Sedari tadi Nino menunggu Seira keluar dari kafe. Dia duduk persis di sebelah meja Amelia, membelakangi keduanya. Dan benar saja, setan dalam diri Seira mulai menguasai, kata-katanya sangat kasar. Dan Nino baru beranjak saat Seira menutup pembicaraannya. Sungguh, mulut Seira sangat durjana. Sialan! Dia bukan barang bekas! Nino mendengar pembicaraan Seira dan Amelia. Tadi, dirinya berkunjung ke rumah Mbaknya Amelia, dan Mbak Amel bilang, jika Amel sedang pergi ke kafe Buana untuk bertemu dengan Seira. Nino menarik pergelangan tangan Seira membuat Seira mengaduh, tapi setelah mengetahui siapa yang menariknya, Seira tersenyum senang. "Heh, lo nggak tahu diri banget sih, Ketan!" Nino pusing, dia tak terima disebut barang bekas.Lagi, mengingat itu, Nino ingin sekali menonjok Seira saat ini

