6. Dreamboat (3)

1317 Kata
Chapter 6 : Dreamboat (3) ****** DADA Selin jadi berdebar. Ia meremas celananya sendiri di bawah meja. Setelah itu, dengan napas yang tertahan, Selin pun mulai menjawab. “Di Woodlands 167, Om.” “Hmm…” Om Juan berdeham. Pria itu mengangguk samar, lalu memiringkan kepalanya. “Lumayan jauh juga, ya, dari sini.” Selin tersenyum canggung. Namun, akhirnya dia jadi sedikit tertawa hambar. “Ah—haha, iya, Om. Lumayan.” “Masih jauh rumah Aria dan Dylan kok, Dad,” kata Lucian. “Rumah Selin sama Maxi masih agak di tengah-tengah, kalo dari sini.” Om Juan pun tersenyum, menatap Selin agak lama, lalu mengangguk. Setelah itu, ia mulai mengambil sendok dan garpunya. “Ayo, kita makan dulu.” Dengan ajakan dari Om Juan itu, mereka semua pun mulai makan. Suasana semakin mencair tatkala mereka makan, soalnya sesekali mereka mengobrol meskipun tahu bahwa makan sambil berbicara itu tidak baik. Namun, percayalah, makan sambil ngobrol memang seseru itu. Hingga akhirnya, setelah selesai makan, Om Juan pamit lebih dahulu. Pria itu hanya memberitahu mereka dengan kalimat singkat seperti: “Om duluan, ya. Ada yang masih mau Om selesaikan.” Setelah mereka semua menjawab, “Iya, Om, silakan.”, Om Juan pun pergi meninggalkan ruang makan itu. ****** Setelah selesai makan, begitu keluar dari ruang makan itu, Selin langsung menarik tangan Lucian dan berlari ke salah satu kamar tamu yang ada di lantai satu. Lucian—yang sedang berjalan sambil menggoda Aria—kontan membelalakkan mata, terkejut karena mendadak tangannya ditarik dengan kencang oleh Selin. Genggamannya pada Aria jadi terlepas; dia jadi ikut berlari karena ditarik oleh Selin. “Lin, ada apa, nih?!! Lin!!” Selin lantas menoleh ke belakang; matanya mendelik kesal. “Sini dulu kamu!!” teriak Selin, lalu gadis itu menarik tangan Lucian dengan lebih kencang. Jadi, mereka benar-benar berlari ke kamar tamu terdekat dengan ngebut. Setelah sampai di kamar tamu itu, Selin pun membuka pintunya, lalu masuk ke sana dan langsung mengempaskan tubuh Lucian ke dinding kamar yang bagian kiri. Lucian sampai berteriak, ‘Ow!’, lalu mengusap-usap bahunya dengan dramatis. “Sakit, lho, Lin. Patah tulang, nih, kayaknya,” ujar Lucian seraya merengek. Namun, meski merengek, tatapan matanya mengandung jenaka; dia sedang menahan tawa. Sayangnya, Selin tidak menutup pintu kamar itu kembali, saking tidak sabarnya. “Biarin aja patah sekalian,” jawab Selin. “Waduh.” Mata Lucian membeliak. “Ini cewek jahat banget, astaga.” Selin kemudian menjewer Lucian dengan kencang sampai pemuda itu mengerang kesakitan. Lucian lantas berteriak, “Iya, iya, Lin, iya! Ampun!! Ada apa, sih?!” Selin pun melepaskan jemarinya dari telinga Lucian dan mulai bertanya, “Kamu kenapa nyaranin aku mandi di lantai dua? Aku baru sadar, nih, soalnya kayaknya banyak kamar tamu di lantai satu. Maxi juga mandi di lantai satu.” Mendengar pertanyaan itu, Lucian tiba-tiba jadi mengernyitkan dahi dan sedikit memiringkan kepalanya. Mata pemuda itu melihat ke arah lain; dia tampaknya sedang berpikir sejenak. “Hm…nggak kenapa-napa, sih. Kamar mandi itu bagus aja buat cewek. Dari seluruh kamar mandi di rumah ini, kamar mandi itu doang yang ada ornamen-ornamen ceweknya. Emang dikhususin buat tamu-tamu cewek. Soalnya, kan, emang jarang ada tamu.” Lucian mengedikkan bahu, lalu melanjutkan, “Tadinya, kan…kamu doang yang mau mandi. Makanya, kamulah yang kutawarin mandi di sana. Eh, nggak taunya Maxi juga ikutan mau mandi. Jadi, ya udah…nggak mungkin juga kalian satu kamar mandi berdua, ‘kan? Nanti kalian jadi suka sesama jenis.” Selin—yang sedang menyimak jawaban Lucian dengan serius itu—pun perlahan mengangguk. Setelah mendengar penjelasan dari Lucian itu, dia kini berhasil melepaskan satu pertanyaan dari benaknya. Satu rasa penasarannya sudah terpenuhi. Namun, kerutan di dahinya belum pudar. Masih ada pertanyaan lain yang tersimpan dan mengganjal di otaknya. “Satu lagi,” kata Selin. “Ayah kamu biasanya mandi di mana?” “Eh?” Lucian malah bertanya balik. Pemuda itu memiringkan kepala dan mengernyitkan dahinya seolah-olah dia salah dengar. Selin mendengkus. “Gini, lho, Lu, ayah kamu biasanya man—” “Ehh eh eeehh, ada apa, neeh? Ada gosip apaan??!!” Lucian dan Selin kontan melihat ke sumber suara. Betapa terkejutnya Selin saat melihat bahwa ternyata Maxi dan Aria sudah berjalan masuk ke kamar itu dan menatap mereka berdua dengan jail. Mata Maxi dan Aria juga berbinar-binar seolah menunggu asupan nutrisi berupa gosip terbaru. Gosip ter-hot. Melihat itu, Lucian jadi mengikik geli. Aria dan Maxi langsung mendekati mereka berdua dengan antusias. Maxi berdiri di dekat Selin, berkacak pinggang seraya memberikan tatapan yang seolah-olah berkata, ‘Kasih tau, cepet! Spill!’ Selin menganga. Rasanya, keringat dingin mulai muncul di dahinya. Dia kebingungan setengah mati, alisnya menyatu karena sibuk berpikir. Aduh, gimana, nih? Mau bilang apa?! Halaah, kepergok!! Akhirnya, karena merasa terjebak, tertangkap basah, dan tertekan, Selin jadi tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, dia harus menceritakan semuanya. Menatap ke depan, Selin pun mendapati teman-temannya yang sudah menatapnya dengan mata melebar karena penasaran. Teman-temannya itu sudah menunggu kalimat apa yang akan Selin ucapkan. Mata mereka berbinar-binar karena ingin tahu, termasuk Lucian. Mereka bahkan hanya diam di sana dan berdiri tegak; tubuh ketiganya benar-benar menghadap ke arah Selin seperti sedang mengadangnya. Kalau orang tidak tahu soal ini dan tiba-tiba mengintip dari pintu, mereka akan mengira bahwa Selin sedang di-bully oleh ketiga temannya. Selin menghela napas. Dengan berat, Selin pun mulai membuka mulutnya. “Tadi…pas aku selesai mandi dan keluar dari kamar mandi yang kupake, tiba-tiba ada ayah kamu berdiri di depan kamar mandi itu. Dia kayak mau mandi juga di situ, soalnya cuma pakai boxer dan bawa handuk.” Maxi, Aria, dan Lucian spontan membelalakkan mata, mereka semua kaget bukan main. Aria bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya; dia betul-betul terkejut dan tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Selin. Jika itu terjadi padanya, mungkin dia akan pingsan di tempat atau pura-pura pingsan saja, saking malunya. Maxi, yang tadinya menganga, mulai mencengkeram bahu Selin dan mengguncang-guncang tubuh Selin dengan brutal. “Hah?!! Kok bisa?! Terus gimana? Gimana, Lin?!!” “Pantes aja tadi Om Juan udah tau nama kamu!” komentar Aria, dia mulai menyusun seluruh puzzle yang tadinya masih acak-acakan di otaknya. “Kalian sempet kenalan?” Hidung Selin berkerut; ia terlihat berpikir keras. Ia memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan semuanya dengan benar. “Aku tadinya sempet lari karena kaget, tapi aku lupa kalo baju gantiku masih ada di atas kasur. Makanya, aku balik lagi ke kamar itu. Kukira nanti pas aku udah sampe sana, Om Juan udah masuk ke kamar mandi. Taunya belum.” “Lah, terus gimana?!!” cecar Maxi. Maxi jadi ikutan panik. “Ya Omnya masih duduk disituuuu, Maxiiiii!” erang Selin. “Mampus banget aku tadi, seriusan. Terpaksa minta tolong Om Juan buat tutup mata dulu, biar aku bisa lari ambil bajunya ke dalem.” Selin menutup wajahnya karena frustrasi. Namun, tatkala mendengar itu, Lucian justru tertawa terbahak-bahak. Pemuda itu sampai membungkuk; ia tertawa habis-habisan seraya memukul-mukul lututnya sendiri. “WHAHAHAHAAHAHAH!!!” Lucian tertawa keras. Spontan tak bisa menguasai dirinya sendiri. “HAHAHAHAHAHAH—Lin, astaga, ya Tuhan—HAHAHAH!” Aria dan Maxi—yang tadinya menganga karena tak mengira kalau Selin bakal ngomong begitu ke Om Juan—kini jadi ikutan tertawa karena ketularan Lucian. Tawanya Lucian itu sungguh menular. Akibatnya, Aria dan Maxi jadi ikut menertawai Selin. “EH! Kalian ini apaan, sih?!! Kok malah ketawa coba?!! BANTUIN NGAPA! Makanya, kan, aku bawa Lucian ke sini, mau nanya kenapa ayahnya malah mandi disituuuuu!!! Kan Om Juan punya kamar mandi sendiri…!!” Selin hampir menangis. Frustrasi banget, sumpah. Mana diketawain lagi. Lucian masih mencoba untuk menghentikan tawa kerasnya itu. Beberapa saat kemudian, pemuda itu akhirnya mulai mengelus dadanya dan mengatur napas. Ia pun berusaha untuk berbicara dengan normal. “Sebenernya, Ayah nggak pernah mandi di situ, sih,” jawab Lucian. Dia masih menahan tawanya. “tapi mungkin dia denger kayak ada aktivitas di kamar itu. Makanya, dia ke sana. Kamar itu, kan, sebelahan sama kamarnya.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN