Gawat

1000 Kata
Aku masih bergeming, tidak menjawab ataupun menoleh. "Hei, mau aku antar pulang?" tawarnya lagi dan kini tangannya menyentuh pundakku. Terpaksa aku menoleh. Awalnya aku pikir dia adalah Saka. Ternyata bukan. Lalu siapa dia? Aku tidak kenal. "Em ...." "Aku Aditya Zavir, kamu lupa ya." Pria itu tersenyum setelah menyebut namanya, sedangkan aku malah bengong. "Nilam Cahaya, aku Aditya Zavir. Si boneng," imbuhnya karena aku masih shock. Bagaimana tidak kaget coba. Wajahnya sangat jauh berbeda. Tampan. Sekitar 10 12 sama Saka. Kalau Saka, dia memang tampan dan rupawan. Sayangnya dia pria dingin dan angkuh. Kalau Aditya, dia memang baik. "Aduh lama nggak ketemu, Dit. Maaf," balasku canggung. "Nggak apa-apa, ayo aku antar pulang." Tanpa menunggu persetujuan. Aditya menggandeng tanganku masuk ke dalam mobilnya. Pria itu mengantarkan aku pulang. "Nanti mobilnya biar diambil bengkel. Besok pagi akan diantarkan ke rumah oleh karyawanku," ujarnya setelah kami masuk ke dalam mobil. "Terima kasih." Hanya itu yang keluar dari mulutku. "Sama-sama. Oh ya, lama nggak ketemu, makin cantik aja," godanya seraya menyalakan mesin mobil. Aku hanya tersenyum. Sadar diri jika aku sudah bukan lagi gadis seperti dulu. Jika tahu aku sudah menikah dan bakal jadi janda, pasti Aditya akan ilfil. "Oh iya, besok malam di acara reunian. Apa kamu mau hadir?" tanyanya memecah keheningan. "Entahlah, aku tidak memiliki pasangan," jawabku, di mana dalam acara mengharuskan membawa pasangan. Jika sampai aku tidak membawa pasangan, yang ada Si julid akan mengejek dan menghinaku. "Kalau datang sama aku gimana?" tanyanya dan aku pun tertawa. "Kok malah ketawa sih. Gimana? Mau nggak datang sama aku?" tawarnya lagi. "Nanti pacar kamu marah, aku takut diamuk." "Aku nggak punya pacar," jawabnya. Seketika tawaku terhenti. Masak lelaki setampan dia tidak punya pacar sih. Kan aneh. "Gimana? Mau nggak?" tanyanya setelah mobil berhenti di depan rumah. "Besok lah, aku pikir-pikir dulu," jawabku seraya melepaskan tali pengaman. "Ya udah kalau mau, besok hubungi nomorku. Aku siap menjemput Tuan Putri." Aditya menyodorkan kartu nama dan aku menerimanya. Memang, sejak dia melanjutkan S1 ke luar negeri. Kami tidak lagi berhubungan. Bahkan, bisa dikatakan lost contact. "Oke, terima kasih untuk malam ini," balasku setelah turun dari mobil. "Jangan lupa hubungi aku ya. Besok malam aku jemput. Kita bikin kejutan buat Putri, Si julid. Kalau kamu tidak datang, dia akan semakin mengejekmu!" Benar juga. Kalau aku tidak datang, dia pasti akan mengejekku. "Ok, besok aku akan datang. Aku tunggu kamu menjemput nanti malam." Tanpa pikir panjang, aku menerima tawaran itu. Toh besok pagi aku dan Saka sudah bukan lagi suami istri setelah aku tanda tangan penyelesaian kontrak. Setibanya di rumah, Bibi sudah menungguku. Tumben. "Nilam, duduk sini." Tangannya menepuk sofa di sampingnya. Ada yang tidak beres nih. Dari wajahnya terlihat jelas jika dia ada maunya. "Ada apa?" tanyaku ketus. "Besok adalah hari perceraian kalian. Bibi mohon kamu menolak perceraian itu. Bibi sudah ada bukti biar kalian tidak bercerai." Wanita itu memberikan beberapa foto saat aku dan Saka tidur dalam satu selimut. Benar bukan. Jika wanita itu baik saat ada maunya. Dasar ular! Dan ternyata dia sudah merencanakan malam kemarin sedemikian rupa. Dari jebakan menaruh obat di dalam minuman Saka hingga mengambil potret kami berdua. Bodohnya aku tidak curiga sama sekali, hingga akhirnya aku terjebak malam kemarin. Sial! "Aku tidak mau. Bibi aja sendiri yang melakukan," sahutku lalu bangkit dan berlenggang pergi. Terserah apa yang mau dia lakukan. Aku tidak peduli. Cukup sudah aku pusing memikirkan nasibku nanti. Aku tidak mau ditambah beban pikiran dengan foto-foto tak bermoral itu. "Jika kamu yang memberikan pada nyonya Chintya, pasti dia tidak akan menggugat kamu. Kalau Bibi yang melakukan, pasti dia tidak akan percaya!" teriaknya dan aku tidak peduli sama sekali. Berkali-kali dia berteriak hingga akhirnya kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Aku sih cuek. Anggap aja anjing menggonggong. Setelah bercerai. Aku akan ambil alih perusahaan. Aku akan urus sendiri perusahaan peninggalan papa. *** "Nilam! Bangun! Cepat bersolek dan berdandanlah dengan cantik!" teriak Bibi dari luar kamar. Aku tak menyahut sama sekali ucapannya. Pagi-pagi sudah berisik saja. Tidak tahu waktu sama sekali. "Jangan sampai kesiangan!" teriaknya lagi dan aku tetap acuh. Setelah Bibi pergi, barulah aku bangun dan beranjak ke kamar mandi. Gegas aku membersihkan diri untuk bersiap ke rumah kediaman keluarga Abraham. Huft! Hari ini aku akan bertemu dengan mami. Pernikahanku akan segera berakhir. Senyum terukir dari kedua sudut bibirku saat melihat diri ini dari pantulan kaca. "Sudah tidak perawan lagi," gumamku seraya bersolek di depan cermin. Semua ini gara-gara Bibi, ia bertindak sembrono. Tidak memikirkan perasaanku seperti apa. Awas saja! Jika terjadi sesuatu denganku setelah kejadian malam itu! Aku tidak akan membalas wanita itu! Selesai bersiap, aku menyambar tas lalu keluar kamar untuk ke rumah keluarga Abraham. Dandan seperlunya dan tidak perlu menor seperti kata Bibi jika aku harus tampil glamor di depan keluarga Abraham, sedangkan aku tidak suka berpakaian seperti itu. "Hei, kenapa pakai baju seperti itu!" Si cerewet muncul. "Aku mau bertemu dengan keluarga Abraham, bukan dengan presiden atau mau karaokean!" tegasku berlenggang pergi meninggalkannya tanpa pamit. Seperti biasa, mulutnya ngomel-ngomel tidak jelas karena aku sengaja tidak peduli dan tidak mau dengar. Setibanya di rumah bercat putih bertingkat dengan halaman yang begitu luas, serta banyak tumbuhan hijau yang menyejukkan mata. Ini adalah kedua kalinya aku menginjakkan kaki di rumah mewah ini. "Selamat datang, Nilam. Silahkan duduk," ucap Mami mertua. "Terima kasih, Mam," balasku langsung duduk. "Sebelum tanda tangan perceraian, silahkan kamu ambil kartu di meja. Anggap saja itu adalah uang bayaran selama kamu menjadi istri Saka," ujarnya. "Maaf, Mam. Aku tidak butuh uang itu," sahutku segera. Akan aku buktikan siapa sebenarnya aku, bahwa selama ini bukan aku yang selalu meminta uang, melainkan Bibi. Matanya melebar seperti tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. "Tapi kan ...." Belum sempat Mami melanjutkan ucapannya, tiba-tiba datang seorang pria dan berbisik, tetapi masih terdengar samar di telingaku. "Tuan Saka sudah datang." Apa? Saka akan datang? bagaimana ini? Seketika aku pun panik. Saka sudah tiba. Lalu bagaimana jika dia tahu bahwa yang kemarin malam bersamanya di hotel adalah aku, istrinya. Sedangkan dia menganggapku wanita rendahan. Pasti dia akan semakin jijik jika tahu itu aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN