Chapter 7 :
Dreamboat (4)
******
“LAH, tapi kamar Om Juan, kan…besar banget. Masa iya kedengeran?” tanya Maxi heran. Aria pun mengangguk menyetujui.
“Hm…” Lucian menaruh jemarinya di dagu, terlihat berpikir. “Iya, sih. Selain besar, kamarnya itu juga kedap suara. Hm…mungkin dia udah denger ada yang mandi di kamar sebelah sebelum dia masuk ke kamarnya. Maksudnya, dia denger suara itu pas dia baru pulang dan baru mau masuk ke kamarnya. Kan udah aku bilang, di rumah kami jarang ada tamu. Jadi, mungkin dia mau tau siapa yang mandi di kamar tamu itu.”
“Ya kalo emang penasaran, kan, bisa langsung masuk aja. Kenapa harus pas udah lepas baju dan cuma pakai boxer?” tanya Maxi. Aria dan Lucian spontan tertawa terbahak-bahak.
“Gini aja, mungkin dia udah agak lama nungguin di situ dan Selin belum keluar juga. Kami semua ngerasa kok kalo Selin dan Maxi mandinya lama,” ujar Lucian. “Bisa jadi, dia udah nunggu sebentar di situ dan Selin belum selesai juga. Jadi, dia masuk ke kamarnya sendiri dulu, naruh barang-barang yang dia bawa, dan ngebuka bajunya. Dari situ, kayaknya dia mulai pengen mandi di sebelah aja, sekalian mau liat siapa yang mandi di sana.”
“Kamu mulai ngarang indah, Sayang,” ucap Aria yang kontan dihadiahi tawa kencang oleh Lucian. Maxi pun jadi ikut-ikutan tertawa.
“Lho, tapi itu logika yang paling masuk akal, untuk karakter Ayahku,” jawab Lucian. “Cuma itu yang bisa kupikirin, selaku anak yang udah tinggal sama dia dari kecil.”
Mendengar itu, ketiga perempuan yang ada di sana hanya bisa manggut-manggut.
“Jadi, tadi kalian sempet kenalan?” tanya Lucian pada Selin. Mereka bertiga pun kini kembali menatap Selin.
“Iya. Ngobrol-ngobrol bentar. Dia nanya aku ini temennya Lucian atau bukan. Aku jawab ‘iya’, terus aku ceritain kenapa kita ada di sini. Aku juga bilang kalo yang kita tau, dia pulangnya besok. Kita nggak tau kalo dia bakal pulang hari ini,” jawab Selin dengan pasrah.
“Terus Om Juan jawab gimana?” tanya Aria.
“Ya…katanya dia pulang lebih cepet karena meeting dan kunjungannya selesai lebih cepet daripada apa yang udah direncanain. Jadi, dia langsung pulang,” jelas Selin.
Mulut Maxi dan Aria pun membulat, membentuk ‘O’, tatkala telah mendengarkan seluruh penjelasan dari Selin. Jujur, itu telah menjawab pertanyaan di benak mereka sejak makan malam tadi.
“Tapi jujur, aku nggak nyangka kalo kamu bakal nyuruh Ayahku tutup mata,” ujar Lucian tiba-tiba. “Ayah dibikin jadi imut-imut gitu. Astaga, ya Tuhan, HAHAHAH!”
Aria dan Maxi tertawa lagi. Mendengar itu, Selin pun jadi ikutan tertawa. Iya juga, ya, dia sendiri baru sadar. Bisa-bisanya dia menyuruh Om Juan melakukan hal seimut itu…dan bisa-bisanya Om Juan setuju!
“Aduh, Lin, ada-ada aja,” kata Maxi seraya menggeleng geli. “Bisa-bisanya ada insiden kayak gini. Haha! Mana setengah telanjang lagi!”
Tepat setelah Maxi mengucapkan kalimat itu, Selin langsung memukuli punggung Maxi berkali-kali dengan kencang seraya berteriak kesal, “Diem nggak?!”
Akan tetapi, Maxi dan teman-temannya yang lain malah tetap lanjut menertawai Selin.
Hal yang tidak mereka ketahui adalah: Dylan juga mendengar semua percakapan itu sejak tadi. Pemuda itu berdiri di luar, menyembunyikan dirinya di balik dinding. Di samping kosen pintu.
Dari awal hingga akhir percakapan itu, dahi Dylan berkerut. Ia mendengarkan semua cerita Selin seraya berpikir keras. Meski cerita Selin terdengar begitu lucu, konyol, dan menarik, entah mengapa Dylan merasa sedikit gelisah. Seolah-olah akan ada sesuatu yang terjadi, yang pastinya…
…tidak begitu Dylan senangi.
******
Keesokan paginya, mereka semua sarapan di meja makan yang sama. Jika semalam Om Juan terlihat menggoda karena mengenakan pakaian kasual, pagi ini Om Juan juga terlihat menggoda, tetapi dalam artian yang berbeda dari semalam.
Sama-sama seratus persen menggoda, tetapi kali ini lebih ke arah...formal. Dia mengenakan suit berwarna hitam dengan garis-garis berwarna putih. Kemejanya berwarna putih dan dia mengenakan dasi yang senada dengan jasnya. Rambutnya tertata rapi; ia terlihat begitu fresh. Begitu produktif. Tubuh tegapnya begitu mendukung pakaian yang sedang ia kenakan. Justru bukan pakaian itu yang membuat tubuhnya terlihat bagus; tubuhnyalah yang membuat pakaian itu terlihat perfect. Dia memiliki aura kepemimpinan yang sangat kuat. His manly smell, his styled hair that shows off his forehead, his leadership aura, his sharp jawline, his smile, his nice-sculpted body and face, his ‘rich’ aura…
Man, this billionaire is perfect. He has it all.
Tidak banyak yang bisa mereka bicarakan pagi itu sambil sarapan, soalnya mereka semua mau pergi kuliah dan Om Juan juga akan pergi bekerja. Mereka hanya mengobrol sebentar, melakukan percakapan santai, hingga kemudian Om Juan pamit untuk keluar terlebih dahulu. Dia mau berangkat cepat ke kantornya sebab ada meeting yang akan dia pimpin pagi ini.
Setelah Om Juan pergi, Selin dan teman-temannya kembali makan. Mereka semua menikmati hidangan sarapan yang ada di hadapan mereka dengan senang dan penuh rasa syukur. Kapan lagi bisa makan senikmat dan semewah ini di rumah orang kaya?
Namun, tak lama kemudian, ada seorang pria paruh baya—rambut pria itu nyaris putih semua—yang berjalan masuk ke ruang makan. Aria, Maxi, Selin, dan Dylan pun refleks melihat ke arah pria itu yang langkahnya sedikit tergesa-gesa tatkala menghampiri Lucian.
Kini, mereka semua sudah tahu bahwa pria itu adalah Head Butler Diego.
Lucian pun menatap Diego dengan santai dan menaikkan kedua alisnya. “Ada apa, Diego?”
“Tuan memanggil Anda, Tuan Muda,” ujar Diego dengan sopan. “Beliau menunggu Anda di depan mansion.”
Lucian sedikit melebarkan matanya, lalu menjawab, “Oh, oke.”
Menatap empat temannya—bukan empat, sih, soalnya yang satu lagi itu pacar—Lucian pun mulai berdiri dan berpamitan. “Eh, aku ke depan dulu, ya. Ayahku manggil.”
“Oke,” sahut Dylan dan Maxi. Maxi mengacungkan jempolnya.
Selin hanya mengangguk, sementara Aria mulai tersenyum pada Lucian dan berpesan, “Hati-hati, ya, Sayang.”
Lucian pun mengedipkan sebelah matanya pada Aria. Dia lalu menjawab, “Oke, Sayangku!” dan langsung berjalan keluar dari ruang makan itu dengan diikuti oleh Diego.
Lucian berlari kecil ke pintu utama mansion. Ketika berhasil keluar melalui pintu yang sangat besar itu, Lucian pun lanjut berlari lagi hingga akhirnya dia mulai menuruni anak-anak tangga berwarna putih yang membentang luas di depan rumahnya. Tangga itu mengarah ke jalan aspal yang ada di tengah-tengah pekarangan mansion. Jalan aspal itu membelah pekarangan mansion yang super luas.
Tatkala menuruni tangga, Lucian sudah bisa melihat ayahnya yang sedang berdiri di samping mobil. Mobil itu terparkir secara horizontal dari arah pandang Lucian. Ayahnya berdiri di samping pintu penumpang yang baru saja dibukakan oleh salah satu bodyguard.
Mendengar suara langkah kaki Lucian yang menuruni tangga, Juan pun menoleh kepada Lucian dan memperhatikan anaknya itu. Lucian terus berlari kecil hingga akhirnya dia sampai di anak tangga terakhir. Dia sudah berdiri sekitar empat langkah di depan ayahnya.
“Yes, Dad?” buka Lucian. Ia langsung menjawab ‘panggilan’ dari ayahnya itu.
Juan pun menatap Lucian dengan saksama. Setelah itu, pria itu tersenyum tipis dan sedikit memiringkan kepalanya. “Lu, can you give me your friends’ number?”
Mata Lucian kontan melebar. Kini, gantian Lucian yang memiringkan kepalanya karena bingung. Pemuda itu pun bertanya, “Untuk apa, Dad?”
Juan masih tersenyum. Dia bernapas samar, lalu suaranya kembali terdengar. “This is the first time I've met them in person. Now that I think about it, I need to know their phone numbers so I can ask them about you, in case something happens.”
“Oh,” ucap Lucian, dia mulai mengerti maksud ayahnya. Dia pun mengangguk. “Oke, Dad.”
“Hmm,” deham Juan. Pria itu mulai berencana untuk berbalik dan masuk ke mobil tatkala tiba-tiba Lucian memanggilnya kembali. Langkahnya pun terhenti.
“Dad, sebenernya semalem ada apa sama Selin?” Seraya menanyakan hal itu, Lucian mulai tertawa. “Gimana, sih, ceritanya?”
Mendengar itu, Juan jadi tersenyum lagi. Dia agak menunduk sejenak; secara refleks, senyumannya berubah menjadi tawa kecil. “Ah, soal itu. Selinnya ada cerita?”
“Iya, Dad, dia panik banget. Dia sampe marah-marah ke aku semalem,” jelas Lucian seraya tergelak. Dia betul-betul menggeleng geli. “Sebenernya, Ayah kenapa, sih, mandi di situ? Terus kenapa nggak langsung masuk ke kamar mandi pas Selin udah lari?”
“Oh…” Juan kembali tertawa pelan—sungguh renyah—dan mulai berbicara, “Pas baru pulang dan mau buka pintu kamar, Ayah denger kayak ada suara dari dalem kamar itu. Suara orang mandi. Lampu kamarnya juga hidup. Ayah tungguin bentar, tapi orang yang ada di dalem sana nggak keluar-keluar. Jadi, Ayah masuk dulu ke kamar Ayah dan naruh barang-barang bawaan dari China. Biar tau siapa yang mandi di situ, Ayah jadi mau mandi di sana.”
Bingo! Dugaan Lucian benar.
“Pas Selin keluar dari kamar mandi, dia kaget ngeliat Ayah dan langsung lari keluar dari kamar, tapi Ayah liat bajunya masih ada di atas ranjang. Ayah mau ngasih tau dia, tapi tiba-tiba ada chat penting dari kantor yang ada di China. Jadi, Ayah duduk dulu di kamar itu dan soal baju Selin, Ayah pikir pasti dia bakal balik lagi buat ngambil bajunya. Kalo dia balik lagi, Ayah bisa sekalian nanya-nanya ke dia. Jadi, Ayah bisa ngebales chat dari kantor sekaligus nanya-nanya dan ngobrol langsung sama Selin.”
Lucian pun mengangguk; mulutnya membulat, membentuk ‘O’. “Ooooh… Jadi gitu, ya, ceritanya. Ya ampun, Dad, Selin panik banget itu, dari semalem!!” Lucian tertawa terbahak-bahak. “Dia malu banget, katanya. Diliat dari reaksinya, kayaknya semalem dia mau ngubur dirinya sendiri hidup-hidup. Hahaha!!”
Ayah Lucian, Juan, kontan tertawa renyah. “Ada-ada aja. Padahal, dia nggak perlu malu kok. Kan sebagiannya salah Ayah juga. Terlalu waswas, soalnya rumah kita jarang ada tamu. Pelayan-pelayan juga nggak pernah pake kamar tamu.”
Lucian mengangguk, membenarkan perkataan ayahnya. “Iya, bener banget. Hmm…tapi serius, aku ngakak banget pas denger kalo dia minta Ayah tutup mata supaya dia bisa lewat ngambil bajunya! Tolongggglaaah, astagaa! Yang bener aja?! HAHAHAH!”
Juan tertawa kecil. Jujur, dia pun agak terkejut saat itu.
“Lu, you should invite your friends over more often, since I don’t stay at home every day,” saran Juan. Dia tersenyum pada anaknya, kemudian melanjutkan, “I started to worry because you always hung out with just Aria; I thought you didn’t have any friends anymore.”
Lucian tertawa keras. Bisa-bisanya dia dikira tak punya teman lagi. “Iya, Dad, iya. Aku bakal sering-sering ngundang mereka ke sini.”
Juan pun mengangguk dan tersenyum tipis. Setelah percakapan itu, Lucian mulai bergerak; pemuda itu berencana untuk berbalik dan kembali masuk ke rumah. Namun, sebelum tubuhnya benar-benar membelakangi ayahnya, dia tiba-tiba bersuara lagi.
“Dad,” panggilnya. Ya, dia kadang memanggil Juan dengan sebutan 'Dad' dan kadang dengan sebutan 'Ayah'. Panggilan itu lantas membuat Juan menoleh ke anaknya lagi seraya menyahut, “Hmm?”
Tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba Lucian berkata:
“Selin itu single.”
Setelah mengatakan itu, dengan laknatnya, Lucian mulai tersenyum miring pada ayahnya dan mengedipkan sebelah matanya. []