Selesai menelpon. Aku masuk ke dalam kamar. Menonaktifkan ponsel agar bisa beristirahat dengan tenang.
Aktivitas semalam membuatku benar-benar lelah. Badan terasa remuk, apalagi bagian bawah sana masih sedikit ngilu.
Ini semua gara-gara Bibi laknat itu! Demi uang dia selalu saja mengorbankan aku.
Di luar kamar, Bibi berkali-kali mengetuk pintu. Aku tetap acuh dan tak peduli. Dasar wanita ular! Gara-gara dia aku kehilangan keperaw4nan bersama suamiku sendiri. Sial!
"Nilam! Buka! Bibi mau bicara!" Suaranya terdengar lantang.
Gegas kututup telinga menggunakan bantal supaya bisa terlelap. Biarkan saja Si Mak Lampir itu terus mengetuk pintu dan bicara sampai bibirnya lecet. Sekalian aja kena sariawan, biar kapok!
***
"Uhhh."
Mata terbuka setelah tertidur entah berapa jam. Suara Bibi juga sudah tidak terdengar lagi.
Baguslah, aku bisa tenang sesaat ketika Mak Rempong itu pergi.
Kruk!
Kruk!
Perutku berbunyi, rasa melilit menyelimuti. Kutengok jam di dinding. Ternyata sudah sore. Pantas saja penghuni perut pada demo.
Seharian ini aku belum makan sama sekali. Sejak semalam perutku kosong dan kini minta diisi.
Gegas aku beranjak dari tempat tidur. Kemudian turun ke dapur untuk mencari makan. Sayang. Tak ada makanan sama sekali di meja. Apa Bibi sengaja tidak menyediakan makanan? Huh! Menyebalkan!
Terpaksa aku harus keluar rumah untuk mencari makan. Saat aku akan pergi ke restoran di seberang jalan. Sialnya, ada sosok Saka di sana bersama dengan beberapa pria.
Apes banget nasibku. Mau makan aja susah gini.
Dan kalau pun aku tetap memaksa datang ke sana untuk makan. Pasti Saka akan mengenaliku. Sial!
Aku harus apa sekarang?
Jika memaksa ke sana. Saka pasti akan akan memandangku rendah. Sebab, baginya aku adalah wanita penghibur dan bukan istrinya.
Alhasil, aku mencari makan di tempat lain yang jauh dari rumah. Walaupun perut sudah sangat keroncongan. Aku harus mencari tempat makan lagi agar terhindar dari Saka.
Setelah berjalan menempuh jarak sekitar 10 meter, aku berhenti di depan restoran tidak jauh dari resto yang pertama tadi. Segera aku turun untuk mengisi perut.
Kuhembuskan napas kasar seraya mengusap perut. "Sabar ya, habis ini kamu terisi," kataku lalu memasuki restoran.
Tak disangka, ternyata bestie aku ada di sana. Kebetulan dia juga menoleh saat aku masuk.
Tangannya melambai dan aku pun langsung mendekat padanya. Duduk tepat di depannya.
"Idih, mukanya kayak baju belum disetrika aja," goda Vika, saat aku baru saja bersiap duduk.
"Huft! Lagi kesel aku." Hembusan napas kasar bersama dengan jatuhnya bobotku di atas kursi.
"Ada apa lagi sih?" tanyanya memandangku serius. Udah kayak mau diintrogasi aja.
"Kamu tahu kan kalau pernikahan kontrakku akan berakhir," balasku dengan helaan napas kesal.
Wanita itu mengangguk dan menatap wajahku lebih dalam.
"Lalu?" tanyanya.
"Bibiku malah berbuat gila!"
"Berbuat gila gimana?" tanyanya penasaran.
"Aku disuruh ke hotel menemui klien. Dan kau tahu saat aku melewati sebuah lorong kamar. Seseorang mendorongku secara sengaja hingga aku masuk kamar di mana ada Saka sosok di sana," jelasku dan Vika semakin antusias mendengar.
"Terus?" Wajah Vika dimajukan saking penasarannya.
"Ternyata Bibi sengaja menjebakku bersama Saka demi uang. Dan kau tahu?"
Wajah Vika semakin tegang mendengarkan cerita selanjutnya. "Apa selanjutnya?"
"Malam tadi kami benar-benar melakukan penyatuan di kamar hotel."
"Bagus dong, itu artinya kamu tidak akan bercerai dengannya. Selamanya kamu akan menjadi nyonya Saka," sahutnya membuatku kecewa karena sudah curhat dengannya.
"Kamu dan Bibi sama saja," balasku mencebikkan bibir.
"Loh, benar bukan?"
"Tidak sama sekali. Justru tadi malam Saka menganggap aku w************n. Wanita penjual diri. Kau tahu pagi tadi?"
Vika kembali menggeleng.
"Dia melempar kartu hitam padaku sebagai bayaran semalam!" Aku mengembuskan napas kasar untuk kesekian kalinya.
"Kamu terima?" tanyanya.
"Tentu tidak. Aku tidak serendah itu," balasku kecewa dengan sikap Saka yang memang sedari awal telah menganggapku wanita rendahan karena telah menerima kontrak pernikahan itu. Apalagi Bibi sering minta uang pada kedua orang tua Saka dengan mengatasnamakan aku.
Bagi keluarga Abraham. Aku sangatlah rendah. Hanya wanita bayaran saja.
"Jika aku menerima uang itu, maka aku akan semakin terlihat hina di matanya," imbuhku dan kali ini Vika merasa iba padaku.
"Yang sabar ya, semoga kamu baik-baik saja. Aku akan mendukung apa pun keputusan kamu. Jika lebih baik bercerai. Bercerai lah. Masih ada pria yang selalu setia menunggumu," balasnya sembari menggodaku.
"Siapa?"
"Aditya Zavir," jawabnya tergelak.
Aku langsung menggetok kepala Vika. Kalau bicara asal njeplak aja tuh anak. Dasar mak rempong.
"Aditya Si boneng? Ogah!"
"Boneng, boneng! Kemarin aku ketemu dia sudah berubah cuy. Gantenge pwoll! Aku jamin kamu bakal kesemsem sama dia."
"Masak sih? Aku nggak percaya. Pasti kamu salah lihat orang kali."
"Beneran Nilam, dia keren sekarang. Sangat keren!" Vika memuji sampai ke awan sosok Aditya.
"Masak? Kamu ada fotonya? Kalau iya aku baru percaya," jawabku butuh bukti dan Vika menggeleng.
"Aku akan percaya kalau ada bukti, kalau cuma ucapan sih bisa aja kamu bohong," balasku.
"Beneran, Nilam, dia ganteng banget sekarang. Bentar deh aku carikan di akun sosmed," kata Vika lalu sibuk dengan gadgetnya.
Makanan yang aku pesan sudah datang. Gegas aku segera makan karena memang sudah sangat lapar hingga lupa dengan foto Aditya.
"Doyan apa lapar sih? Kayak nggak makan setahun aja!" cibir Vika melihatku makan sudah seperti kesetanan. Tiba-tiba saja itu anak berhenti berkutat dengan ponsel dan malah memperhatikan aku makan.
"Sejak semalam nggak makan. Makanya sekarang aku puas-puasin buat makan," balasku setelah meneguk air dan bersiap kembali menyuap.
"Kek gembel aja. Apa jangan-jangan keenakan sampai lupa makan!"
Bruttt!
Wajah Vika terkena semburan dari mulutku. Aku tertawa dan bukan merasa iba. Siapa suruh orang lagi makan kok diganggu.
"Sialan kau! Temen sendiri disembur!" Amuknya sembari mengusap-usap wajah. Membersihkan sisa-sisa semburan makanan dari mulutku.
Aku langsung minum sebelum menjawab. Takut keselek. Kan berabe.
"Habisnya kamu sih. Kalau bicara ngaco," sahutku dan Vika pun langsung bangkit.
"Tau ah! Teman nggak berakhlak!" geramnya, "Aku nggak jadi makan. Jijik duluan!" Vika langsung ngibrit meninggalkan makanannya begitu saja.
"Aku pulang, huek! Bayarin tuh makananku!" serunya, setelah menjauh dari meja makan.
Wajahnya seketika memucat. Sambil terus mual-mual.
Kayaknya hari ini adalah hasil kesialan bagiku. Udah mau makan aja susah, mana sekarang harus bayar makanan Vika. Tombok udah!
Selesai makan, aku langsung membayar dobel. Nasib dah!
Sialnya lagi. Saat aku akan pulang. Ban mobil pakai bocor segala lagi. Sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak ramah padaku.
"Mau aku antar pulang?"
Suara serak dan besar itu menganggetkanku.