12. That's My Phone Number (3)

1210 Kata
Chapter 12 : That's My Phone Number (3) ****** ARIA memelototinya. “Sialan kamu!!!! Kamu udah sinting, ya?!!” Melihat Aria yang memelototi sekaligus membentaknya, Ethan langsung naik pitam. Pemuda itu merasa dirinya tak pantas dan tak boleh dilawan. Tidak ada orang yang boleh menentangnya karena dialah yang berkuasa. Maka dari itu, dia pun berdecak dan balas memelototi Aria. Dia langsung mendekati Aria dan sebelum Aria berhasil mendorongnya, dia sudah mendekap tubuh Aria dengan erat. Sebelah tangannya melingkar di pinggang Aria, tetapi sebelum Aria sempat berteriak, dia langsung menangkup b****g Aria. Dia menatap Aria dengan tajam; posisi wajah mereka sangat dekat karena dia menahan tubuh Aria. Sambil mengintimidasi Aria dengan tatapan serta ekspresi wajahnya, dia pun meremas-remas b****g Aria dengan sangat kencang seraya berkata: “Jangan sombong, jalang,” ujar Ethan dengan sinis. “Seharusnya kamu sujud sama aku karena aku mau nidurin kamu. Orang-orang yang mukanya oke kayak kamu semuanya pasti kepengin kutiduri. Nggak usah sok jual mahal kamu. Kamu tertarik, ‘kan, sama aku? Buktinya kamu kenal aku walaupun kita nggak pernah ngobrol sebelumnya!!” Aria berteriak. Namun, karena dia berteriak, sebelah tangan Ethan langsung menutup mulutnya dengan kencang; Ethan memelototi gadis itu habis-habisan dan langsung meremas b****g Aria dengan lebih kuat. Aria memberontak. Dia menendang, memukul, mendorong, dan menampar Ethan, tetapi tidak ada yang berhasil. Sialannya, orang-orang yang tadinya duduk di sekitar sana tiba-tiba pergi menjauh. Mereka tidak ingin ikut campur. “LEPAS—LE—HMMP!!!!” Ethan menggeram. “DIAM, SIALAN!” “TOLONG!!!” “ARIA!” Samar-samar Aria mendengar teriakan Maxi dan Selin dari depan sana. …dan dua detik setelah itu, terdengarlah suara gedebuk yang sangat kencang. Tepat di hadapan Aria. “k*****t!!!!” Itu adalah teriakan Lucian. Cengkeraman Ethan pada tubuh Aria terlepas begitu saja. Tubuh gadis itu langsung oleng; dia terdorong dan hampir jatuh ke lantai apabila ia tidak berpegangan pada pinggiran meja. Dia terengah-engah—jantungnya berdegup kencang—dan langsung melihat ke depan dengan mata yang membulat sempurna. Dia ingin tahu apa yang terjadi. Begitu melihat Ethan yang sudah jatuh terbaring di hadapannya, napas Aria tertahan seketika; Ethan sedang dipukuli dengan membabi buta oleh Lucian. Tadi, begitu mendengar Aria berteriak “TOLONG!”, barulah orang-orang di ujung sana mendengar teriakannya. Musik di dalam villa masih terdengar cukup kencang sehingga bunyinya bisa menyamarkan teriakan Aria. Namun, begitu mendengar teriakan terakhir itu, Lucian langsung menoleh ke asal suara dan mendapati Aria yang sedang dilecehkan oleh Ethan. Selin dan Maxi juga spontan berteriak. Maka dari itu, tadi Lucian langsung berlari kencang ke arah Ethan. Dia berlari secepat kilat, lalu langsung menarik paksa jaket kulit yang Ethan kenakan. Dia meninju Ethan sampai terjatuh di lantai. Tinjuan itu benar-benar kuat; Lucian bak dikuasai oleh iblis. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Matanya nyalang. Dia mengamuk di sana. Selin dan Maxi datang dan langsung memegangi Aria. “Aria, kamu nggak apa-apa?!!!” Aria terlihat shock. Wajahnya pucat. Ia menatap perkelahian Lucian dengan mata melebar. Mulutnya menganga; ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa karena otaknya sedang kacau. “Lu—” “SIALAN!!! MINGGIR!!!!” Ethan balas memukuli Lucian, mereka bertengkar dengan gila di sana. Mereka berdua kehilangan kendali. Mereka saling memukul dan saling mengantukkan kepala lawan mereka ke lantai. Situasi itu sangat riuh. Orang-orang mulai mengerumuni mereka. Kepala mereka sudah dipenuhi darah. Aria menangis kencang; Selin dan Maxi juga shock. Mereka mematung di sana dengan wajah pucat meskipun mereka tahu bahwa mereka harus segera pergi dari sana. Selain itu, Lucian—Lucian harus dihentikan!!! “b*****t!!! KAMU APAKAN PACARKU, SIALAN?!! PERSETAN!!! KUBUNUH KAMU, SIALAN!! k*****t!!!” Lucian melepas jaketnya; dia melemparkan jaket itu ke sembarang arah agar bisa memukuli Ethan dengan lebih leluasa. “LUCIAN!!!! BERHENTI!!!” teriak Dylan. Pemuda itu sudah meneriaki dan mencoba untuk menarik Lucian sejak tadi. Namun, meskipun sudah ditarik oleh beberapa orang, Lucian tetap tak terganggu. Dia seperti monster yang tubuhnya sangat keras dan kuat; dia mengempaskan semua orang yang menghalanginya. Hal yang sama pun terjadi pada Ethan. Mereka bertengkar di sana seperti orang tak waras. Tiba-tiba, Aria mengempaskan pegangan Maxi dan Selin. Dia langsung berlari mendekati Lucian dan mencoba untuk ikut menarik pemuda itu sembari meneriakinya agar berhenti berkelahi. “ARIA!!!!” teriak Maxi. Mata Selin membulat, gadis itu lupa bernapas. Dia bingung dan tak tahu harus bagaimana. Namun, yang jelas, Aria—Aria tak boleh berada di sana!!! Selin dan Maxi langsung mau ikut berlari untuk menyelamatkan Aria, tetapi tiba-tiba mereka berdua mendengar teriakan Dylan. “MAXI, SELIN!!!! TOLONG SIAPIN MOBIL!!!” Dylan melempar kunci mobilnya dengan kencang hingga kunci itu terjatuh di depan Maxi. “KITA HARUS BAWA LUCIAN KE RUMAH SAKIT!!!” Maxi langsung mengambil kunci mobil itu dengan panik. “Oh—iya, IYA!!! TOLONG HENTIKAN LUCIAN, DYLAN!! AKU SIAPIN MOBIL SEBENTAR!!” Begitu Maxi berlari menjauh, Dylan pun langsung melemparkan jaket milik Lucian kepada Selin, lalu berteriak, “LIN, TOLONG TELEPON OM JUAN SEKARANG!! HP LUCIAN ADA DI SITU!!!” Selin pun mengangguk dengan cepat. Gadis itu langsung menunduk untuk mengambil jaket Lucian yang terjatuh di depannya. “I—IYA!!!” Selin mengeluarkan ponsel Lucian dari saku jaket itu. Tangan Selin agak gemetar; dia panik setengah mati. Dia harus cepat—dia harus cepat! Selin membuka kunci layar ponsel Lucian yang untungnya dia tahu polanya apa. Dahulu, Lucian pernah meminjamkan ponselnya kepada Selin dan Maxi karena kedua gadis itu ingin stalking pemuda yang meninggalkan Maxi setelah tiga hari berkencan. Mereka tak mau memakai akun social media mereka sendiri, jadi mereka meminjam punya Lucian. Makanya, tak heran kalau tiba-tiba akun Lucianlah yang digunakan untuk memarahi pemuda itu. Setelah kunci layar ponsel itu terbuka, Selin pun langsung mencari kontak Om Juan. Gadis itu men-scroll layar ponsel itu hingga akhirnya ia sampai di sebuah nama kontak, yaitu: ‘Dad’. Ah, yang ini. Ini pasti nomornya Om Juan, pikir Selin. Selin langsung mengklik kontak itu dan memanggilnya. Gadis itu langsung menjauhi kerumunan, lalu menggigit bibirnya dengan gelisah tatkala panggilan telepon itu masih berdering. Agaknya, tiap-tiap deringan itu membuat Selin jadi semakin tidak tenang. Napasnya berembus cepat dan tidak teratur. Tangannya masih sedikit gemetar. Situasi saat ini benar-benar kacau; Aria pun masih menangis di ujung sana. Sayangnya, tadi Selin lupa melihat apakah Lucian dan Ethan sudah berhasil dilerai atau belum. Panggilan telepon itu pun diangkat. Mata Selin melebar. Ya Tuhan, akhirnya! Tanpa memberitahu siapa dirinya, Selin langsung berteriak dengan panik. Ia tak memikirkan apa-apa lagi, kecuali memberitahukan situasi ini kepada Om Juan. “Om! Om Juan—" “...Selin?” Seharusnya Selin sadar bahwa meskipun dia belum memperkenalkan dirinya di telepon, Om Juan telah mengenali suaranya. Namun, sayangnya…Selin gagal menyadari itu karena sedang panik minta ampun. Pikirannya kalut. Dia overheating. “Om Juan, m—maaf ganggu, ya, Om,” ujar Selin. Kalau panik, bicaranya jadi agak tersendat. “Jadi…gini, Om, kami sekarang lagi ada di pesta ulang tahun temen seangkatan. Lucian mau kami bawa ke rumah sakit, Om, soalnya dia—dia berantem di sini. Dia luka-luka karena nggak mau berhenti, Om. Tolong—tolong datang, ya, Om…” Setelah itu, terdengarlah jawaban Om Juan dari seberang sana. “Oke. Tolong jaga Lucian, ya. Om segera ke sana. Nanti kasih tau sama Om di mana lokasi rumah sakitnya.” Selin mengangguk dengan cepat. “Iya, Om.” “Thank you, Selin.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN