9. Peacherino (2)

1270 Kata
Chapter 9 : Peacherino (2) ****** ZACH ENTERPRISES, INC. (kadang-kadang disebut Zach Corp. atau Zach Industries) adalah sebuah perusahaan multinasional. A business conglomerate. Zach Enterprises, Inc. saat ini dimiliki dan dipimpin oleh Juan Abraham Damon Zacharias, tetapi founder perusahaan ini adalah ayah Juan, yaitu Simeon William Zacharias. Pada masa kepemimpinan Simeon hingga Simeon meninggal dunia, Zach Enterprises belum sesukses sekarang. Zach Enterprises naik daun dan berada pada masa keemasannya di zaman kepemimpinan Juan A.D. Zacharias, yaitu keturunan pertama dan satu-satunya Simeon Zacharias. Saat Simeon memimpin, Zach Enterprises belum menjejaki banyak sektor dan belum menjadi perusahaan multinasional. Awalnya, Zach Enterprises adalah perusahaan barang konsumsi. Namun, sejak Juan memimpin, perusahaan itu mulai berkembang pesat dan akhirnya memiliki banyak anak perusahaan. Perusahaannya tersebar luas di dunia. Zach Enterprises mulai melebarkan sayapnya dan memperbanyak bidang usaha. Juan Zacharias telah dipersiapkan untuk menjadi penerus ayahnya sejak ia masih kecil. Namun, bukan, itu bukan paksaan dari ayahnya. Juan memang menyetujui dan menginginkan hal itu. Sama seperti ayahnya, ia tertarik dengan dunia bisnis. Selain bisnisnya yang merambak ke nyaris semua sektor, Zach Enterprises juga memiliki sebuah yayasan. The Zach Foundation namanya. Yayasan yang didirikan oleh Juan ini memiliki banyak tujuan. Di antaranya adalah untuk seni dan humaniora, untuk meningkatkan layanan kesehatan dan membantu mengurangi kemiskinan ekstrem, memperluas kesempatan pendidikan dan akses terhadap teknologi informasi, membantu mendanai penelitian ilmiah, dan menyediakan pelatihan-pelatihan gratis untuk kebutuhan tertentu. Yes, Zach Enterprises basically ‘rules’ so many countries. It’s one of the largest companies in the world. Saat Juan masih memandangi gedung-gedung di luar sana melalui dinding kaca itu, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi singkat, pertanda bahwa ada sebuah chat yang masuk. Pria itu lantas mengerjap, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku kemejanya. Setelah kunci layar ponsel itu terbuka, ia pun melihat chat yang baru masuk itu. Itu adalah chat dari Lucian. Little Buddy Lucian Dad, sorry agak lama. Keasyikan makan tadi 😂 Ini nomor-nomor mereka. P.S.: ganti aja namanya, Dad. Attachment: 4 contacts Sebelum membuka attachment itu, Juan membalas pesan Lucian. Juan A.D. Zacharias Ok. Little Buddy Lucian Just in case, kalo Ayah mau save pake nama lengkap mereka: - Canaria Calypse - Dylan Kenrich Matthias - Florentia Roselin Agrece - Elena Ruby Maximilian Tapi kalo bisa nggak usah pake nama lengkap. Menuh-menuhin layar HP aja. Haha Juan A.D. Zacharias I’ll use their nicknames then. Little Buddy Lucian That’s good! Have a nice day today, Dad. Juan A.D. Zacharias Yes. You too. Setelah membalas pesan dari Lucian, Juan pun membuka attachment itu. Ada empat nama kontak dan Juan melihat namanya satu per satu. Pria itu sedikit men-scroll layar ponselnya. Aria❤︎ Maximaniac Dylan Grandpa Cake Expert Selin Ah, jadi inilah sebabnya Lucian menyuruh Juan untuk mengganti nama mereka. Juan memperhatikan nama-nama itu selama tiga detik. Setelah itu, Juan mengklik nama yang paling bawah. Membuka profilnya. Alhasil, terlihatlah nomor ponsel beserta display name yang digunakan oleh si pemilik nomor itu. Juan memperhatikan display name-nya. Se-lin Agrece Selin menggunakan fotonya sendiri sebagai foto profilnya. Di dalam foto itu, Selin terlihat kalem. Gadis itu duduk dan kedua lengannya terlipat di atas meja. Kepalanya bersandar di lengannya sendiri dan ia melihat ke kamera seraya tersenyum manis. Posenya terlihat begitu lembut. Saat melihat foto Selin, tiba-tiba kejadian semalam terkilas kembali di benak Juan. Sebenarnya, sulit untuk memercayai bahwa tadi malam Selin—gadis di dalam foto itu—berani memintanya untuk menutup mata. Selain itu, Selin meminta padanya dengan suara yang lembut dan mata yang membulat polos, seperti seekor kucing kecil. Omong-omong, Selin terlihat canggung dan…banyak diam ketika berhadapan dengannya, tetapi… …kalau dengan Lucian, agaknya Selin adalah orang yang cukup banyak bicara. Akan tetapi, itu wajar. Mungkin, Selin masih segan kepadanya, terutama setelah apa yang terjadi semalam. Pada akhirnya, ia pun menambahkan nomor Selin ke dalam kontaknya dan memberinya nama: ‘Selin’. ****** Di kampus, saat jam makan siang, Selin duduk di kantin bersama Maxi. Lucian, Aria, dan Dylan tidak ada di sana karena mereka sedang ada urusan. Yah, kalau Lucian dan Aria mah, paling-paling mau berduaan. Namun, kalau Dylan…tak tahu juga. Selin dan Maxi duduk berseberangan; makanan dan minuman mereka sudah ada di atas meja. Namun, sebetulnya Maxi sendirilah yang sedang makan; Selin hanya duduk di sana dan tak menghiraukan makanannya sama sekali. Agaknya, pikirannya sedang melayang ke mana-mana. Sejujurnya, Selin masih kepikiran soal tadi malam. Seluruh ruang di pikirannya seolah-olah diisi oleh Om Juan. Selin sudah melamun sejak di kelas tadi. Gadis itu tak bisa fokus sama sekali; dia termenung di samping Maxi. Matanya melihat ke materi yang diterangkan oleh dosen di depan kelas, tetapi sebetulnya ia tak benar-benar memperhatikan materi itu. Agaknya, wajah dosen itu pun berubah jadi wajah Om Juan. Om Juan…jadi dosen? Boleh juga, tuh. Namun, sebetulnya…yang membuat lamunan Selin jadi awet adalah betapa buruknya pertemuannya dengan Om Juan. Andaikan mereka bertemu dengan cara yang normal, maka Selin tidak akan terus-terusan kepikiran seperti ini. Selin malu, tetapi di sisi lain dia juga terus-terusan memikirkan penampilan setengah telanjang Om Juan. Ah, sial! Dia mulai mempertanyakan kesucian otaknya. Tiba-tiba, seakan sengaja ingin membangunkan Selin dari lamunannya, Maxi berteriak. “Makan, woy! Melamun terus! Kasian, tuh, ayam gorengnya dianggurin!” Maxi tertawa kencang. Dia betul-betul menertawakan Selin di kantin itu, tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka. Sebenarnya, sejak di kelas tadi, Maxi sudah menyadarkan Selin berkali-kali, tetapi ujung-ujungnya Maxi lelah karena dua menit setelahnya, Selin akan melamun lagi. Pada akhirnya, Maxi memilih untuk mengabaikan Selin dan fokus belajar. Bukannya apa, Maxi tidak berotak encer dan dia tak mau mengulang kelas hanya karena mengurusi temannya yang sedang mabuk akibat terkena pesona om-om. Ups. Iya, Bung, Maxi tahu kalau Selin sedang memikirkan sang daddy yang ada di rumah Lucian. “Woooooooy, Lin, makan!” teriak Maxi sekali lagi. “Udah dulu mikirin Om Juannya!” Mendengar nama Om Juan disebut, Selin tersentak dan langsung menatap Maxi dengan tajam. “Berisik kamu!” Maxi tertawa kencang. “Makan dululah, biar ada energi buat ngelamuninnya lagi. Jangan sampe kamu pingsan di kelas gara-gara ngelamunin Om Juan. Dilaporin Lucian ke Om Juan baru tau rasa haha!” Mendengar ejekan dari Maxi itu, Selin rasanya mau menangis saja. Yaa…gimana, ya, Omnya ganteng banget, tapi aku malah bikin hal kayak gitu… Ah, sial. Selin mendadak jadi lesu. Tubuhnya mulai membungkuk; kepalanya jadi bertumpu di meja. Ia seakan-akan kehabisan energi. Akan tetapi, tiba-tiba Maxi bersuara. “Jadi, gimana Omnya pas shirtless?” Tatkala pertanyaan itu sampai di telinga Selin, sontak saja Selin melebarkan mata. Meskipun saat itu badannya terasa lemas, dia langsung menoleh kepada Maxi—dagunya bertumpu di meja—lalu dengan mata yang membulat penuh semangat, Selin langsung mengacungkan jempolnya dan menjawab, “Mantap.” Maxi kontan tertawa kencang. Kencang sekali, sampai-sampai satu kantin bisa mendengarnya. Ia memukul pundak Selin berkali-kali karena tidak tahan. Mampus, deh, sejak kapan Selin jadi m***m begini? Sompret, kalau Lucian ada di sini, anak itu pasti menertawai Selin habis-habisan. Namun, Selin—dengan gilanya—malah ikut tertawa. Gadis itu duduk tegak dan mulai tertawa bersama Maxi. Beberapa saat kemudian, sambil mencoba untuk menghentikan tawanya, Maxi pun mulai berkomentar, “Selin ini, enam tahun single, tapi diem-diem mendadak dia pamer badan ke om-om! Dia pake handuk doang!” Tawa Selin jadi semakin kencang; ia langsung memukul-mukul kepala Maxi dengan tasnya. Maxi menutupi kepalanya dengan tangannya sendiri sembari tertawa. Ah, diledek seperti itu memang memalukan. Akan tetapi, karena lelucon yang Maxi buat itu, pikiran Selin jadi sedikit lebih tenang. Ia juga jadi berhenti melamun. Ia benar-benar harus makan atau perutnya akan berbunyi di kelas nanti. Mereka masih ada kelas setelah ini dan ia tak mau Lucian mengejeknya cuma karena bunyi perutnya. Anak itu tukang ledek, soalnya. Berbeda sekali dengan ayahnya. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN