Chapter 15 :
Wealthy and Powerful Man (2)
******
“WAH!” Mama melebarkan mata. “Ya itu kabar bagus, sih, tapi kok kalo dipikir-pikir temennya itu kurang peka, ya? Kok malah ngasih tau kamu. Harusnya yang kayak gitu tuh surprise, ‘kan?”
Papa tersenyum, lanjut menyendok supnya. “Mama malah salah fokus.”
Reese jadi mengakak. “Iya, nih, haha! Tapi kalo dipikir-pikir…bener juga, lho, Pa. Temennya itu kurang bisa liat situasi, hahahahaha! Seneng, sih, tapi aku jadinya udah nggak kaget lagi.”
Mama ikut-ikutan tertawa.
Setelah itu, Papa mengernyitkan dahi. Pria berusia 50 tahun itu pun kembali berbicara, “Tapi kamu yakin mau nikah muda? Ya Papa tau kalo kalian udah lama pacaran…dan kerjaan kalian udah sama-sama stabil, tapi kamu beneran mau nikah sekarang?”
“Ya kalo dia emang beli cincin nikah—bukan cincin tunangan—sih aku oke-oke aja nikah sekarang. Takutnya yang dia beli itu masih cincin tunangan,” ujar Reese seraya tertawa. Mama jadi tertawa lagi.
Papa tersenyum, lalu menggeleng. “Ada-ada aja. Pastiin dulu itu cincin apaan, kalo gitu.”
Well, Papa dan Mama sudah merestui hubungan Reese dan Kevin. Kevin adalah pria baik yang sayang pada Reese dan keluarganya. Selin juga sering melihat Kak Kevin datang ke rumah mereka untuk bersilaturahmi pada Mama dan Papa. Itu bukan pemandangan yang asing lagi.
Tiba-tiba saja, sambil makan nasi, Reese pun menoleh kepada Selin. “Kamu gimana, Lin? Kapan punya pacar? Kayaknya udah bertahun-tahun kamu nggak pernah pacaran lagi. When did you have a boyfriend again? Was it six or seven years ago?”
Mama tertawa. Geli sekali rasanya mendengar ucapan Reese dari tadi.
Selin memasukkan makanan ke dalam mulutnya, lalu dengan ekspresi datar (separuh melamun), dia menjawab, “Nggak, Kak. Nggak ada. Aku akhir-akhir ini sibuk mikirin om-om, soalnya.”
Mendengar itu, baik Mama, Papa, maupun Reese…
…semuanya jadi melongo.
Tangan mereka—yang mau memasukkan makanan itu—terhenti di udara.
Mereka semua menatap Selin dengan mata melebar.
…hah?
…apa katanya tadi?
‘Om-om’?
Reese adalah orang pertama yang merespons. Gadis itu mengedipkan matanya dua kali, lambat, lalu bersuara:
“…om-om?”
Mendengar ucapan Reese, barulah mata Selin membeliak; pipinya langsung memerah. Buru-buru dia menggaruk tengkuknya, lalu menatap ketiga orang di sana dengan canggung. “Ah—haha… Nggak, nggak. Aku cuma bercanda.”
Selin jadi bangun sepenuhnya sekarang.
Mendengar jawaban Selin, baik itu Mama, Papa, maupun Reese, mereka semua langsung menghela napas. Reese pun berkomentar, “Ada-ada aja.”
Selin tertawa canggung; dia hampir keringat dingin. Keluarganya kembali makan, begitu pula dirinya. Namun, jujur saja, dia sudah tak fokus makan lagi gara-gara keceplosan soal om-om tadi.
Sekitar lima detik kemudian, Selin pun teringat sesuatu. Dia langsung menatap kakaknya—dengan mata yang melebar karena penasaran—dan berkata, “Oh, iya, Kak. Gimana? Besok jadi nggak kita bikin macaron coklat?”
Reese minum sejenak, lalu saat meletakkan gelasnya kembali di atas meja, dia mengangguk. “Jadi. Besok pagi, ayo kita beli bahan-bahannya.”
******
Juan melangkah menuju pintu utama gedung Zach Lune—salah satu anak perusahaan Zach Enterprises yang bergerak di bidang Luxury Lifestyle & Personal Goods—di kota Belmontia (kota yang bersebelahan dengan kota Velmora, tempat di mana kantor pusat Zach Enterprises/Zach Tower berada). Seperti biasa, saat dia turun dari mobil, sudah banyak orang yang berbaris di sisi kiri dan kanannya, menyambut kedatangannya di sana. Para petinggi di Zach Lune juga berbaris untuk menyambutnya (Managing Director, para Vice President (VP), General Manager, dan lain-lain). Seluruh staf anak perusahaan itu sudah mempersiapkan diri sejak jauh hari karena tahu bahwa bos teratas mereka—Juan A.D. Zacharias—akan melakukan kunjungan hari ini.
Mereka semua menyapanya dengan kalimat: ‘Selamat datang, Mr. Zacharias.’ saat dia mendekat. Sebenarnya, mereka sudah menunduk hormat tatkala melihat mobil hitam Juan beserta mobil-mobil bodyguard-nya memasuki area gedung.
Juan mengangguk dan tersenyum. Para pimpinan Zach Lune langsung menjabat tangannya, menyapanya dengan ramah. Bertanya soal perjalanannya kemari. Setelah itu, mereka mulai berjalan di belakang Juan. Semuanya mengikuti Juan, kecuali Managing Director yang berjalan di samping Juan; sebagai pemimpin di anak perusahaan itu, dia harus menemani dan menunjukkan arah ke ruang meeting pada Juan.
“Mari ke sebelah sini, Pak. Semuanya sudah disiapkan,” kata sang Managing Director seraya menunjuk ke kanan dengan menggunakan telapak tangan yang terbuka.
Juan mengangguk.
Selain dari para petinggi, sebenarnya ada juga karyawan-karyawan lain yang ikut menyambut Juan. Seperti resepsionis dan lain-lain yang wajahnya dianggap oke dan penampilannya rapi (biasanya perempuan). Jujur saja, semua orang (terutama yang bekerja di bawah tatanan Zach Enterprises) tahu bahwa Juan A.D. Zacharias adalah makhluk yang sangat memesona, punya daya tarik yang matang, dan mampu menguasai ruangan hanya dengan keberadaannya. Namun, kalau dilihat dari dekat, ternyata ketampanannya jauh lebih fatal. Dia mampu membuatmu menahan napas tatkala melihatnya secara langsung.
Setelah masuk ke ruang meeting, Juan pun dipersilakan duduk di tengah-tengah. Tatanan meja dan kursi di ruang meeting itu membentuk huruf U. Juan duduk di posisi pusatnya, di titik utama yang menghadap ke seluruh peserta rapat. Cukup banyak yang menghadiri rapat itu: satu Managing Director (posisi tertinggi Zach Lune), lima VP dan GM dengan tanggung jawab yang berbeda-beda, serta para brand guardians, yaitu: Creative Director, PR & Media Manager, dan Legal & Compliance Lead. Di depan sana, sudah ada layar besar yang memperlihatkan final launch presentation lini produk terbaru Zach Lune.
Begitu Juan duduk, Managing Director Zach Lune (yang duduk di sayap kiri bersama para Vice President) mulai berdiri.
“Selamat pagi, Pak Juan.”
Semua orang yang hadir di sana ikut berdiri. Mereka lalu menyapa Juan secara bersamaan.
“Selamat pagi, Pak.”
Juan mengangguk pelan, lalu tersenyum simpul.
“Selamat pagi.”
Setelah Juan menjawab, mereka pun duduk kembali.
Managing Director mulai membuka foldernya. “Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk hadir langsung di Zach Lune, Pak, dalam rangka final approval peluncuran lini produk terbaru kami. Hari ini, kami akan mempresentasikan final readiness untuk peluncuran produk tersebut.”
Sang Managing Director mulai menoleh sedikit ke layar. “Tim Product Lab, Marketing, Operations, dan Retail telah menyiapkan seluruh aspek peluncuran; mulai dari formula, packaging, distribusi, hingga campaign.”
Juan menatap layar.
Setelah itu, Managing Director menatap Juan kembali. “Kami siap menerima arahan dan keputusan final dari Bapak.”
Juan mengangguk. Ia pun menumpukan sikunya di meja; jemarinya saling terjalin di depan dagu.
“Baik,” jawab Juan. “Silakan dimulai.”
Lampu ruang meeting sedikit diredupkan. Layar besar di depan ruangan itu pun menyala lebih terang, menampilkan slide pertama. Di sana, terpampang logo perusahaan Zach Lune di atas background putih bersih.
Salah satu Vice President di sisi kiri meja—VP of Product Development—segera berdiri. Ia menunduk hormat sebentar ke arah Juan sebelum mulai berbicara.
“Selamat pagi, Pak Juan,” ucapnya dengan nada formal. “Izinkan saya memperkenalkan lini produk terbaru dari Zach Lune.”
Ia menekan sebuah tombol di remote yang sedang ia pegang. Slide pun berganti.
Kini, yang terpampang di depan sana adalah logo baru berwarna hitam pekat dengan aksen emas.
LUMIÈRE NOIR
“Untuk lini produk terbaru ini,” ucapnya. “kami memperkenalkan Lumière Noir: signature beauty house Zach Lune.” []