10. That's My Phone Number (1)

1111 Kata
Chapter 10 : That's My Phone Number (1) ****** “BENER nggak ini jalannya?” tanya Dylan sambil menyetir. Pemuda itu menoleh ke samping—ke arah Lucian—sejenak, lalu kembali melihat jalanan yang ada di depannya. “Lewat sini, ‘kan?” Dua hari berlalu sejak insiden Selin memukul-mukul Maxi dengan tasnya di kantin kampus. Dalam dua hari itu, mereka semua beraktivitas seperti biasanya, tetapi untuk Selin…agak berbeda. Gadis itu kadang-kadang masih memikirkan duda ganteng yang ada di mega mansion Zacharias. Bodohnya, kadang-kadang pikiran itu muncul saat Selin sedang mandi. Dia berujung menepuk dahinya sendiri karena malu. Well, yang benar saja! Masa sedang mandi pun dia harus teringat soal boxer-nya Om Juan? Hari ini, Selin, Maxi, Aria, Dylan, dan Lucian sedang berada di dalam satu mobil yang sama, yaitu mobil Dylan. Sekitar dua jam yang lalu, mereka semua melihat pemberitahuan di grup satu angkatan (jurusan Bisnis) yang berasal dari Ethan Bennett. Si Ethan, mahasiswa Bisnis yang terkenal songong dan menyebalkan itu, rupanya menyebarkan undangan pesta ulang tahunnya. Pesta itu dilaksanakan di villa pribadi milik Keluarga Bennett; jarak tempuhnya dari kampus adalah sekitar 6 km. Sebenarnya, orang-orang malas datang ke acara itu, mengingat betapa soknya Ethan. Tidak banyak yang dekat dengan Ethan; dia dan gengnya terkenal sebagai pembuat onar yang selalu memakai-makai nama keluarga mereka untuk mengancam orang-orang. Biasalah, ingin mem-bully orang-orang yang lemah hanya karena merasa lebih hebat. Kelima orang ini (Lucian, Dylan, Aria, Maxi, dan Selin) tidak ada yang senang dengan Ethan. Namun, karena seluruh manusia di jurusan Bisnis sudah sepakat untuk datang (karena tak ingin mencari masalah dengan Keluarga Bennett yang terkenal kaya), mereka pun akhirnya memutuskan untuk datang. Yah, walaupun sudah terlambat juga, sih, soalnya mereka sejak tadi sibuk menunggu Lucian yang malah pacaran dengan Aria di perpustakaan. Akan tetapi, let’s get this straight. Kalau Lucian tak datang ke pesta itu pun, sebenarnya tidak apa-apa. Buat apa dia takut dengan Keluarga Bennett? Buat apa takut, …ketika dia adalah seorang Zacharias? He is Lucian Enzo Zacharias. Keturunan dari salah satu pria yang paling berpengaruh di dunia. Mengapa ayahnya, Juan A.D. Zacharias, memiliki pengaruh yang sangat besar? Mari kita bedah alasannya satu per satu, secara detail. Pertama, Juan Zacharias basically memegang perekonomian banyak negara. Dengan Zach Enterprises yang punya banyak anak perusahaan hampir di seluruh dunia (dan juga bergerak di banyak sektor), Juan dapat mengatur supply and demand. Dia memegang bahan pangan global. Kalau dia tarik semua itu dari sebuah negara? Negara yang dimaksud kemungkinan besar akan mengalami krisis. Dia juga punya perusahaan minyak, energi, dan obat. Kalau dia stop distribusinya? K.O. Kedua, politisi sering bergantung dengannya. Ingin menjaga hubungan yang baik dengannya. Negara-negara bisa menjadi partner project-nya. Pemerintah butuh perusahaannya untuk pembangunan, infrastruktur, teknologi, dan research. Jadi, kalau dia pergi karena rusaknya hubungan baik itu? Ekonomi negara tersebut bisa-bisa jadi tidak stabil. Salah satu politisi di negara mereka pernah berkata, “If Juan Zacharias cancels the deal...my re-election chances are dead.” Ketiga, dia juga punya citra yang baik karena memiliki sebuah yayasan. The Zach Foundation: yayasan yang ia bangun untuk seni dan humaniora, untuk meningkatkan layanan kesehatan dan mengurangi kemiskinan, memperluas kesempatan pendidikan dan akses terhadap teknologi informasi, membantu mendanai penelitian ilmiah, dan menyediakan pelatihan-pelatihan gratis… Semua itu membuatnya memiliki citra publik yang sangat baik. Ketahuilah, politisi yang cerdas biasanya tidak ingin membuat masalah dengan public darling seperti Juan A.D. Zacharias. Soalnya, Juan itu bukan pebisnis semata. Dia dermawan. Dia orang baik. Dia merupakan power figure yang disayang oleh masyarakat. Jadi, kalau dia sudah membuat sebuah ‘tindakan’, opini publik bisa langsung jungkir balik. Ini akan membahayakan politisi yang berselisih dengannya. Well, ayo kita kembali lagi ke topik awal. Buat apa Lucian takut, …kalau ayahnya adalah Juan Zacharias itu sendiri? Namun, nyatanya…Lucian tetap mau datang ke pesta ulang tahun Ethan. Dia malah tak terpikir soal ‘kekuatan keluarga’ sama sekali. Dia tahu bahwa Ethan itu orangnya menyebalkan (mereka tak pernah mengobrol, by the way), tetapi dia tetap datang karena satu angkatan sudah setuju untuk datang. Sedikit fakta mengenai Lucian: dia adalah tipe manusia yang takkan pernah mencari tahu dari mana kau berasal atau siapa keluargamu. Hidupnya terlalu santai; dia tidak sombong dan tidak ribet. Kalau kau orangnya asyik, dia akan enjoy mengobrol denganmu. Kalau kau orangnya menyebalkan, dia takkan mau dekat denganmu, tetapi dia juga takkan memusuhimu. Dia orangnya biasa-biasa saja, very unserious, padahal dia adalah anak orang penting. Makanya, kalau kau tak tahu siapa dia, kau akan mengira bahwa dia adalah anak kuliahan biasa yang suka bercanda karena otaknya agak error. Satu-satunya hal yang menyelamatkannya adalah fakta bahwa dia berwajah tampan. Dia bahkan pernah mencoret-coret buku Selin dan membuat satu kalimat dengan huruf besar di belakang buku gadis itu: ‘LUCIAN ENZO ZACHARIAS FOR PRESIDENT 2025’ …dan berakhir dirobek oleh Selin. “Iyaaa, pasti bener ini.” Lucian mengangguk yakin, dia duduk bersandar seraya menyilangkan tangannya di depan d**a. “Lanjut aja terus.” Dylan mendengkus. “Serius dulu, Lucian. Jangan buat kita berlima jadi kesesat.” Lucian kontan tertawa. Tawanya itu menular ke Maxi, Selin, dan Aria. “Serius dulu, woy!!” teriak Maxi seraya tertawa. “Udahlah telat, kesesat lagi ntar!! Tuh otak isinya pacaran doang, nggak ada yang lain!” Aria memukuli pundak Maxi seraya tertawa. Dia merasa tersindir karena dialah satu-satunya alasan mengapa Lucian bisa telat. By the way, Selin, Aria, dan Maxi…semuanya duduk di jok penumpang belakang. Maxi duduk di antara Selin dan Aria. Lucian ngakak lagi. “Ya kalo kesesat, tinggal bawa ke mall sekalian. Aku mau beli kacamata.” “Lama-lama kutinggalin juga nih orang di tengah jalan,” ancam Dylan. Maxi dan Selin ngakak habis-habisan. Lucian terperanjat, dia memegangi dadanya dengan dramatis. “Waduh, Kak, sabar dikit, dong. Marah-marah terus ini kerjaannya. Mau kubelai?” Tiba-tiba, terdengarlah suara yang begitu mencekam dari jok penumpang belakang. Suara itu terdengar begitu dalam, seram, dan mengintimidasi. Suara Aria. “Sayang.” Lucian spontan membelalakkan mata; pemuda itu menoleh ke belakang dan mendapati Aria yang sedang memelototinya. Tubuh gadis itu seolah-olah mengeluarkan aura berupa asap hitam yang mengerikan. Lucian gasps. Waduh. Mampus aku. Karena panik, Lucian pun kontan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Dia tertawa hambar dan berkata, “Eh—eh, eh—iya, Sayang, iya. Nggak. Nggak lagi. Janji. Nggak bakal belai-belai manusia lain sembarangan. Nggak bakal ada belaian terlarang.” Melihat adegan itu, Maxi langsung tertawa bak orang kesetanan. “Mampoooooosss!!!! HAHAHAHA!” Gilanya, Lucian malah ikut ngakak. Aria yang tadinya marah pun…diam-diam terlihat menahan tawa. Dylan mendengkus lagi. “Udah, coba liat dulu alamatnya itu. Ethan udah share location villa-nya, ‘kan, di grup angkatan? Coba buka dulu.” Tiba-tiba, Selin membuka suara. “Umm… Bentar, Dylan, biar aku aja.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN