11. That's My Phone Number (2)

1146 Kata
Chapter 11 : That's My Phone Number (2) ****** SUARA Selin itu spontan membuat Dylan terdiam. Pemuda itu tak menjawab apa-apa; dia hanya menyetir di depan…seraya menunggu. Selin mulai membuka ponselnya. Gadis itu membuka group chat, lalu mengklik lokasi yang Ethan berikan. Dia menge-zoom layar ponselnya—agar bisa melihat lokasi itu dengan lebih jelas—lalu berdeham panjang. “Hmm… Ini udah bener kok, Dylan. Tinggal lurus aja. Nanti pas udah sampai di pertigaan, baru belok kanan.” Dylan belum menjawab. Suasana di mobil itu jadi terasa agak…canggung…karena tiba-tiba Maxi dan Aria juga diam. Selin langsung menoleh ke teman-temannya dengan mata yang melebar. Napasnya agak tertahan di tenggorokan. Dia langsung mengomel dalam hati, ‘Duh, kalian jangan diem gini, dong! Aku udah berusaha, nih, supaya bisa bersikap biasa aja ke Dylan!’ Laknatnya, diam-diam…Maxi dan Aria mulai tertawa kecil. Mereka tertawa tanpa suara. Menertawakan Selin. ‘Sialaaaaaaan!!’ umpat Selin dalam hati. ‘Sengaja banget mereka ini!!’ Tiba-tiba saja, suara Dylan terdengar. “Makasih, ya, Lin.” Mata Selin membulat sempurna. Gadis itu langsung menoleh ke depan. Ke arah Dylan. Untuk beberapa detik lamanya, ia hanya terdiam. Namun, karena sadar bahwa Dylan sedang menunggu jawabannya. Selin pun mulai mengangguk dengan kaku. “I—Iya. Sama-sama.” “HAHAHAHA! OKEEEE! MANTAAAPP!!!” teriak Lucian tiba-tiba. Semua orang langsung menoleh kepada Lucian; mereka terperanjat tatkala mendengar teriakan itu. “Ayo kita teroboooos! Thank you, Lin!” Karena masih tertegun (akibat mendengar jawaban Dylan), Selin pun mengangguk dengan kaku dan menjawab, “I—Iya.” Dengan begini, seharusnya kecanggungan di antara Selin dan Dylan akan mulai berkurang, ‘kan? ****** Daripada pesta ulang tahun, sebenarnya pesta yang Ethan adakan lebih kelihatan seperti pesta rumahan anak muda yang disertai dengan minuman keras. Tipe anak muda seperti Ethan jelas takkan peduli dengan usia minum yang legal di negara mereka. Villa itu tidak terlalu besar, tetapi mewah. Banyak sekali orang yang datang ke sana. Ada yang sedang mengobrol bersama teman-temannya sambil minum alkohol. Di sana ada bir, ada wine, dan ada whisky. Ada juga berbagai macam makanan di sana, tetapi yang makan biasanya adalah para perempuan. Di bagian samping villa tersebut ada kolam renang. Banyak orang yang berenang di kolam renang itu; ada yang ingin have fun dengan teman-temannya dan ada yang hanya ingin berpacaran di dalam air. Orang-orang tersebar di beberapa titik: ada yang di area kolam renang, ada yang dancing di dalam villa (pada dasarnya menjadikan bagian dalam villa itu sebagai bar pribadi), dan ada yang stay di halaman villa. Selin dan teman-temannya memilih untuk stay di halaman villa. Mereka tak ingin masuk ke villa dan juga tak ingin menghabiskan waktu di kolam renang. Meski belum melihat lokasi-lokasi itu sama sekali, mereka sudah bisa menebak bahwa sepertinya akan ada banyak hal yang tak ingin mereka lihat di sana. Selin, Maxi, dan Aria duduk di salah satu meja bundar yang di atasnya terdapat berbagai macam kue. Lucian dan Dylan sedang mengobrol dengan teman-teman satu angkatan mereka yang lain. Obrolan itu terlihat santai; mereka berdiri berkumpul di ujung sana dan Lucian sesekali tertawa. Suara musik dari dalam villa terdengar sampai ke luar dan sejujurnya itu cukup mengganggu. Bagi Selin, daripada membuatnya ingin joget, musik seperti itu lebih efektif untuk membuat perutnya mual. …atau mungkin…musik seperti itu bukan seleranya saja. Sejujurnya, mereka berlima mungkin memikirkan hal yang sama, yaitu: Nggak usah lama-lama di sini. Kayaknya, makin malem, pesta ini bakal makin parah. “Aku mau ngambil minum dulu, ya,” ujar Aria. Gadis itu bangkit dari duduknya. “Di atas meja ini kayaknya minuman keras semua.” Maxi mengernyitkan dahi. “Emangnya ada air putih atau jus di sini?” Aria mengangguk. “Ada. Tadi, aku liat ada jus jeruk di sana.” Aria menunjuk ke sebelah kanan, membuat Selin dan Maxi melihat ke arah yang sama. “Oh, oke.” Maxi mengacungkan jempolnya. Selin mengangguk dan tersenyum. “Hati-hati, ya, Aria.” “Sip.” Aria pun mulai berjalan ke sebelah kanan. Ke meja yang jaraknya sekitar lima meja dari posisi mereka tadi. Di sana ada jus jeruk dan kebetulan meja itu kosong. Aria berjalan ke sana dengan senyum tipis. Berpikir bahwa mereka akan makan gratis sebentar di sini, lalu pulang ke rumah masing-masing…atau mungkin dia akan menemani Lucian membeli kacamata di mall terlebih dahulu. Aneh sekali, padahal kacamata Lucian sudah banyak. Buat apa beli lagi? Dari segala hal yang bisa diobsesikan, Lucian malah terobsesi dengan kacamata. Dia bahkan punya kacamata pink yang berbentuk hati. Gila. Aria menggeleng dan tertawa kecil tatkala memikirkan itu. Sesampainya di meja itu, Aria pun mulai menuangkan jus jeruknya ke tiga gelas. Namun, sebelum gelas keduanya penuh, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara. “Oh, look what I got here.” Aria kontan menoleh. Di samping kirinya, dia melihat Ethan. Orang yang berulang tahun…sekaligus yang mengadakan acara ini. The pretentious elite brat, Ethan Bennett. Pemuda itu berjalan mendekatinya. Dahi Aria berkerut. Tanpa sadar, dia berhenti menuangkan jus jeruk itu ke dalam gelas. Tak tahu kenapa, dia mulai waswas, padahal Ethan hanya menghampirinya. Namun, jika dipikir-pikir lagi, mungkin Aria merasa waswas karena dia tak pernah berbicara dengan Ethan…dan dia tahu bahwa Ethan orangnya menyebalkan. Tukang bully. Aria berdiri tegap, menatap Ethan dengan bingung…sekaligus heran. Namun, dia tetap diam. Begitu sampai di depan Aria, Ethan pun tersenyum miring. “Canaria, right?” Aria mengangguk pelan, tetapi dengan canggung. Jantungnya entah mengapa berdegup kencang. Bukan karena salah tingkah, melainkan karena merasa… …gelisah. Keberadaan Ethan membuatnya merasa tidak tenang. Apakah getaran yang Ethan hasilkan selalu se-unsettling ini? “Y—Ya,” jawab Aria. “Kenapa, ya…?” Ethan memiringkan kepalanya. Dia masih tersenyum miring. “You know who I am, right?” Aria mengangguk. “I—ya. Aku tau. Kamu Ethan, ‘kan?” Ethan tertawa kencang. “Of course you know. Aku bakalan terkesan kalo kamu nggak tau siapa aku.” Aria hanya tersenyum canggung. Senyum paksa. Ini orang kenapa, sih? Sombongnya minta ampun. Lagian, ya jelaslah orang yang datang ke pesta ini tau siapa dia, kan dia yang ulang tahun. “Ada apa, ya, Ethan?” tanya Aria pelan, diam-diam dia berdoa agar Ethan segera pergi dari hadapannya karena keadaan ini terasa sangat menyiksa. Ethan tiba-tiba mendekat. Aria mundur selangkah, tetapi Ethan melangkah lebih cepat. Pemuda itu mendekati Aria hingga jarak mereka kini hanya tinggal empat jengkal. Ethan menatap Aria dengan lekat. Tatapannya mematikan. Hingga tiba-tiba, Ethan mengangkat dagunya dengan angkuh. “Be my girl, just for tonight,” ujar Ethan. “Temenin aku sampe besok pagi. Besok pagi kamu kubayar.” Mata Aria membelalak. Tubuh Aria mematung di tempat. Apa? Dia—dia bilang apa? Kontan saja emosi Aria naik sampai ke ubun-ubun. Aria langsung mengernyitkan dahinya dan menggeleng tak percaya. Mulutnya menganga. “Hah? Apa kamu bilang?!” Ethan menyeringai. “You look like you’re a good f**k. Nggak usah ngapa-ngapain. Ikut aja sama aku di sepanjang pesta. Habis itu, ayo nge-sex.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN