Drama terbaru yang di perankan oleh Kang Min Hyuk kini bertakjub sejarah yang berlokasi di Seodongyo Theme Park. Butuh waktu 2 jam untuk sampai dilokasi, karena jarak yang jauh dari perkotaan. Mereka pun harus menginap selama 2 minggu sampai pengambilan scane sejarah selesai.
2 jam telah berlalu, akhirnya Kang Min Hyuk bersama dengan asistennya pun sampai dilokasi syuting. Begitu datang, Kang Min Hyuk disambut dengan begitu ramah, karena untuk membuatnya menerima peran dalam drama terbaru itu tidaklah mudah, sangat banyak jejeran producer yang ingin menariknya untuk bergabung ke dalam drama mereka. Maka dari itu, para staff diberi peringatan untuk mengerahkan yang terbaik agar aktor tampan berkepribadian es itu tetap nyaman di lokasi.
“Woahh. Bintang kita sudah datang. Oh iya, kau pasti lelah diperjalanan. Hei Hei kalian yang disana. Tunjukan ruang istirahat untuk artis kita ini. Cepattt” suara tegas Producer Lee memanggil staff yang berdiri di ujung pembatas untuk segera mendekat. Dengan berlarian kecil, salah satu staff wanita merapat tanpa banyak protes. Melayangkan senyum ramah karena perintah. Namun di dalam hati kecilnya, tidak ada unsur paksaan, hanya ada senang karena bisa melayani aktor tampan dengan nama teratas pada puncak tangga hiburan.
“Silahkan kearah sini” staff itu memberikan isyarat dengan mengayunkan tangan agar Kang Min Hyuk bisa mengikutinya menuju ruang istirahat. Ruangan disediakan secara terpisah untuk 3 aktor utama. Mengetahui akan artis tampan itu membenci kebisingan, maka mereka memberikan ruangan paling sudut untuknya. Ruangan yang paling luas dan ternyaman dari yang lain. Staff pun berjalan dari sisi samping Kang Min Hyuk, mengiringi perjalanan dan diikuti Dom Bi yang berjalan mengekori. Tampak begitu mungil dengan beban bawaan yang hampir memadai ukuran tubuhnya.
Sesampainya di depan ruang istirahat, staff menggeser pintu secara perlahan. Mempersilahkan lelaki tampan itu masuk guna melihat kondisi di dalam. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kaki jenjang itu mulai melangkah masuk. Sirat matanya seketika menyebar kesetiap sudut ruangan. Mendekripsikan pendapatnya melalui batin, hanya dia seorang yang tahu.
Penginapan itu masih lekat dengan gaya tradisional ramah lingkungan. Kebanyakan orang menyebutnya dengan nama Hanok, karena menjurus pada gaya bangunan abad ke-14 era Dinasti Joseon. Ruangan yang terbilang cukup luas, hangat, dan menarik. Single kamar dengan dua alas tidur futon lembut berwarna putih bermotif bunga sedap malam pada bagian tengah selimutnya. Menambah kesan keindahan pada alas tidur yang terlihat begitu nyaman. Penginapan ini juga sering ditempati oleh para kru film dan pengunjung wisata yang ingin menginap merasakan indahnya malam pada pesona bertabur gaya tradisional.
Selagi Kang Min Hyuk mengecek ruangan, Dom Bi hanya bisa menunggu di luar pintu. Jika saja artisnya tidak nyaman dan meminta mengganti ruangannya dengan yang lain. Yahh,,itu sering dilakukan. Semua harus sesuai dengan kemauan sang tuan.
Kang Min Hyuk dengan tatapan datarnya sibuk meniti berbagai bentuk desain interior ruangan tersebut. Tidak ada pergerakan lebih, tangannya ia kunci rapat di dalam saku celana rapi miliknya. Mungkin ia merasa tidak melakukan apapun saat ini, namun berbeda dengan lawan jenis yang sedang menatap bulat etensi menjulang tinggi di hadapannya kini. Aura coolin yang sudah menyatu dengan tubuh kekar menambah karisma menawan, mampu menarik hati gadis manapun yang melihatnya.
Sirah itu mengangguk pelan, pertanda bahwa ia menyukai ruangan yang telah disiapkan. Sinyal yang begitu kuat hingga membuat dua insan yang sedang menanti pun tersenyum lega. Tak ingin berlama-lama berada di luar, Dom Bi dengan cepat mengais bawaan begitu repot. Memasukkan tas beroda dan memulai pembongkaran untuk diletakkan di dalam lemari penyimpanan. Dengan senyum yang tak meluntur, staff wanita itu melangkah mendekat pada sisi pintu.
“Kang Min Hyuk-ssi. Apa kau menyukai kamarnya?” tanya staff memastikan kembali. Tak ingin meraup kesalahan yang bersangkutan dengan pria itu jika tidak ingin ditendang keluar dari pekerjaan.
“Hm” singkat, padat, dan jelas. Semua sudah khatam akan kepribadian yang dimilikinya. Maka dari itu, staff tidak berekspektasi tinggi akan mendapat beberapa jejeran kalimat dari seorang dengan nama Kang Min Hyuk. Bintang memang seperti itu. Entah bisa dikatakan misterius atau memang mempesona.
“Kalau begitu, aku pamit dulu. Jika memerlukan sesuatu, kau bisa menghubungi para staff lainnya” lanjutnya dengan merunduk singkat memberi hormat. Bersikap baik dan sopan adalah bagian dari pekerjaannya sekarang. Dan itu hanya ditekankan pada artis yang satu ini.
“Baik” jawaban yang sangat mudah dimengerti.
Merasa seperempat pekerjaan beres, staff wanita itu mulai menjajakan kakinya untuk meninggalkan ruangan. Tetapi sebelum benar-benar pergi, otaknya memutar tangkapan suara Produser Lee. Lalu kakinya mengambil satu langkah ke belakang.“Oh iya, aku ingin mengingatkan bahwa 1 jam lagi akan pengambilan take pertama tema kerajaan. Persiapannya akan dilakukan di depan” lanjut staff wanita tersebut. Hampir saja melupakan penekanan yang dibuat penguasa jagat produksi. Setelah melontarkan kata-kata pengingat, kali ini ia hanya mendapat anggukan kecil dari sirah gemilau itu.
Ketika hendak menggeser sisi kakinya, sudut matanya menangkap gambaran yang tidak mungkin bisa ia lewati begitu saja. Keraguan untuk menoleh sekali lagi membuat berdirinya sudah diambang keseimbangan yang gugur. Untungnya sisi kaki lain mampu memimpin dengan baik. Hingga matanya berhasil membulat, menjelajahi bidang luas yang terpampang nyata. Mulut menganga dengan berbagai kekaguman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sungguh pemandangan yang membuatnya luluh dalam sekali tatap.
Hingga tanpa sadar, bahwa lelaki semampai yang sedang ia pandangi itu perlahan berbalik. Menemukan dirinya yang menatap aneh tepat pada bagian tubuhnya. Tak ada satu pun orang yang akan berpikir jernih ketika melihat lawan jenis melotot penuh hasrat seperti itu.
“Kenapa masih disana?” tanya Kang Min Hyuk dengan wajah datarnya. Staff itu segera tersadar setelah mendapatkan pertanyaan mendadak. Matanya seketika terlempar ke berbagai arah. Mencoba mengembalikan tingkat kewarasan pada otaknya yang berpotensi sebagai incaran pukulan keras setelah ini.
“Ti tidak ada. Aku pamit” mulutnya mengucapkan kata yang sama sekali tidak sinkron dengan otaknya. Tak dapat mencari alasan dalam waktu singkat. Pribadi itu memilih pergi meninggalkan Kang Min Hyuk yang masih bingung akan sikap anehnya. Mendorong kakinya agar bisa mengambil langkah cepat. Demi apapun, ia benar-benar sangat malu akan kebodohan yang ia buat sendiri. ‘Apa aku wanita m***m hah? Mengapa mataku sangat jernih menatap tubuh sensualnya?’ ia bergumam sembari sibuk meratap peristiwa yang berputar berulang-ulang kali dipikiran. Kepalanya pun kini sudah menjadi korban berbagai bentuk kekerasan. Merutuki dirinya dengan berbagai kata-kata kasar yang lolos begitu saja dari bibir merahnya.
Hingga dimana ia teringat bahwa harus memberikan laporan pada Produser Lee akan tanggapan bintang terkasihnya. Kemudian dengan cepat merapat menuju lokasi.
“Produser” panggilnya lembut.
“Ada apa?” tanya Producer Lee yang masih sibuk mengoordinasi seluruh keperluan syuting tanpa menoleh sedikit pun.
“Tentang Kang Min Hyuk tadi, dia…” belum usai menyampaikan keseluruhan informasi, Produser Lee dengan cepat memutar tubuhnya kearah staff setelah mendengar nama Kang Min Hyuk. Begitu berpengaruhnya manusia dingin itu dalam pembuatan drama ini, hingga produser yang selalu bersikap keras itu menjadi luluh hanya dengan mendengar namanya.
“Oh iya. Bagaimana? Apa ada sesuatu yang dia tidak suka?” pertanyaan pertama yang selalu mengarah pada hal yang berbau negatif. Ia sangat khawatir jika pembuatan drama ini akan buruk, karena dia memiliki ekspektasi tinggi pada hasil dan biaya produksinya juga tidak main-main. Jika ini hancur, maka perusahaannya lah yang akan gulung tikar. Kang Min Hyuk dikenal sebagai aktor yang akan meraup keuntungan lebih di drama manapun yang ia bintangi. Maka dari itu produser mengerahkan semuanya untuk membuat Kang Min Hyuk tetap berada di dramanya dengan harapan mendapat keuntungan seperti yang sudah diperkirakan.
“Dia menyukai ruangan itu. Aku melihatnya mengangguk-anggukkan kepala segera setelah melihat ruangan” cerita yang nyata dengan sedikit melebih-lebihkan. Tidak terlalu buruk, pun dilakukan agar suasana hati Producer Lee membaik pasca lelah mengatur set syuting.
“Benarkah? Oke nice. Kerja yang bagus” puji Producer Lee sembari menepuk pelan bahu staff. Tak ada seorang pun yang tidak menyukai pujian, ditambah lagi di dalam dunia pekerjaan. Entah sekecil apapun itu, pasti akan terasa sangat menyenangkan. Lalu seperti mendapat sebuah berkah keberuntungan, semua pekerjaan yang sebelumnya membuat frustasi, tiba-tiba bisa teratasi dengan begitu lancar karena suasana hati sedang membaik. Hingga tiba-tiba salah satu staff datang mendekat dengan larian kilat.
“Produser Lee, staff rias baru saja menghubungiku, katanya dia tidak bisa datang karena sedang menjalani rawat inap di rumah sakit. Dia sudah mengirim penggantinya, namun sampai sekarang masih belum sampai” jelasnya dengan nafas yang masih terengah-engah. Sukses membuat Produser Lee mengeratkan rahangnya tajam. Menutup obsidian menahan amarah yang begitu ingin melonjak dari pikirannya sekarang. Mencoba menarik nafas panjang agar kemarahannya tidak menjadi bencana. Namun ternyata usaha Produser Lee tidak kuat untuk menahan semburan emosi yang sudah memaksa keluar sedari tadi.
"Yakk, apa yang kau tunggu, hubungi dia sekarang” suara yang begitu lantang berhasil lolos dari bibir kecokelatan itu. Membuat semua tuju pandang mengarah pada satu objek. Namun tidak membuat pergerakan mereka berhenti barang sedetik pun. Naif? Bahkan karakter seperti itu tidak berlaku disini. Semburan amarah akan tetap tertuju pada sasaran yang tidak memiliki jiwa aktif.
“Baik” tegas sang staff pemberi kabar. Berjalan menjauh dari keramaian untuk mencoba terhubung melalui jaringan telepon dengan staff rias pengganti. Menunggu dengan iringan dering telepon yang berputar ria di layar benda persegi panjang itu.
Khawatirnya mulai menjadi-jadi. Karena percobaan pertamanya gagal, tidak ada yang menjawab panggilan darinya. Tak ingin menyerah, karena jika melakukannya semua terteter dengan kegilaan yang akan melanda. Maka melakukan percobaan kedua adalah suatu keharusan. Dering telepon kembali mengalun indah. Hingga akhirnya semua terbayar dengan keterangan terhubung pada layar. Dengan cepat ia mengarahkan speaker menuju rungu yang sedari tadi menunggu.
“Halo. Ini dengan team produser STAMP Entertainment. Apakah ini dengan…” belum usai staff mengutarakan emosi yang tertahan karena menjadi sasaran empuk bagi produser Lee, suara di seberang sana lebih dulu menyela dengan gusarnya.
“Benar. Saya sedang diperjalanan untuk menuju lokasi. Ma maafkan saya. Saya akan segera sampai. Sampai ketemu nanti mbak…tidak..maksudku nona staff team STAMP Entertaiment” ternyata di seberang tidak kalah sibuk. Begitu berisik hingga membuat staff tersebut hanya memandangi layar bingung. Tak dapat mengucapkan satu patah kata pun karena pihak seberang selalu memotong pembicaraan.
“Apa dia sedang di dalam pesawat? Hembusan angin terdengar sangat keras” gumamnya lagi.
“Yakkkk. Kau bilang mendapat level SIM di atas rata-rata. Sekarang apa? Siput sudah berlari jauh di depan sana” bahkan setelah mengucapkan salam perpisahan, sambungan telepon masih belum terputus. Keributan terus berlanjut dan membuat staff sudah tidak mampu menahan kebisingan. Segera menutup sambungan telepon secara sepihak.
Bagian terpentingnya sudah ia dapatkan, bahwa staff pengganti sudah berada di tengah perjalanan. Sisanya bahwa ia harus meniti mental kembali untuk memberi pengertian pada produser Lee. Semoga emosionalnya sudah mereda setelah ditemui sekali lagi.
***