16. Wealthy and Powerful Man (3)

1107 Kata
Chapter 16 : Wealthy and Powerful Man (3) ****** SLIDE berikutnya menampilkan botol parfum kaca gelap dengan label emas, disusul dengan rangkaian produk skincare. “Lumière Noir difokuskan pada dua kategori utama: parfum dan skincare premium. Parfum Lumière Noir dirancang sebagai signature scent; aromanya dewasa, bersih, dan sensual. Sementara itu, lini skincare Lumière Noir dikembangkan sebagai perawatan kulit kelas atas yang berfokus pada regenerasi dan peremajaan.” VP itu terus mempresentasikan parfum dan jajaran skincare Lumière Noir dengan detail. Juan memperhatikan semuanya dengan saksama; sesekali dia mengangguk…dan memberikan komentar atau pertanyaan. Setelah selesai memperkenalkan produk baru itu, sang VP pun menatap Juan kembali. “Seluruh rangkaian telah menyelesaikan uji klinis dan sertifikasi. Kami menunggu keputusan final Bapak untuk memulai produksi massal dan peluncuran.” Juan diam sebentar. Dia lalu menurunkan tangannya dari depan dagu, lalu berbicara dengan suara yang rendah dan stabil. “Lanjutkan ke tahap produksi massal.” Semua orang terdiam—seperti menahan napas—tetapi diam-diam merasa sangat senang karena produk mereka di-approve Juan. Di dalam struktur Zach Enterprises yang mendunia, Juan hanya akan turun langsung ketika sebuah keputusan berada pada tingkat foundational, yakni ketika sebuah lini baru akan dikukuhkan sebagai pilar empire, ketika arah strategis global akan ditetapkan, atau ketika sebuah nama akan resmi lahir di bawah naungan Zach Enterprises. Dalam momen-momen seperti itu, kehadiran Juan bukan sekadar formalitas, melainkan otoritas terakhir yang mengikat seluruh struktur perusahaan. Hari ini, otoritas itu hadir untuk satu tujuan, yaitu memberikan final approval atas peluncuran Lumière Noir. Juan menoleh kepada Managing Director. “Silakan rilis di bulan Oktober. Saya ingin distribusi tahap pertama difokuskan di Belmontia. Boutique flagship harus siap sebelum kampanye dimulai.” Setelah itu, ia menatap para VP. “Lakukan peluncurannya melalui private Lumière Noir Pavilion. Saya tidak mau booth publik.” Semua orang mulai mencatat perintahnya. “Undangan terbatas. Fokuskan pada klien private, partner hotel, dan investor. Saya ingin kesannya eksklusif sejak hari pertama,” lanjut Juan. “Namun, berikan private privilege di batch pertama.” Mendengar itu, VP of Marketing pun berdiri. “Baik, Pak Juan,” ujarnya. “Terkait private previlege, kami sudah mempersiapkannya.” Di layar, terbukalah satu file presentasi yang berbeda. Judul presentasi itu adalah ‘PRIVATE PRIVILEGES — LUMIÈRE NOIR’. Ia menekan tombol pada remote, lalu layar pun berganti. “Berikut adalah serangkaian private privileges untuk para tamu undangan, Pak,” ujar sang VP. “Pertama, Founders’ Allocation. Para tamu undangan akan mendapat akses eksklusif ke batch produksi pertama sebelum rilis publik.” Slide berganti. “Kedua, Signature Engraving. Setiap botol parfum atau produk skincare batch pertama akan diukir dengan inisial pemiliknya.” “Ketiga, Private Scent Ritual. Ini dikhususkan untuk produk parfum, yakni sesi personal fragrance fitting bagi klien undangan.” “…lalu yang terakhir, Lumière Noir Pavilion Set. Ini adalah paket edisi terbatas yang hanya tersedia pada hari peluncuran.” VP itu lalu menatap Juan kembali. “Seluruh privilege ini dirancang untuk menegaskan kesan eksklusif Lumière Noir sejak hari pertama.” Juan pun mengangguk. “Baik. Silakan dilanjutkan. Laporkan perkembangannya pada saya.” Tak lama kemudian, rapat itu pun selesai. Semua orang mulai rileks. Lampu dihidupkan kembali sepenuhnya. Juan mulai bersandar; beberapa petinggi di sana juga sudah mulai bersandar. Satu menit kemudian, beberapa staf hospitality Zach Lune langsung masuk ke ruang meeting. Mereka membawa nampan-nampan yang berisi hidangan ringan. Mereka lalu meletakkannya di atas meja—di depan masing-masing peserta meeting—setelah memberi hormat sejenak. Begitu selesai memberi hidangan-hidangan itu, mereka semua pun keluar dari ruangan. Sambil memakan hidangan itu, semua elite di sana pun mulai mengobrol dan tertawa ringan. Mereka semua mengajak Juan berbincang, saling bercerita seputar kegiatan di perusahaan, tetapi tetap sopan padanya. Namun, tiba-tiba saja, pembahasan itu mulai menyentuh topik pasangan. Sepertinya, itu terjadi karena Managing Director bercerita soal istrinya yang membangunkannya jam 4 pagi saat Zach Lune mengadakan sebuah event bulan lalu. Juan mendengarkan cerita mereka semua. Dia tersenyum, mengangguk, sesekali merespons dan tertawa ringan. Namun, ujung-ujungnya, jadi banyak yang ingin tahu soal ‘pasangan’ Juan. …mungkin karena sangat penasaran. Mereka semua sibuk bertanya, bahkan ada yang sampai berdebat seperti: ‘Ya itu terserah Pak Juan juga, ‘kan?’ ‘Iya, tapi jujur, saya penasaran.’ ‘Tapi itu privasi beliau.’ ‘Pak Juan itu terlalu sempurna untuk terus-terusan sendirian.’ Mereka malah saling menimpali, sampai-sampai Managing Director dan Juan jadi tertawa kecil. Mendengar tawa Juan, Managing Director pun langsung menatap Juan dengan penasaran. “Tapi serius, Pak, apakah Bapak tidak sedang tertarik dengan wanita mana pun? Kami semua berharap…suatu hari nanti Bapak menemukan pendamping yang tepat.” Ruangan itu seketika hening. Jujur saja, itu adalah pertanyaan yang sangat berani!! Namun, tak bisa dipungkiri, semua orang pun sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama. Akibatnya, semua mata langsung tertuju pada Juan. Mereka menahan napas. Menunggu jawaban Juan. Jujur saja, itu adalah hal yang selalu ingin orang ketahui tentang Juan. Juan Zacharias yang sangat kuat dan berada di level yang berbeda. Juan Zacharias yang terasa seperti langit, mustahil untuk disentuh. Diam-diam, semua orang begitu penasaran dengan kehidupan romantisnya. …terutama para perempuan. Ya jelas saja, Juan adalah manusia yang setampan itu! Mana mungkin mereka tidak penasaran! Apa pun jawaban Juan atas pertanyaan Managing Director barusan, itu pasti akan menghebohkan banyak sekali manusia. Namun, ternyata… …Juan tidak menjawab apa pun. Dia hanya diam… …lalu pelan-pelan tersenyum miring. Membuat semua orang di ruangan itu seketika melebarkan mata. ****** Keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi, Selin dan kakaknya pergi ke mall. Mereka masuk ke toko buku terlebih dahulu karena ingin mencari buku resep. ‘Kak, ke toko buku dulu, yuk. Aku mau cari buku resep,’ kata Selin saat mereka baru menginjakkan kaki di mall. Reese pun setuju. Begitu sampai di depan toko buku (di lantai tiga mall), mereka langsung disambut dengan rak majalah bisnis yang terletak di dekat pintu masuk. Rak itu berdiri paling depan, berjejer rapi di antara surat kabar dan majalah lifestyle. Namun, saat melihat majalah-majalah bisnis itu, mata Selin spontan membulat. Tubuhnya mematung di depan pintu. Di sana, di cover majalah-majalah bisnis itu… …ada wajah Om Juan!! Ah, siaaaaal!!! Kok sekarang di mana-mana ada Om Juan, sih? Apakah Selin berhalusinasi lagi? Waktu itu, wajah dosen Selin berubah jadi wajah Om Juan. Sekarang, apakah wajah seseorang di majalah itu berubah jadi wajah Om Juan juga? Selin tak bisa melarikan diri dari Om Juan barang sedetik pun, bahkan saat di toko buku. Siaaal! (Well, sebenarnya, Juan sudah sangat terkenal dari dahulu, tetapi Selin baru menyadari keberadaan Juan akhir-akhir ini karena pernah bertemu langsung di mansion. Selain itu, selama ini…Selin juga tak pernah benar-benar memperhatikan majalah ekonomi atau bisnis.) Namun, damn. Ternyata, itu bukan halusinasi! Soalnya, wajah Om Juan tak kunjung hilang! Itu benar-benar foto Om Juan! []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN