Chapter 8 :
Peacherino (1)
******
SETELAH mendengar ucapan anaknya yang sangat tiba-tiba itu, Juan sedikit melebarkan matanya. Untuk beberapa saat, pria itu hanya terdiam.
‘Selin itu single.’
Belum sempat Juan merespons apa-apa, Lucian yang sedang tersenyum miring itu lantas berteriak seraya melambaikan tangannya, “Bye, Dad! Hati-hati di jalan!”
Setelah itu, Lucian mulai berbalik; pemuda itu berlari menaiki tangga ke pintu utama mega mansion itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Sengaja meninggalkan ayahnya yang terdiam itu begitu saja.
Beberapa detik kemudian, Juan mulai tersenyum. He let out a breathy smile; he was gently amused.
Ada-ada saja.
Tanpa berkata apa-apa, Juan pun berbalik. Para bodyguard yang menunggunya di sisi kanan dan kiri pintu mobil itu tengah menunduk hormat padanya; sejak tadi, pintu mobil itu sudah terbuka.
Masih ada senyuman tipis yang tertinggal di wajah Juan saat ia mulai menaiki mobil itu dan duduk di kursi penumpang.
Begitu pintu mobil itu ditutup oleh salah satu bodyguard, sopir pribadi Juan mulai memberi salam dan sedikit membungkuk ke arah Juan. Sementara itu, para bodyguard yang berdiri di luar tadi langsung masuk ke mobil hitam yang ada di belakang mobil Juan; mereka akan mengawal mobil Juan dari belakang. Menanggapi salam dari sopirnya itu, Juan hanya mengangguk—ekspresinya belum berubah—lalu akhirnya mobil berwarna hitam itu mulai berjalan. Keluar dari area mega mansion itu.
******
Juan turun dari mobil begitu pintu mobil itu dibuka oleh bodyguard-nya. Saat ia turun, sudah banyak orang yang berbaris di sisi kiri dan kanannya, menyambut kedatangannya pagi ini. Pintu mobil itu ditutup kembali oleh salah satu bodyguard, lalu para bodyguard itu langsung ikut berbaris dengan rapi dan memberikan jalan untuknya.
Dengan penuh wibawa, Juan berjalan ke pintu utama gedung perusahaannya. Tatkala ada salah satu dari staff atau bodyguard yang menyapanya dengan kalimat: ‘Selamat datang, Pak.’ atau ‘Selamat pagi, Pak.’, Juan akan menoleh kepada mereka, mengangguk pelan, lalu menjawab, ‘Ya, selamat pagi.’.
Ketika sudah melewati pintu utama gedung perusahaan itu dan mulai berjalan di lobi, para bodyguard Juan langsung mengikutinya dari belakang. Sejujurnya, begitu Juan masuk, semua orang di lobi yang superluas itu langsung melebarkan mata. Ada sebuah aura kepemimpinan yang sangat kuat yang tiba-tiba memenuhi udara, tetapi entah mengapa aura itu tidak terasa seperti aura membunuh.
Maksudnya, begitu Juan datang, mendadak udara di sana jadi terasa begitu…segar. Seolah-olah ada sebuah angin lembut yang mengiringi kedatangannya. Ia langsung membuat semua orang terpana; ada sebuah daya tarik yang membuat semua orang langsung melihat ke arahnya. Ia memancarkan aura kekuasaan dengan cara yang berbeda. Pembawaannya sendiri sudah dapat menguasai dan mempengaruhi orang lain; ia bisa dihormati orang lain hanya karena sikapnya. Jadi, meskipun semua perempuan di sana merasa napas mereka tertahan saat melihat sosoknya yang luar biasa, mereka semua tetap menunduk hormat saat melihat dia melangkah masuk.
Tatkala Juan masuk ke lift untuk menuju ke lantai atas—tempat di mana ruangannya berada—lobi itu langsung dipenuhi dengan teriakan tertahan dari hampir semua perempuan. Pimpinan tertinggi mereka sudah hilang di ujung sana, sudah meninggalkan lobi, tetapi keberadaan serta aroma tubuhnya seakan masih tertinggal. Sebetulnya, jika mereka tidak sedang berada di lingkup profesional seperti ini, mereka pasti sudah membuat huru-hara. Situasinya akan menjadi gempar!
Jujur, tak ada seorang pun di perusahaan itu yang tak tahu bahwa pemimpin mereka adalah seorang duda. Duda tampan yang kaya raya. Kenyataan bahwa ia adalah seorang duda entah mengapa justru memperkuat pesonanya. He will provide for you. He will take care of you. He will satisfy you. He will give you everything you want.
It’s like he’ll do everything in his power for you.
Moreover, he’s experienced.
Oh, gosh, perempuan akan lemah dengan semua itu. Semakin dewasa, perempuan semakin ingin dimanja. Mereka ingin dijadikan sebagai seorang ratu.
Begitu sampai di ruangannya, Juan langsung berjalan ke meja kerjanya. Meja itu ada di ujung ruangan, di samping dinding kaca tinggi yang ada gorden berwarna coklat keemasannya. Gorden itu biasanya akan ditutup pada malam hari.
Ruangan Juan didominasi oleh warna coklat; it’s a luxurious and elegant office. Ada beberapa tanaman hias yang diletakkan di dinding kaca itu. Di depan meja kerja Juan, ada beberapa buah sofa serta sebuah meja kaca. Biasanya, ia akan menggunakan area itu untuk mengobrol santai dengan rekan bisnisnya. Kadang-kadang, ia juga duduk di sana untuk berdiskusi dengan para C-suite, director, manager, atau vice president. Jadi, jika kau berdiri di ambang pintu ruangan Juan, kau akan langsung bisa melihat sofa-sofa itu serta meja kerja Juan di ujung sana.
Ruangan itu sangat luas, bahkan ada space yang kosong di depan sofa-sofa itu. Posisi space yang kosong itu kalau dijelaskan kurang lebih begini: jika kau berdiri di ambang pintu dan menoleh ke kanan, di sanalah space kosong itu. Namun, sebetulnya…tidak sekosong itu juga, sih. Di sana ada dua lemari. Satunya lemari buku dan satunya lagi lemari kaca berisi wine. Ada beberapa lukisan mahal juga yang tergantung di dindingnya. Lantai di area itu diberi karpet mewah yang terbuat dari wol dan sutra. Jadi, ya…area itu kosong, tetapi masih ada beberapa benda yang diletakkan di sana.
Supaya tidak terlihat janggal saja.
Setelah melewati luasnya ruangan itu, Juan pun sampai di mejanya. Di meja tersebut ada sebuah desk name plate yang terbuat dari kaca. Di desk name plate itu, dengan huruf yang berwarna emas, tertulis:
JUAN A.D. ZACHARIAS
CEO & OWNER
Juan meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu mulai duduk di kursinya. Saat ia baru saja bersandar di kursi itu, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.
“Pak.”
Itu adalah suara sekretaris Juan. Juan lantas menjawab, “Ya? Masuk.”
Pintu ruangan itu pun dibuka. Tampaklah seorang pria berkacamata yang tengah berdiri di sana dan langsung menunduk hormat kepada Juan. Pria itu berusia sekitar tiga puluh tahun ke atas.
“Selamat pagi, Pak. Saya hanya ingin mengingatkan Bapak bahwa ada meeting yang akan Bapak pimpin pagi ini. Sebentar lagi, meeting-nya akan dimulai, Pak. Saya sudah menyiapkan semuanya.”
Juan menatap sekretarisnya itu, lalu mengangguk. “Oke. Saya akan ke sana sebentar lagi.”
“Baik, Pak,” jawab sekretaris itu, Hubert, setelah mendengar jawaban Juan. Hubert lantas menunduk hormat lagi, lalu mulai mundur dan menutup pintu ruangan Juan kembali.
Ketika pintu ruangan itu sudah tertutup, Juan mulai berdiri. Pria itu berjalan dengan tenang ke arah dinding kaca yang ada di sisi kiri meja kerjanya. Dengan postur tubuh yang tegak, Juan berdiri menghadap dinding kaca itu. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya; ia hanya diam seraya memperhatikan gedung-gedung tinggi yang ada di luar sana. Gedung-gedung itu rata-rata lebih pendek dari posisinya saat ini.
Gedung ini adalah sebuah menara kantor mewah yang Juan jadikan sebagai kantor pusat Zach Enterprises. Gedung pencakar langit ini disebut sebagai Zach Tower. []