5. Dreamboat (2)

1115 Kata
Chapter 5 : Dreamboat (2) ****** BEGITU sampai di ruang makan, mereka semua melihat sosok ayah Lucian yang duduk di kursi paling ujung meja makan itu. Meja makan yang ada di ruang makan tersebut adalah sebuah meja makan panjang yang masing-masing ujung atas dan bawahnya memiliki satu kursi, lalu di tengah-tengahnya berjajar beberapa kursi yang saling berhadapan. Di atas ruang makan tersebut, tergantung beberapa lampu kristal megah yang mengelilingi satu lampu kristal yang paling besar. Lampu kristal terbesar itu berada tepat di atas meja makan, di bagian tengah. Namun, posisi kursi-kursi dan lampu kristal itu tak begitu penting saat ini, soalnya ada sebuah ciptaan yang jauh lebih rupawan tengah duduk di depan sana. Seorang pria yang matang dan berparas menakjubkan. Kedua siku pria itu bertumpu di meja, jemarinya saling terjalin di depan dagu. Pose itu membuat otot bisepnya jadi terlihat semakin kentara. Semakin tercetak jelas. Bentuk wajah yang simetris, garis rahang yang tajam, hidung yang mancung, bibir yang menggoda, serta baju kaus putih polos yang mencetak bentuk tubuh sempurnanya…semuanya seratus persen sukses membuat Maxi, Aria, dan Selin menahan napas. Padahal, Aria sudah beberapa kali melihat Om Juan (meski bukan di mansion itu), tetapi dia tetap saja kagum tiap kali melihat pria itu. Maxi bahkan sampai ternganga. Dia hampir saja berdecak kagum, untung saja urat malunya masih tersambung. Untung saja, otaknya belum mengalami korsleting sehingga dia masih mampu menahan dirinya untuk tidak berteriak kagum atau mengeluarkan air liur di sana. Gila, woy, ini beneran bapaknya Lucian? Culik aku, Om! Selin pun melihat ke arah Maxi dan spontan membatin seperti, ‘Yeah, Maxi. I know, I know. Kita sepemikiran.’ Maksudnya, yang benar saja. Itu sungguhan pria yang sudah punya anak sebesar Lucian? Dia terlihat seperti buah terlarang yang merah merekah. Juicy, matang sepenuhnya, dan tinggal dimakan. Ah. Jadi pengin makan, ‘kan. Mulai lagi, deh. “Halo,” sapa ayah Lucian seraya tersenyum kepada mereka semua. “I’m Lucian’s dad. Nice to meet you.” Damn. Damn. ‘Suaranya brooooo,’ batin Maxi. ‘Buseeeet. Daddy banget ini!’ Maxi pun spontan menoleh kepada Selin. Melihat tatapan Maxi, Selin langsung paham total. Seakan bertelepati, Selin pun mengangguk seraya memejamkan matanya. Menyetujui Maxi dalam diam. Melipat bibirnya seolah-olah berkata, ‘Iya, Say, iya. Sangat daddy. Aku paham maksudmu. Paham banget.’ “Ah—haha… Iya, Om,” jawab Maxi setelah menatap ayah Lucian kembali. Sekuat tenaga mengusahakan agar suaranya tidak terdengar serak atau bergetar, soalnya lututnya mendadak jadi lemas. “Nice to meet you too, Om.” “Selamat malam, Om,” sapa Dylan dengan sopan. Om Juan tersenyum. “Malam. Ayo, silakan duduk. Kita makan malem dulu, ya, sambil ngobrol-ngobrol. Soalnya baru kali ini Lucian bawa temen-temennya ke rumah.” Mereka semua pun tertawa awkward. “Ah—iya, Om, baru kali ini,” jawab Maxi. Maxi mulai menyikut-nyikut Selin dan Aria seolah-olah ingin berkata, ‘Woy, bantu jawab ngapa, sih? Lemes, neh!’ Laknatnya, Selin dan Aria malah menyikut balik. Mereka ingin menyerahkan semuanya kepada sang sepuh Maximilian. ‘Kamu aja, woy, kamu lebih kuat.’ Setelah itu, mereka semua mulai duduk. Selin, Aria, dan Maxi duduk di sebelah kanan, sementara Dylan dan Lucian duduk di sebelah kiri. Jadi, posisinya, ayah Lucian ada di depan sekaligus di tengah-tengah mereka semua. Banyak sekali makanan yang sudah berjajar di atas meja. Ada daging ayam, daging sapi, salad, buah-buahan, seafood, sayuran, dessert, berjenis-jenis minuman…. What a feast. Lengkap sekali. Ada beberapa lilin, beberapa napkin… Ini benar-benar seperti acara dinner orang kaya. Mereka sedang dijamu. Ketika mereka baru duduk, ada beberapa pelayan yang masih mengantarkan makanan-makanan tambahan. Setelah selesai, akhirnya pelayan-pelayan itu menunduk hormat pada mereka dan permisi ke luar. “Jadi,” buka Om Juan seraya menuangkan air putih ke gelasnya. “kalian semua satu jurusan, ya, sama Lucian?” “Iya, Om,” jawab Dylan. “Kami satu jurusan.” Aria dan Maxi manggut-manggut. Selin diam saja; detak jantungnya betul-betul mengganggu. Rasanya, dari tadi dia nyaris tak sanggup melihat wajahnya Om Juan. Meskipun begitu, tatkala Selin melihatnya sesekali, memang benar Om Juan ini tampan sekali. Luar biasa. Om Juan in casual attire…is so damn hot. Selin benar-benar deg-degan. Dia tak sanggup melihat keindahan yang sempurna itu saat ini. Kejadian tadi masih menghantui pikirannya. Om Juan pun mengangguk, tersenyum, dan meminum air putihnya. Tatkala ia menaruh gelas itu kembali di atas meja, suaranya kembali terdengar. “Kalau Aria dan Dylan…Om udah pernah liat beberapa kali,” katanya. “soalnya Dylan udah temenan sama Lucian dari SMA…dan Aria itu pacarnya Lucian.” Lucian tersenyum. Dylan dan Aria mengangguk-angguk. Seraya memiringkan kepala, Om Juan pun kembali berkata, “Kalo kamu…siapa namanya?” Sadar bahwa Om Juan sedang melihat ke arahnya, Maxi langsung kikuk dan tubuhnya bergetar. “Uhh—um… Maxi, Om. Elena Ruby Maximilian.” “Oh… Salam kenal, Maxi,” sapa Om Juan seraya tersenyum. Maxi mendadak bahagia mempunyai nama ‘Maxi’, soalnya nama itu terdengar bagus sekali tatkala lidah Om Juan mengucapkannya. Melihat dirinya sudah ditanya, Maxi pun mulai menunggu kapan giliran Selin ditanyai juga, soalnya cuma dia dan Selinlah yang belum Om Juan kenal sebelumnya. Namun, alih-alih menanyai Selin, Om Juan justru hanya menatap Selin. Selin—yang bisa merasakan seluruh tatapan kini mendadak mengarah kepadanya itu—refleks langsung menatap sekeliling. Sampai akhirnya, dia pun membalas tatapan Om Juan. Tepat ketika Selin menatap Om Juan balik, pria itu mulai memberikan Selin sebuah senyuman lembut. Namun, hanya itu. Hanya seulas senyuman. Tanpa pertanyaan ‘Siapa nama kamu?’ seolah-olah dia sudah tahu nama Selin. Maxi agak mengernyitkan dahi, dia jadi bingung. Dengan kikuk, Selin pun tersenyum balik pada Om Juan. Ia tak tahu reaksinya ini terlihat menggelikan atau tidak, pokoknya balas senyum dulu aja, deh! “Jadi, kalian tinggal di mana?” tanya Om Juan lagi. Mendengar pertanyaan itu, satu per satu dari mereka mulai menyebutkan lokasi rumah mereka masing-masing. Suasana saat itu jadi agak mencair karena Lucian dan Maxi mulai berdebat terkait di mana lokasi rumah Maxi yang sebenarnya. Selin sudah tidak heran lagi dengan Maxi yang selalu saja bisa lupa alamat lengkap rumahnya sendiri. Bahkan, Selin dan yang lain justru lebih hafal alamat rumah Maxi daripada empunya sendiri. Om Juan bahkan sempat tertawa dengan perdebatan mereka dan God damn it, he’s so gorgeous. Inikah yang namanya surga? Soalnya…kok ada bidadara seksi di sini? Selin dan teman-teman ceweknya benar-benar dibuat sampai tercengang. Akan tetapi, tiba-tiba Om Juan mulai bertanya. “Kalo Selin, rumahnya di mana?” Semua orang kontan terdiam. Selin langsung menatap Om Juan dan meneguk ludahnya. Sementara itu, Maxi, Aria, dan Dylan pun langsung menoleh kepada Selin. Lucian? Oh, pemuda itu spontan melihat ayahnya dan Selin secara bolak-balik. Di dalam benak teman-teman Selin, kini terdapat pertanyaan yang sama, yaitu: “Kok Om Juan udah tau nama Selin?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN