17. Wealthy and Powerful Man (4)

1342 Kata
Chapter 17 : Wealthy and Powerful Man (4) ****** ITU adalah foto close-up. Diambil dari angle samping, menampilkan wajah tampan Om Juan yang memiliki hidung mancung dan rahang tajam. Om Juan mengenakan jas dengan motif salur hitam putih; dia menatap ke kamera dan tersenyum dengan penuh wibawa. Judul majalah itu adalah: JUAN A.D. ZACHARIAS The Power Behind Zach Enterprises Pipi Selin jadi merona. Om Juan ganteng banget… Terus terang saja, Selin datang ke sini cuma mau membeli buku resep. Dia cuma mau lewat pintu, masuk ke toko buku, lalu mencari rak buku resep. Namun, sebelum menginjakkan kakinya di toko itu, dia sudah dihadapkan dengan wajah Om Juan. Well, majalah bisnis biasanya memang diletakkan di rak depan (kalau di toko buku), tetapi sepertinya…Selin paham ‘alasan lain’ mengapa toko buku ini meletakkan majalah bisnis di rak paling depan. Alasan lain itu adalah: Juan Zacharias! Dengan melihat foto itu saja, mungkin banyak orang yang akan membelinya. Para pria mungkin akan membeli buku itu untuk belajar soal bisnis dan kesuksesan Om Juan, sementara para wanita… …mungkin hanya mau fangirling. Mungkin ada juga, sih, wanita yang mau belajar soal bisnis dari sana, tetapi kebanyakan pasti untuk fangirling. Soalnya, di dalam majalah itu pasti ada foto-foto Om Juan, ‘kan? Sial. Rak yang berisi majalah bisnis itu bahkan diberi plang ‘Best Seller’. Selin rasanya mau pulang saja. Atau pergi terapi. Soalnya, dia mau berhenti memikirkan Om Juan. Serius! Tidak sopan sekali rasanya memikirkan ayahnya Lucian sampai seperti ini. Kalau Om Juan tahu, mungkin dia akan terganggu. Selin diam-diam mau menangis. “Wah, Juan Zacharias makin lama makin ganteng aja, ya,” komentar Reese. “Makin tambah umurnya malah makin menggoda. Itu ayahnya temen kamu, ‘kan? Si Lucian.” Rona merah di pipi Selin langsung menjalar hingga ke telinga. Dia langsung menyeret Reese masuk ke toko buku itu dan berkata, “Udah, Kak, ayo kita cari bukunya sekarang!” Selin dan Reese pun mencari buku resep yang cocok. Berhubung Selin suka membuat kue, dia pun memilih buku resep yang isinya kebanyakan resep kue yang belum dia ketahui, termasuk macaron. Setelah membeli buku itu, Selin pun keluar dari toko buku dengan secepat kilat. Dia langsung mengajak Reese pergi ke baking supply store (ini toko favorit Selin banget!) untuk membeli almond flour, bubuk kakao, icing sugar, whipping cream, unsalted butter, dan dark chocolate couverture. Sambil berbelanja, Selin dan kakaknya sempat mengambil foto selfie. Reese yang mengambil fotonya, jadi Reese ada di depan. Selin ada di belakangnya, gadis itu tersenyum sambil memegang sekotak whipping cream. Selin meminta foto itu dari Reese, lalu meng-upload foto itu ke media sosialnya. Dua menit kemudian (saat Selin sedang melihat-lihat unsalted butter), ponselnya berbunyi. Ada sebuah notifikasi masuk. Selin melihat notifikasi itu dan ternyata, Maxi mengomentari fotonya. Elena Ruby Maximilian: Cieeee, belanja di mana, nih? Di toko biasa, ya? Kok nggak ngajak-ngajak?! Selin mengikik geli. Dia pun membalas komentar Maxi. Florentia Roselin Agrece: Diajak = bantuin bikin kuenya. Elena Ruby Maximilian: Buset! Mana ngerti aku bikin kue 🤣 Florentia Roselin Agrece: Ya udah, berarti udah bener nggak usah diajak Elena Ruby Maximilian: Jahat banget nih orang, woy, padahal aku sering juga ngawanin dia ke situ 😱 Florentia Roselin Agrece: Iya tapi malah nyusahin Elena Ruby Maximilian: HAHAHAHAHA LMFAO Elena Ruby Maximilian: Tapi seriusan, lho, aku bosen banget di rumah. Ajak aku, dong :( Florentia Roselin Agrece: Kami habis ini mau pulang, Maxi. Coba ajak Aria aja. Aria ke mana? Elena Ruby Maximilian: Walah, tuh anak udah dari kemaren sibuk ngeliatin Lucian terus di mansion, padahal Lucian udah sembuh tuh pasti :v Florentia Roselin Agrece: Lah, kok cepet banget?? Kan kejadiannya kemaren lusa. Kayaknya masih lebam ituu Elena Ruby Maximilian: Nggak. Aku video call-an sama Aria tadi pagi. Ada Lucian di situ. Jelas-jelas tuh bocah udah sembuh 🤣 Udah ketawa-ketawa, udah ngeselin kayak biasa. Tau sendirilah gimana kuatnya badan anak itu 🤣 Florentia Roselin Agrece: Astaga 😂 Terus apa gunanya Aria di situ? Elena Ruby Maximilian: Dia masih cemas sama Lucian. Lucian mah mungkin seneng-seneng aja. Mau pacaran, soalnya -_- Florentia Roselin Agrece: Hahahaha iya pastinya. Udah hafal juga akuu Elena Ruby Maximilian: Apalah daya kita yang single ini Elena Ruby Maximilian: …terutama kamu yang udah enam tahun nggak ada pacar :v Florentia Roselin Agrece: DIEM NGGAK?! Elena Ruby Maximilian: HAHAHAHAHAHAHA Selin pun tersenyum, lalu meletakkan ponselnya kembali ke saku celananya. Dia menyusul Reese di depan sana yang sedang melihat-lihat almond flour. “Udah dapet, Kak?” tanya Selin. “Hmm.” Reese mengangguk. “Yang ini aja.” Reese pun meletakkan almond flour ke keranjang belanjaan mereka. Selin lanjut mencari icing sugar dan bubuk kakao. Tak lama kemudian, mereka pun selesai berbelanja. Sesuai rencana, setelah selesai berbelanja, mereka pun langsung pulang. Selin ingin segera membuat macaron coklatnya di rumah. Akan tetapi, di sepanjang jalan di mall itu, Selin sempat melihat area men’s clothing store atau men’s fashion yang terkenal. Sebenarnya, di dinding kaca toko tersebut terpampang foto model yang sangat tampan dan hot. Ada yang memakai kemeja (dan kancingnya terbuka separuh), ada yang memakai jas, dan ada juga yang shirtless (hanya memakai jeans). Entah mengapa, melihat gambar-gambar pria itu…mengingatkan Selin pada Om Juan. Bukan bentuk tubuhnya, tetapi…keseksian six pack-nya. Bentuk tubuh mereka tentu tidak sama dengan Om Juan (Om Juan lebih maskulin; lebih well-built), tetapi otot-otot di perut mereka…cukup mirip. Kalau Om Juan jadi model…gimana, ya? Nah, kan. Pikiran Selin mulai melanglang buana lagi. Ugh. Let’s just go home. ******* Juan turun dari mobil dan disambut oleh seluruh bodyguard yang berjaga di mansion-nya. Sebenarnya, ada dua jenis bodyguard yang bekerja untuk Juan: 1. Bodyguard yang berjaga di mansion 2. Bodyguard yang mengikuti Juan ke mana-mana (saat Juan bekerja). Sebenarnya, bodyguard yang mengikuti Juan sejak tadi juga sudah turun dari mobil mereka dan membukakan pintu untuk Juan. Mereka lalu bergabung dengan bodyguard penjaga mansion untuk berbaris di sebelah kanan dan kiri Juan. Kepala pelayan (head butler) juga ikut menyambut Juan di dekat pintu masuk. “Selamat datang, Tuan,” sapa mereka semua seraya menunduk hormat. Juan mengangguk singkat. Dia berjalan ke pintu utama mansion, lalu menitipkan jas serta tasnya kepada sang head butler—Diego—yang berdiri di sana. “Lucian ada di rumah?” “Ya, Tuan. Tuan Muda ada di rumah,” jawab Diego. Juan pun mengangguk. Saat masuk ke mansion, orang yang mengikuti atau mengawal Juan dari belakang hanyalah Diego. Para bodyguard tetap berdiri di depan pintu. Mungkin, para bodyguard yang bertugas untuk mengikuti perjalanan kerja Juan akan pulang sebentar lagi. Tatkala Juan sedang naik tangga ke lantai dua (karena kamarnya ada di sana), dia pun mendengar suara Lucian. “Dad! You’re home.” Juan menoleh sejenak…dan menemukan Lucian sudah berlari mendekatinya. Mereka kini berada di tengah-tengah tangga. “Yes,” jawab Juan. “How are your wounds?” Lucian tertawa. “Udah sembuh dari kemaren, hahahaha!” Juan tersenyum seraya mengembuskan napas pelan. “Is Aria accompanying you today as well?” “Nah, itu dia yang mau aku bicarain, Dad! Aria datang ke sini juga hari ini, padahal sebenernya aku udah sembuh. Jadi, Dad, boleh nggak aku main ke rumah Aria besok malem? Aria perhatian banget ke aku, soalnya, padahal kondisiku biasa-biasa aja.” Lucian mengakak. Juan mengangguk pelan. “Okay. Avoid doing anything that might upset or anger her parents. Be nice.” Lucian mengangguk. Pemuda itu tersenyum. “All right, Dad. Good night!” “Hm,” deham Juan seraya mengusap kepala Lucian. Tanpa terasa, saat itu mereka sudah sampai di depan kamar Juan. Diego langsung menunduk hormat begitu Juan masuk ke kamarnya. Sepeninggal Juan, Lucian pun langsung berbalik. Pemuda itu menatap Diego dan tersenyum. “Diego, tolong siapin makan malem buat Ayah.” “Baik, Tuan Muda,” jawab Diego seraya menunduk hormat. Diego pun undur diri dari hadapan Lucian. Dia membereskan jas dan tas kerja Juan terlebih dahulu sebelum akhirnya mengarahkan para pelayan di rumah itu untuk menghidangkan makan malam Juan. Sambil menuruni tangga, Lucian mulai bertanya-tanya dalam hati. Dia tak pernah melihat ayahnya menggandeng wanita baru setelah ibunya meninggal. …walau pada kenyataannya, dia tahu alasan mengapa ayahnya menikah dengan ibunya. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN