanda dan Sinta bersamaan. Sementara Keysa menaikkan satu alisnya tanda ia tidak yakin.
"Really?" tanya Kesya tak yakin. Sementara kedua temannya langsung mengangguk mantap.
"Aku sering nonton cerita paranormal dan penelusuran," jelas Nanda.
"Aku juga suka lihat konten yang berbau horor dan mistik." Sinta menimpali.
Sepasang mata Keysa mengerjab. Tidak tahu harus berkata apa. Pasalnya, ini kali pertamanya Keysa memiliki teman yang percaya akan kemampuannya.
"Dia tadi ada di mana?" tanya Sinta luar bisa penasaran.
"Di belakang ku."
Sinta dan Nanda terlihat bernapas lega. "Untung saja aku memilih duduk di depan, Key!" ujar Sinta yang mendapat anggukan setuju dari Nanda.
"Pasti serem ya, Key!" Sepasang mata Nanda membulat. "Sejujurnya, hantu yang paling aku takuti itu, pocong!"
Keysa melirik Cahyo yang tengah menyimak pembicaraan mereka. "Tidak juga. Dia ... cukup manis."
"MANIS?!" Sinta dan Nanda membeo dengan membelalakkan sepasang matanya.
"Maksud kamu, manis?" tanya Sinta menggebu.
"Dia cowok apa cewek, emang?" timpal Nanda.
Kedua alis Keysa langsung terangkat. Kerutan kecil terlihat jelas di dahinya. "Lah, emang ada pocong cewek?"
"Ada! Kamu gak pernah lihat?"
Keysa menggeleng. "Emang kamu pernah lihat, Nan?"
"Kagak, sih." Nanda nyengir kuda. "Cuma pernah lihat di film aja."
Keysa mendengus sebal. Dia pun menoleh ke arah Cahyo. Dirinya jadi dibuat sedikit penasaran dari pertanyaan Nandan barusan. Keysa pun bertanya dalam hati, "Emang ada ya pocong cewek?"
"Ada. Kalau lo mau liat, langsung ae ke puhun pisang belakang kantin FE," jawab Cahyo.
Seketika, bibir Keysa membentuk huruf 'O'. Kepalanya mengangguk kecil tanda mengerti.
"Kata Cahyo, ada emang pocong cewek. Kalau kalian ingin lihat dia, kalian bisa ke belakang kantin FE, tepatnya di areal pohon pisang," jelas Keysa mengulang ucapan Cahyo untuk menjawab pertanyaan Nanda.
"Idih, kurang kerjaan bener aku nyari pocong!" tolak Nanda dengan cepat. "Tapi btw, siapa itu Cahyo?"
"Pocong yang aku temui di kelas," Jawab Keysa dengan entengnya.
"Hah! Serius? Emang dia sekarang ada di sini?!" kaget Nanda dengan mata yang nyaris copot dari tempatnya. Kepalanya celangak-celinguk melihat sekitarnya. Begitupun dengan Sinta yang melakukan hal yang sama. Kini, kedua temannya itu terlihat sangat gugup dan tidak tenang.
"Hmm." Keysa menganggukkan kepalanya. Hal itu langsung membuat kedua temannya kian panik.
"Di mana dia sekarang?!" tanya Sinta dengan wajah yang mulai berkeringat.
"Tepat di sebelah kiri kamu."
"Kyaaaaa!" Sinta meloncat dari tempatnya. Ia langsung berlari untuk duduk di sebelah Keysa. Wajah Sinta kali ini benar-benar pucat. Keysa sedikit meringis kala Sinta meremas lengannya dengan kuat. Bahkan Nanda tak kalah panik. Anak itu langsung mendempet ke arahnya dengan mencengkeram baju Keysa.
"Jangan dempet-dempet! Aku masih suka cowok!" Keysa mendorong kedua temannya agar menjauh dari tubuhnya. Namun, keduanya dengan cepat menggencet kembali tubuh Keysa.
"Aku jadi ragu kalau kalian pencinta genre horor." Keysa mencibir. Mencoba menepis tangan Sinta yang semakin menyakitinya.
"Suka kok!" protes Sinta. "tap-tapi, kalu setannya ada di debelah aku, beda lagi ceritanya!"
Keysa mendengus. Mengembuskan napas panjangnya. "Kalian gaperlu takut. Dia termasuk sosok yang gak perlu kalian takuti seperti ini," jelas Keysa mencoba bersabar. Mendengar itu, Nanda dan Sinta perlahan melepas cengkeramannya. sedikit menjauh dari Keysa dengan sepasang mata yang memicing tak percaya.
"Seriusan, dia gak nyeremin?" tanya Sinta meminta keyakinan.
"Hmm."
Sinta menyeka keringatnya. Sementara Nanda mencuri esteh di gelas Keysa yang isinya tinggal setengah, dan juga sensasi dinginnya telah hilang.
"Tadi kamu bilang dia ... manis? Tampankah?" tanya Nanda dengan mengembalikan gelas yang telah kosong.
"Hei! Mana ada pocong tampan?!" teriak Sinta dengan membulatkan matnya.
"Ada! Gua!!!" Cahyo terlihat memprotes dengan berteriak lengking persis di depan wajah Sinta. Tapi apa daya, sekencang apapun dia berteriak, Sinta tetap saja tidak akan bisa mendengar.
"Jangan ngomong gitu, Sin, ada yang protes," jelas Keysa yang langsung membuat Sinta mati kutu di tempatnya. Wajahnya kembali pucat pasi. Sinta sangat terlihat tengah menahan napasnya. Sontak saja, Keysa sedikit terkekeh. Sementara Nanda langsung melafalkan kata 'mampus' tanpa mengeluarkan suaranya.
"E-emang, dia tampan?" Sinta tergagap. Keringatnya kembali membasahi pelipis dan kedua tangannya. sedikit menggeser tubuhnya kembali untuk mendekat ke arah Keysa. menampakkan raut wajah yang menyiratkan permintaan tolong.
"Hmm, lumayan," jawab Keysa yang langsung dibalas Cahyo dengan senyum sombong.
"Wow! Daebak! Aku mau kenalan, dong!" Nanda histeris. Sementara Sinta langsung melotot.
"Apa-apaan!"
Noted : Setiap Keysa berbicara di dalam hati, atau ada kilasan flashback, atau juga ada kata asing contohnya dalam bahasa Inggris, maka sesuai pedoman KBBI, hal-hal seperti itu akan ditulis menggunakan garis miring.
Terima kasih buat yang sudah membaca?