Chapter 13 :
That's My Phone Number (4)
******
LUCIAN duduk di tepi ranjang rumah sakit. Ada seorang dokter yang sedang mengobati wajahnya. Wajahnya penuh dengan luka dan lebam; ia langsung dibawa ke IGD oleh keempat temannya begitu perkelahian itu berhasil dilerai.
Selin, Maxi, dan Dylan berdiri mengelilingi Lucian, sementara Aria sedang duduk di samping Lucian seraya sesekali mengusap pundak pemuda itu dengan sayang. Wajah Aria masih sembap, matanya merah akibat terlalu banyak menangis. Akan tetapi, Lucian hanya diam. Dia menunduk dan hanya memegang sebelah tangan Aria.
Tak lama kemudian, mereka semua mendengar ada sedikit perubahan suasana. Napas orang-orang di IGD itu agaknya sedikit tertahan; mereka terdiam dan menatap ke satu arah yang sama. Menyadari keanehan itu, Maxi, Selin, dan Dylan pun langsung ikut menatap ke arah yang sama.
Ternyata, ada seseorang yang baru saja masuk ke ruang IGD. Membawa seluruh aura kepemimpinan dan kekuatannya, membuat udara di sekitarnya jadi terasa berbeda.
Ayahnya Lucian, Juan Zacharias, baru saja masuk ke IGD itu. Para bodyguard-nya menunggu di luar.
Selin dan Maxi juga jadi menahan napas. Ya…jelas saja. Bagaimana orang-orang tidak melakukan itu ketika seluruh udara di sekitar jadi berubah hanya karena kedatangannya?
Om Juan masuk dengan kemeja putih yang digulung hingga ke lengan. Jasnya tergantung di lengan sebelah kirinya dan penampilannya masih sangat memesona meskipun hari sudah malam. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Begitu menemukan keberadaan Lucian dan teman-temannya, Juan pun berjalan mendekati mereka.
Dylan mulai bergeser—agar Juan bisa berdiri lebih dekat dengan Lucian—lalu berkata, “Om Juan, silakan, Om. Di sini.”
Om Juan mengangguk. Selin dan Maxi hanya memperhatikan langkah pria itu dan sekali lagi mereka mengakui bahwa Om Juan memang out of this world. Pesonanya tak masuk akal. Dia seperti bukan manusia biasa. Keberadaannya jadi seperti anomali karena terlihat berbeda sendiri.
Hm…atau lebih tepatnya begini: dia adalah main character-nya, sementara mereka semua hanyalah NPC.
Begitu sudah berdiri dekat dengan Lucian, Om Juan pun mulai membuka suara.
“How is he, Doctor?”
Dokter itu pun menunduk hormat pada Om Juan (karena semua karyawan di rumah sakit itu tahu bahwa Juan punya sebagian besar saham di sana) dan berkata, “Memarnya agak parah, Pak, tapi nggak ada cedera di bagian dalam. Nggak ada patah tulang juga.”
Om Juan menghela napas, lalu mengangguk singkat. “Syukurlah. Makasih, Dok.”
Dokter itu tersenyum. “Sama-sama, Pak.”
Tak lama kemudian, dokter itu pun selesai mengobati Lucian dan pamit untuk menyiapkan resep obat. Om Juan mengangguk, berterima kasih (lagi), lalu tersenyum pada dokter itu.
Sepeninggal dokter itu, Om Juan langsung menarik kursi yang ada di sebelah ranjang Lucian. Ia sedikit menyeret kursi itu agar berada di hadapan Lucian, lalu duduk di sana dan menatap Lucian dengan serius.
Ia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, lalu memiringkan kepala.
“Jadi, bisa kasih tau Ayah apa yang terjadi hari ini?”
Mereka semua terdiam.
Namun, karena semua orang hanya diam…dan rasa bersalah di hatinya kian menumpuk, Aria pun akhirnya membuka suara. Mata Aria berkaca-kaca.
“A—Aku yang salah, Om. Lucian…Lucian cuma—”
Kata-kata Aria terhenti karena Lucian tiba-tiba mempererat genggaman tangannya. Pemuda itu seolah-olah ingin berkata, ‘Udah. Nggak usah ngomong gitu.’
Aria pun menoleh kepadanya, melebarkan mata, dan akhirnya menunduk.
Ah…sial. Semoga Ethan tercebur ke laut dan dimakan ikan hiu.
Lucian menatap ayahnya. Dengan pelan, dia pun mulai menjelaskan, “Aku tadi mukul Ethan Bennett karena dia udah ngelecehin Aria, Dad.”
Juan mengerutkan dahi. “Ethan Bennett?”
Lucian mengangguk. “Ya.”
“Umm... Jadi…begini, Om.” Dylan tiba-tiba bersuara. Semua orang pun langsung menoleh kepadanya. “Tadi, kami datang ke acara ulang tahunnya Ethan Bennett. Dia ngadain acara itu di villa punya keluarganya. Nggak tau kenapa, dia tiba-tiba gituin Aria dan akhirnya dia jadi berantem sama Lucian.”
Maxi mengangguk. “Betul, Om. Sebenernya, Lucian sama Aria nggak salah apa-apa.”
Setetes air mata kembali jatuh ke pipi Aria. Ia sedih melihat Lucian jadi luka-luka begini karenanya. Ia pun mengusap air mata itu, lalu berkata dengan tulus, “Maafin aku, ya, Om. Nanti, aku bakal bantu ngobatin Lucian di mansion…sampe Lucian sembuh.”
Sebenarnya, Aria tak perlu melakukan itu. Keluarga Zacharias memiliki dokter pribadi; Juan juga tidak marah pada Aria. Namun, Aria sudah terlanjur merasa bersalah.
Juan menghela napas. Dua detik kemudian, pria itu pun mengangguk.
“Ya udah. Ayo kita pulang,” ujar Juan. “Tadi pake mobil siapa?”
“Mobil aku, Om,” jawab Dylan.
Juan mengangguk lagi. “Hm. Dylan bisa langsung pulang pakai mobilnya. Kalo Selin, Maxi, sama Aria, kalian bisa naik mobil bodyguard Om, ya. Biar diantar satu per satu. Lucian bakal Om bawa pulang.”
Mereka semua (kecuali Lucian) pun mengangguk. “Iya, Om. Makasih, ya, Om.”
******
Setelah mengambil resep obat dari dokter, di sinilah mereka semua, berdiri di samping mobil hitam mewah milik Juan. Lucian baru saja masuk ke mobil; sopir pribadi Juan sudah siaga di jok pengemudi.
Begitu Lucian sudah duduk di dalam mobil, Juan pun berbalik dan menghadap ke arah Selin, Maxi, Dylan, dan Aria. Mereka berempat masih berdiri di sana, ingin mengantarkan Juan dan Lucian terlebih dahulu sebelum pulang. Selin sejak tadi diam saja karena dia sibuk memperhatikan keadaan Lucian yang wajahnya luka-luka semua…serta Aria yang terus menangis. Gadis itu tak menyangka bahwa hari ini akan berakhir seperti ini.
Juan berdiri di hadapan mereka dan tersenyum simpul.
“Thank you for telling me earlier,” kata Juan.
Mereka berempat mengangguk. Maxi langsung menjawab, “No, Om, it’s nothing. Kami cuma ngelakuin apa yang seharusnya kami lakuin. Justru kami minta maaf, ya, Om, karena gagal ngehentiin Lucian lebih cepet.”
Aria menatap Juan dengan serius. “Besok Aria datang ke mansion, ya, Om. Biar Aria bantu ngobatin Lucian.”
Juan lets out a breathy smile. Pria itu pun mengangguk. “Hm. Ya udah.”
Juan bereaksi seperti itu karena ingin menghargai keputusan Aria meskipun sebenarnya itu tidak perlu. Juan kenal anaknya; Lucian itu tubuhnya kuat. Ditambah dengan bantuan dokter pribadi mereka, mungkin luka Lucian akan sembuh dalam waktu cepat.
Juan kembali membuka suara.
“Oh. Around three days ago, Om minta nomor handphone kalian dari Lucian. Om minta itu sebagai antisipasi kalau-kalau ada terjadi masalah kayak gini. Siapa sangka kalo ternyata masalahnya datang secepet ini,” ujar Juan. Pria itu bernapas samar. “Jadi, supaya kedepannya kalian nggak susah ngehubungi Om, Om coba telepon salah satu dari kalian aja, ya. Ntar di-share aja nomor Om…biar kalian sama-sama nyimpen.”
“Oke, Om,” jawab Maxi. Dylan dan Aria lantas mengangguk.
“Hm…” Om Juan berpikir sebentar. Pria itu menatap mereka satu per satu,
…lalu tersenyum.
“Selin aja, ya?”
Mata Selin kontan membulat sempurna.
A—Aku?
Dylan, Maxi, dan Aria menoleh kepada Selin sebentar, lalu mengangguk menyetujui Om Juan. Mereka terlihat biasa-biasa saja.
Namun, tidak dengan Selin. Jantung Selin hampir berhenti berdegup. Tidak, seharusnya ini bukan apa-apa. Om Juan pasti memilihnya karena dialah yang menghubungi Om Juan melalui ponsel Lucian tadi. Iya, pasti begitu. Teman-temannya pun tidak kaget, ‘kan? Berarti, ini wajar. Selin sajalah yang gugupnya kelewatan.
Setelah meneguk ludahnya, Selin pun mengangguk dengan kaku. “I—Iya, Om.”
Juan kembali tersenyum. Pria itu mulai mengeluarkan ponselnya, mencari nomor telepon Selin di sana…lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.
…sambil menatap Selin.
Ponsel Selin pun berbunyi. Gadis itu langsung mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu melihat bahwa ada panggilan masuk dari sebuah nomor yang belum tersimpan.
Jantung Selin langsung berdebar. Napasnya tertahan.
Itu…adalah nomor Om Juan.
Nomor ponsel Juan A.D. Zacharias.
Om Juan…meneleponnya.
“That’s my phone number,” ucap Om Juan kemudian. Suara seksinya membuat Selin tersentak; gadis itu jadi berhenti memandangi layar ponselnya dengan tatapan tak percaya. Dia langsung beralih menatap Om Juan.
“Oh, iya, Om,” jawab Selin.
Juan mengangguk dan tersenyum kepada Selin. Setelah itu, dia menatap tiga teman Selin yang lain. “Dylan, Aria, dan…umm…”
“Maxi, Om!” sambung Maxi, mengingatkan Om Juan.
“Ah, ya. Maxi,” kata Om Juan. “All of you can ask for my number from Selin. Tolong kasih nomor Om ke mereka, ya, Selin?”
Mata Selin melebar. Ia belum menjawab apa-apa, bahkan ketika sepasang mata Om Juan kembali menemukannya.
Mereka bertatapan selama kurang lebih tiga detik.
Namun, seakan-akan tersadar dari lamunannya, Selin pun langsung menjawab, “A—Ah, baik, Om.”
Juan tersenyum. Pria itu mengangguk, lalu mulai berbalik dan membuka pintu mobilnya. Namun, sebelum masuk ke mobil, Juan sempat menatap mereka berempat lagi dan berkata, “Be careful on your way home. Tell me if something happens.”
Selin, Maxi, Aria, dan Dylan lantas mengangguk.
“Iya, Om, makasih. Hati-hati, ya, Om,” kata Dylan.
Juan mengangguk. “Hm.”
Pria itu pun masuk ke mobilnya; dia duduk bersama Lucian di jok penumpang belakang. Ketika mobil itu mulai berjalan, mereka berempat mendengar bunyi klakson…dan mereka semua langsung melambaikan tangan pada mobil itu.
…kecuali Selin. Mata gadis itu memang melihat mobil Om Juan, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Akhirnya, mereka semua pun beranjak pulang. Selin, Aria, dan Maxi langsung masuk ke salah satu mobil bodyguard Om Juan, sementara Dylan pulang dengan mobilnya sendiri.
******
Pagi ini, Ethan Bennett duduk di tepi ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi luka. Luka dan lebamnya jauh lebih parah daripada Lucian, tetapi dia tidak mau pergi ke rumah sakit karena menganggap bahwa dirinya masih kuat untuk menanggung itu semua. Dia hanya meminta pelayan untuk membantu membersihkan dan mengobati lukanya.
Tiba-tiba, pintu kamar Ethan terbuka. Ethan langsung menatap pintu itu dan menemukan ayahnya yang masuk ke kamar dengan ekspresi murka. Tadi, ayahnya langsung mendobrak pintu itu dengan kencang; pria paruh baya itu masuk diikuti oleh dua bodyguard-nya.
Sang ayah langsung mendekati Ethan dengan mata nyalang. Dia tampak berapi-api, seperti ingin membunuh seseorang sekarang juga.
“SIAPA?!!” bentaknya. “BERANTEM SAMA SIAPA KAMU?!! Ayah bisa hancurin dia dan keluarganya sekarang!!”
Ethan memalingkan wajahnya, lalu mendengkus. “Lucian. Lucian Zacharias.”
Ayahnya mengangguk cepat. “Oke. Ayah bakal pastiin—wait. What did you say?”
Sebelah alis ayahnya terangkat. Pria paruh baya itu seolah-olah ingin memastikan pendengarannya.
Ethan mendengkus lagi. Dia malas menyebut nama anak itu. “Namanya Lucian Zacharias.”
Tepat setelah nama itu disebut,
…kontan saja ayahnya membulatkan mata.
Pria paruh baya itu mematung di tempat, seolah-olah baru saja tersambar petir yang dahsyat. Napasnya tersekat di tenggorokan. Kalimat itu terdengar bagai gong kematian yang bunyinya mampu menghentikan detak jantungnya seketika.
Dalam waktu secepat kilat, pria paruh baya itu langsung menarik kerah baju Ethan. Ethan yang tadinya terlihat cool (dan justru kesal karena harus menyebut ulang nama Lucian) kini spontan membelalakkan mata. Para pelayan yang ada di sana langsung panik dan menahan teriakan mereka. Ethan menganga; dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tatapan ayahnya terlihat begitu bengis; mata nyalang itu kini malah tertuju kepadanya.
Mengapa—mengapa ayahnya bertingkah seperti ini?! Mengapa ayahnya jadi marah kepadanya? Dialah yang terluka di sini!!!
Mr. Bennett mengeratkan cengkeramannya di leher Ethan hingga Ethan tercekik. Ethan, like a brat he is, malah marah pada ayahnya dan berteriak, “DAD, WHAT THE HELL IS THIS?!!!”
“Zacharias?” ulang ayah Ethan. Dia semakin mencekik Ethan dan memelototi anak itu. “KAMU BILANG DIA DARI KELUARGA ZACHARIAS?!!!”
“D—DAD!!!” Ethan mulai susah bernapas. Dia hanya bisa mencengkeram kedua tangan ayahnya, berusaha untuk melepaskan cekikan itu. Orang-orang di sana semakin terlihat panik, tetapi tak bisa berbuat apa-apa karena takut.
Dengan berang, Mr. Bennett pun mencampakkan Ethan ke lantai. Dia membanting tubuh Ethan tanpa belas kasih. “ITU ANAKNYA MR. ZACHARIAS, YOU LITTLE s**t!!!! DASAR ANAK KURANG AJAR!!!”
“H—Hah?” Ethan mendongak—menatap ayahnya—dan dahinya berkerut. “What—what do you mean, Dad? Siapa—”
Dalam waktu sepersekian detik, Mr. Bennett langsung mendekati Ethan dan meninjunya dengan sangat kuat. Pria paruh baya itu mendadak terlihat seperti beruang yang mengamuk.
Tinjuan itu pun akhirnya mendarat ke wajah Ethan tanpa henti. Pemuda itu ditinju habis-habisan, padahal dia sudah babak belur karena berkelahi dengan Lucian semalam. “ANAK SIALAN!!! APA KAMU TAU SIAPA AYAHNYA?!!!”
Tiba-tiba, ada seseorang yang masuk ke ruangan itu dengan terburu-buru. Dia terlihat panik, tak tenang, seperti baru saja kehilangan barang.
“Mr. Bennett!”
Ayahnya Ethan langsung menoleh ke pintu kamar. Ternyata, itu adalah sekretarisnya. Si sekretaris itu agaknya sedang bertelepon dengan seseorang di kantor perusahaan mereka dan langsung berlari menemui ayahnya Ethan sebelum sempat mematikan panggilan telepon itu. Kebetulan, ia sedang mampir ke rumah Keluarga Bennett karena ingin meminta tanda tangan Mr. Bennett.
Mr. Bennett pun mengernyitkan dahi. “Ada apa?”
Sekretarisnya itu terlihat gelisah. Matanya melebar sempurna. Wajahnya pucat. Dia terengah-engah karena habis berlari menuruni lantai dua.
“Pak,” panggilnya, suaranya terdengar bergetar. “Zach Enterprises menghentikan proyek kerja sama dengan perusahaan kita, Pak, dan hampir seluruh investor kita mundur.” []