PART 4. AHN HAE YEON

1005 Kata
Berbeda dengan gaya hidup aktor tampan sebelumnya. Gadis dengan nama Ahn Hae Yeon ini memiliki realita kehidupan yang terbilang cukup sederhana. Hari sudah menunjukkan pukul 08.30. Gadis cantik dengan rambut ikal sepinggang itu masih terkapar di atas ranjang ditemani piyama beruang kesayangannya. Bed cover yang seharusnya menutupi tubuhnya, kini sudah berada dibawah telapak kaki. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya pun membuka pintu kamar dengan bruntal. Bola matanya menyebar memperhatikan setiap sudut ruangan. Terlihat jejeran baju kotor menggantung tak beraturan, beberapa gulungan poster yang beradu sapa dengan dinginnya lantai, hingga beauty case yang masih menganga di atas meja. “Astagaaaaa. Anak gadis macam apa yang masih bermimpi di jam segini?” teriak wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Ahn Hae Yeon itu. Ia menyeruak masuk kedalam dan melayangkan telapak tangan dengan keras pada punggung putrinya. Ppakkkk “Aaa sakit sakit. Apa yang ibu lakukan?” ringis Ahn Hae Yeon setengah sadar sembari memegangi punggungnya yang masih hangat dengan pukulan. “Kau masih bisa bertanya? Lihat. Sudah jam berapa sekarang? Apa kau tidak pergi bekerja hah?” ucap ibunya sembari menunjuk jam di atas meja. Matanya pun mengikuti arah petunjuk dan menemukan jam sudah lewat dari batas seharusnya ia terbangun. Spontan ia terduduk dari baringan. Menggenggam jam alarm dengan mata yang membulat. “Haishhhh. Aku lupa menyalakan alarm” ia segera melempar jam tersebut ke sembarang arah. Bangkit dengan tergesa-gesa, menarik handuk yang tergantung pada sandaran kursi, dan segera berlari menuju kamar mandi. Bibi Ahn yang melihat tingkah putri satu-satunya itu hanya bisa menggeleng kepala. Tak habis pikir dengan gaya hidup putri cantiknya yang berbeda dari kebanyakan wanita diluar sana. Ahn Hae Yeon. Gadis yang masa jayanya berakhir sejalan dengan kelulusan sekolah. Ketika masih berada di bangku sekolah, banyak dari para siswa yang tertarik padanya. Perangainya yang baik, lucu, dan juga mempesona membuat setiap tingkahnya selalu menjadi pusat perhatian. Setelah lulus, ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang perias. Selain menyukai hal yang berkaitan dengan make up, ia juga ingin bertemu dengan aktor favorite nya, yaitu Lee Jee Yeon. Lee Jee Yeon merupakan aktor tampan yang dikenal akan kebaikan hati dan keramahan yang dimilikinya kepada fans maupun orang disekitarnya. Jadi ia sangat berharap, karirnya akan membuatnya bisa sedikit lebih dekat dengan idolanya itu. “Sudah selesai?” tanya ayahnya yang bingung ketika melihat putrinya keluar kamar mandi setelah kurun waktu 5 menit. “Sudahhh” teriak Hae Yeon yang berlarian menuju kamarnya. “Secepat itu?” gumam ayahnya yang masih tidak menyangka. “Hahh kau tahu sendiri kan ia mandi hanya untuk mencuci pucuk rambutnya saja” sahut ibunya yang terlihat sangat sibuk menyiapkan hidangan keatas meja. Sudah terbiasa dengan pemandangan yang dilihatnya itu. “Kau benar” jawab ayahnya yang acuh tak acuh dan kemudian lanjut menyantap hidangan sarapannya. “Oh iya. Jae Hyeon-aa, bagaimana pekerjaanmu? Apa atasanmu masih sering menyusahkan mu? Ibu dengar-dengar dari teman ibu yang anaknya juga bekerja di sana, mereka kesusahan karena ada salah satu artisnya yang melakukan hal semaunya sendiri” cerita wanita paruh baya itu sembari menarik kursi untuk didudukinya. Ahn Jae Hyeon, merupakan kakak laki-laki dari Ahn Hae Yeon yang bekerja pada sebuah perusahaan hiburan berlabel STAMP Entertainment di bagian pemasaran dan pengembangan. “Hm. Hari ini pun aku harus lembur lagi untuk penyesuaian jadwal kegiatannya” jawab Jae Hyeon yang terus menyantap sarapannya dengan perlahan. “Jika masih seperti itu terus, kenapa kau tidak keluar saja dari pekerjaan itu dan cari pekerjaan lain yang lebih memudahkan mu?” “Tidak semudah itu ibu” “Kenapa? Kau setidaknya akan menemukan pekerjaan yang kau suka setelahnya, daripada harus bertahan di perusahaan seperti itu” “Eiyyy. Mencari pekerjaan tidak semudah itu ibu. Benar kan ayah?” sahut Hae Yeon yang baru keluar dari kamarnya dengan pakaian kasual yang rapi. Mendekat menuju meja makan dan segera mengambil posisi. “Hm benar” jawab Pak Ahn mengangguk. “Yakk kau pikir kakakmu ini seperti kamu yang malas mencari kerja?” timpal Buk Ahn. “Aku sudah memiliki pekerjaan, jadi untuk apa aku mencari lagi?” jawab Ahn Hae Yeon dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan. “Pekerjaan? Aku bahkan tidak tahu kegiatanmu itu bisa disebut pekerjaan atau tidak” lanjut Buk Ahn. Ia memang sudah lama menentang pekerjaan putrinya sebagai perias. Ia sudah melakukan berbagai cara agar putrinya bisa berubah pikiran dan mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Mengingat bahwa Hae Yeon merupakan gadis yang cerdas ketika disekolah, jadi sangat besar kemungkinan untuknya bisa mendapatkan pekerjaan diluar sana. Namun setelah melakukan beberapa kali percobaan, ibunya memilih untuk menyerah dan angkat tangan pada putrinya itu. Ahn Hae Yeon terlalu keras kepala untuk menjadi sosok putri yang penurut. “Ayah dengar ..itu memang sesuatu yang bisa disebut sebagai pekerjaan. Putri dari teman ayah pun memiliki pekerjaan yang sama dengan Hae Yeon” bela Pak Ahn yang membuatnya mendapatkan tatapan maut dari istrinya. Ia segera menunduk setelah itu. Dengan terburu-buru, Hae Yeon meneguk segelas air di atas meja dan mengalongi sebuah mini bag dilehernya. “Aku pergi dulu” pamitnya, kemudian ia bangkit dari duduk dengan tergesa-gesa. Berlari menuju rak sepatu dan segera keluar rumah untuk menuju tempat kerja dengan mengendarai sebuah sepeda motor berwarna merah muda. Ia memberinya nama Pinky. Motor kesayangan yang selalu menemani setiap perjalanannya. Ia pun sibuk merogoh sakunya untuk mengambil kunci, namun tak dapat menemukannya di manapun. Ia coba membuka mini bag yang bergantung dilehernya. Membuka dan mengacak isinya secara bruntal, namun tetap tak menemukannya. “Hahh kurasa aku meninggalkannya didalam” ucapnya sembari menepuk jidat kesal. Ia pun masuk kembali kedalam rumah dengan berlari. Semua orang rumah pun dibuat bingung ketika melihatnya yang berlarian masuk kembali kedalam kamar. “Sae Hyeon-aa ada apa?” tanya Buk Ahn dari meja makan. “Aku meninggalkan kunci motorku” jawab Hae Yeon dengan sedikit berteriak agar terdengar oleh ibunya. Setelah mendapatkan kunci motor yang ternyata ia letakkan di atas meja kamar, ia pun kembali berlarian menuju luar rumah. “Aku berangkat” teriak Hae Yeon sembari terus berlarian. Kemudian ia pun berangkat dengan lancar bersama Pinky menuju tempat kerja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN