bc

Dinodai Suami (Gagal Cerai)

book_age18+
221
IKUTI
1.8K
BACA
contract marriage
HE
forced
heir/heiress
sweet
polygamy
like
intro-logo
Uraian

"Seandainya engkau tahu, jika wanita malam itu adalah aku, istrimu!"

Aku dijebak harus melayani seorang pria di sebuah kamar hotel. Namun, siapa sangka, jika pria itu adalah suamiku sendiri.

Bagaimana nasibku setelahnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Ternoda (Malam Pertama)
"Aduh!" pekikku kala seseorang mendorong tubuh ini hingga terjerembab masuk ke sebuah kamar hotel. "Sial!" umpatku mencoba bangkit setelah terjatuh. Namun, sama sekali tak pernah aku sangka. Sebuah tangan menyentuh pundak. Terasa hangat dan itu membuatku merinding. Seketika tangan ini ditarik begitu saja olehnya. "Arshaka!" Aku terbelalak saat tahu siapa pria yang kini menarik tubuhku hingga kami terjatuh di atas ranjang yang sama. Apalagi, kini tubuhnya telah menindihku. Mengunci tubuhku hingga kesulitan bergerak. Bahkan, dengan brutal ia mencivm bibirku. Aku merasa ada yang tidak beres dengannya. Mungkinkah dia minum obat perangsang? Apakah kami dijebak? Tetapi siapa yang menjebak? Aku berusaha mendorong tubuhnya, tetapi gagal dan tetap berada di bawah kukungannya, tidak bisa pergerakan sama sekali. Bahkan, kini ia malah semakin berbuat nekat. "Diam!" sentaknya tak peduli denganku yang kini meringis kesakitan. Tanganku dicengkeram kuat oleh Saka, berada di bawah kukungannya. Matanya menyorot tajam, senyum seringai terukir dari kedua sudut bibirnya sebelum ia merenggut kesucianku. "Nikmati saja, malam ini kita bersenang-senang!" *** Aku adalah istri Arshaka Abraham. Pernikahan terjadi karena aku dijadikan jaminan oleh Bibiku demi kelanjutan perusahaan almarhum mama dan papa. Dengan alasan itu, aku dipaksa menikah dengan anak dari penanam saham terbesar di perusahan kami. Malam ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan pria itu. Kami menikah saat terjadi pandemi virus covid. Menikah secara virtual. Hingga kini pernikahan kami genap satu tahun kurang dua hari. Setelah itu, kami bercerai dan aku akan terbebas dari ikatan pernikahan ini sesuai dengan kontrak yang telah disepakati sebelum pra nikah. Aku kembali bebas seperti dulu lagi. Namun, setelah kejadian malam ini. Mungkinkah aku akan bisa bebas dari cengkraman Saka? Pria angkuh, dingin serta egois itu! Lelah setelah bermain di atas ranjang. Mataku terasa mengantuk hingga aku tak sadar setelahnya. Esok hari, mata mengerjap dan sosok Saka masih ada di sampingku dengan mata terpejam. Aku mencoba bergerak, tetapi aku merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana. "Seharusnya melakukan untuk yang pertama kali tak sesakit ini," rintihku mencoba bangkit dari ranjang. "Aduh, ternyata Saka melakukan dengan sangat kasar. Buktinya untuk jalan saja susah begini. Tetapi aku harus bisa. Jangan sampai saat Saka bangun, aku masih ada di sini." Dengan cepat aku memakai baju dan segera pergi. Namun sayang, baru juga beberapa langkah. Mata Saka terbuka. Alhasil Saka tahu siapa wanita yang semalam tidur dengannya. "Mau kemana kau?" tanyanya serak dengan kesadaran belum sepenuhnya. Tangannya mengambil dompet di atas nakas. Mengeluarkan kartu hitam dan melempar ke arahku. "Ambillah untuk jasa tadi malam," ketusnya memandang rendah padaku. "Aku tak butuh uangmu! Karena aku ini ...." Belom sempat aku menjawab. Ponsel Saka berdering dan dia pun segera mengangkatnya. "Aku akan segera ceraikan dia. Aku tidak pernah mencintainya sama sekali, bahkan aku juga tidak mengenal dia. Wanita rendahkan seperti dia tak pantas menjadi istriku," ucap Saka di sambungan telepon. Entah siapa yang menelpon, aku tak tahu. Baguslah kalau dia menceraikan aku. Anggap saja malam tadi tak pernah terjadi apa pun antara aku dan Saka. Aku pergi meninggalkan kamar dan juga kartu yang diberikan oleh Saka saat dia sibuk menelpon. Aku tak butuh uang itu. Selesai dari pernikahan saja sudah bersyukur. Memesan taksi dan kembali ke rumah adalah tujuan utamaku. Beristirahat dan tidur seharian sepertinya akan membuat tubuhku menjadi lebih baik. Tiba di rumah pagi hari dengan pakaian yang berantakan dan rambut awut-awutan karena aku memang tidak sempat menyisir apalagi cuci muka. Biarin aja bau iler. "Sudah pulang," sapa Bibi dengan wajah sumringah. "Sudah," balasku acuh. "Dapat uang berapa dari Saka?" tanyanya. Sontak hal itu membuatku kaget. Ternyata semalam yang menjebak aku adalah nenek lampir ini. Kurang ajar memang! "Aku tidak menerima uangnya," sahutku. Plak! "Dasar bodoh! Aku menjebak biar kamu dapat uang banyak. Tapi malah kamu sia-siakan!" hardiknya tak terima jika aku tak mengambil uang pemberian Saka. Tak masalah jika hanya ditampar. Aku sudah terbiasa sejak kedua orang tuaku meninggal. Aku selalu mendapatkan perlakuan buruk dari bibiku. "Bukankah Bibi sudah dapat banyak uang dari pernikahan aku? Selama ini aku selalu dijadikan kambing hitam untuk memeras harta keluarga Abraham. Bibi pikir aku tidak tahu kelakuan kalian selama ini!" "Itu juga untuk kemajuan perusahaan! Nanti juga hasilnya buat kamu," balasnya tak mau kalah. "Oh ya!" Mataku memandangnya nyalang. "Dengan membalik nama perusahaan menjadi atas nama Rihana! Begitu?" Seketika bibir Bibi terkatup. Untung saja aku tidak pernah mau tanda tangan apa pun yang berasal darinya. Aku sudah tahu tabiat asli wanita itu seperti apa. Wanita itu akan mengambil alih semua data perusahaan membalik nama atas dirinya. Dasar wanita bvsuk! Aku pergi begitu saja meninggalkan Bibi. Daripada meladeni wanita lampir itu, mending pergi tidur. Rasanya masih sangat perih sekali di bawah sana. Semoga lekas membaik setelah beristirahat. "Ingat Nilam! Kalau bukan karena aku, kamu pasti sudah luntang-lantung di jalan!" teriaknya dan aku tak peduli. Membiarkan wanita itu mengoceh hingga mulutnya berbusa, sekalian aja nyuci rumah. Mayan lah. Suara ponsel berdering membuatku kian jengkel. Tidak bisakah mengganggu aku besok saja. Hari ini sedang ingin beristirahat! Gegas aku menggeser layar dan menerima telepon karena suara dering tak kunjung berhenti. "Ada apa? Jangan ganggu aku! Telepon besok saja!" Seketika mata membelalak saat mendengar suara jawaban di seberang telepon. Sial! "Nilam, kamu kenapa? Suaramu meninggi? Ada masalah?" tanya Mami mertuaku. Ah sial memang! Aku pikir tadi orang kantor. Malu sendiri kalau begini. Terdengar sangat tidak sopan. "Aduh maaf, aku baru saja bangun tidur, Mam. Ada apa?" tanyaku berubah ramah. Tentu aku tidak mungkin bilang jika semalam aku dan Saka baru saja melakukan malam pertama karena dijebak oleh Bibi. Terdengar mustahil dan akan membuat Mami mengira jika aku sengaja menjebak demi menghindari perceraian. "Oh begitu. Besok datang kemari. Kita bahas soal pernikahan kalian, sesuai dengan kontrak," ujarnya sebelum mengakhiri panggilan. "Baik, Mam," balasku lalu mengakhiri panggilan. Nasih malang! Itulah aku! Seandainya Mama dan Papa masih hidup, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Pernikahan aku dan Saka tak akan pernah terjalin. Aku harap, ketika aku datang ke kediaman Mami besok, tak ada sosok Saka di sana. Jika sampai itu terjadi, mati sudah riwayatku. Saka pasti akan sangat jijik terhadapku, di mana akulah wanita yang telah melayaninya di hotel. Namun, ....

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook