“Loh, yang lain mana”tanyaku begitu sampai di gazebo pinggir lapangan L yang hanya berisi manusia minim ekspresi, Genta.
“Arina ada rapat mingguan kalau Malik ban motornya bocor jadi nanti nyusul” jelasnya dengan senyum lebar yang jelas bukan ciri khasnya sama sekali. Bahkan selama hampir 3 tahun aku mengenalnya, nggak pernah liat dia senyum selebar ini mana matanya keliatan bahagia banget lagi, jadi ganteng, eh.
“Oh gitu, kamu udah daritadi?” tanyaku basa-basi dan membalas senyumnya singkat, malu.
“Iya, tadi sore ada rapat sama anak-anak perkap jadi daripada bolak-balik mending nunggu disini sekalian” entah apa yang salah tapi hari ini, tepatnya malam ini di bawah atap gazebo pinggir lapangan L3 dia dengan murah hatinya selalu menyuguhkanku senyum manisnya itu, kalau aku baper gimana? kuatkan imanku Ya Allah.
“Sore? Serius? Bukannya mending balik ke kosan dulu, kalau nunggu dari sorekan berati kamu udah nunggu lebih dari 2 jam”heranku yang melihat wajahnya tetap fresh tanpa terlihat gurat lelah apalagi muka kusam, ini orang ngibul ya? Beratikan dia udah di kampus seharian karena jadwal rombel kami hari ini usai pukul 3 sore yang mana setelah itu sukses membuatku menjelajah pulau kapuk selama 2 jam.
“Lebih tepatnya 3 jam 15 menit karena tadi rapatnya selesai jam 5 kurang 15 menit”
“Udah makan? Kalau belum mending kamu makan dulu sana sekalian nungguin Malik”
Jangan anggap ini perhatian! Maksudku menyuruhnya makan malam dulu adalah biar dia pergi biarpun cuma 10 menit, itu lebih baik daripada berduaan melulu karena nungguin si Malik yang entah kapan nyampenya. Arina sudah pasti nggak ikut karena rapat mingguan anak MUISII (Mahasiswa Universitas Indera Sarasvati Cinta Investasi) itu biasanya selesai jam 10an, keburu lumutan nungguin si Arina.
“Udahkok tadi sama Dika”mati aku, niat hati mau ngusir halus malah dikasih senyum manis yang tumben masih aja betah nempel dibibir tebalnya, kalau kata Ana, kissable.
“Oh…” jawabku kikuk.
Mati aku, ini terus mau ngapain? Mau diskusi masalah tugas bingung, mau sok-sokan curhat bukan gayaku banget, mau nanya-nanya takut dikira sok akrab karena kita berdua nggak ada indikasi bakalan bisa akrab. Batinku seraya mengamati beberapa kelompok mahasiswa yang juga sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang ngerjain tugas, lagi bercanda, latihan padus bahkan gerombolan orang pacaran di depan ruang C3-117.
“Kita mau nyicil yang mana dulu?” tanyanya memecahkan canggung yang telah menyelimuti hampir 10 menit ini, aku dengan lamunanku dan dia sepertinya dengan gadgetnya.
“Kita dapet tema apa buat PInya? Kayaknya lebih gampang yang PI daripada Esdal jadi mending buat yang gampang dulu aja”
“Pi Konsumsi Masyarakat kalau ESDAL Hutan Kota, mau yang mana dulu? Waktu presentnya soalnya sama-sama pertemuan ke 9 habis UTS”
“Menurut kamu enaknya yang mana dulu? Bingung, sama-sama susah”
“Coba cari referensi tentang PI dulu aja gimana? soalnya kalau hutan kota paling nanti kita pakenya data primer kalau konsumsi masyarakatkan bisa nyari di BPS” aduh, itu tatapan kenapa sahdu amat yak, tajem-tajem sedap gitu.
“Emm… ya” gumamku pelan karena ngeri dipelototin, jujur aja efek matanya yang agak belo itu kalau ditatap intens berasa lagi dipelototin, serem.
“Woy” tiba-tiba suara berat yang berasal dari lelaki berperawakan tinggi dan berkulit kecoklatan itu berhasil membuyarkan konsentrasiku terhadap deretan huruf penyusun jurnal yang memenuhi layar laptop hitamku.
“Ngapain lo disini, Sep?” entah kenapa setiap denger Genta bicara menggunakan gaya bahasa itu, lo-gue, ngerasa aneh. Mungkin karena selama ini ketika berbicara denganku terbiasa menggunakan bahasa yang sopan kali ya, aku-kamu.
“Kepo, nggak usah sok nanya-nanya! Biasanya gue jungkir balik nyari kunci mobil di depan lo aja cuman dianggurin, kenapa sekarang pas lo liat gue dikampus begini kepo? Nggak penting amat pertanyaan lo
kayaknya kebanyakan temen-temennya Genta adalah golongan cowok ceriwis dengan urat malu tipis, gila aja ngomong begitu pake suara komandan upacara jadinyakan mereka-mereka yang sebelumnya pada sibuk dengan urusannya masing-masing ganti fokus kesini.
“Sialan lo, nggak usah belaga jadi korban PHP! Geli gue, sana pergi kalau lo kesini cuman mau bikin gue malu”
“Baperan amatsih lo kayak cewek aja, eh ada cewek” satu kata untuk teman Genta yang satu ini, genit.
“Ya?” Wulan b**o! Harusnya diemin aja sekarang liat senyum lebar penuh konspirasinya itu, hiiii… bikin merinding entah apa sebabnya padahal secara tampang dia kemungkinan bakal dapet nilai 8/10, soalnya Genta lebih manis, eh.
“Mbak maukan jadi pacarnya Genta” ini bukan permintaan tapi pernyataan!
Edan, stress, gila, sinting, b**o, i***t, nggak waras, apalagi ya julukannya? Maksudnya apa coba? Kalau aku baper gimana, eh. Sadar wulan! Bahkan gara-gara pernyataan itu ternyata aku tanpa sadar tahan napas buktinya giliran inget harus napas aja jadi megap-megap mirip ikan lohan begini.
“Septian Putra Muwardi! Pergi!”
Kuharap telingaku salah tangkap “Gangguin aja, ini juga lagi usaha” gumamnya lirih berbanding terbalik dengan teriakan sebelumnya tapi semuanya sukses membuat jantungku kelelahan karena harus berdetak diatas normal.
“Iya-iya yang mau berduaan aja. Mbak hati-hati ya,sekarang manusia lebih nyeremin daripada setan apalagi orang disebelah mbak itu, suka bermulut dua”
“Hah?”kayaknya aku bakalan berumur pendek kalau orang yang tadi dipanggil Genta sebagai Septian Putra Muwardi ini masih disini dengan mulut penuh racun kehidupannya.
“Sialan, pergi lo!”
Astaughfirullah, Genta kalau begitu keliatan serem banget ya. Batinku menatap ngeri pemandangan lelaki yang hampir 3 tahun ini kukenal pendiam, sopan, dan agak misterius meneriaki temannya yang lebih pantas dilempari lemari, mulutnya terlalu beracun.
“Iya-iya, nih gue kasih tahu bulat. Lumayankan, belum sempet gue makan karena orang yang ngajak keburu rapat darurat entah sampai kapan, gue balik dulu. Jan pada kangen ya! Bye Gentong dan mbak calonnya”boleh nggaksih itu mulutnya dilakban aja, soalnya suka bikin jantung anak orang kebat-kebit.
“Kamu bisa makan pedeskan? Soalnya si Septian kalau beli tahu bulat suka khilaf masukin bubuk cabenya” tanyanya ramah yang entah kenapa mukanya keliatan sedikit merah, mungkin efek marah abis direcokin temennya.
“Ya, nggak masalahkok. Makasih” balasku kikuk.
Ya Allah sumpah rasanya abis temennya si Genta pergi jantungku nggak mau balik berdetak normal lagi, nyeremin. Mudah-mudahan aja si Genta cuman manusia biasa jadi nggak ada antena atau sinyal-sinyal aneh dikupingnya sampe bisa denger detakan jantungku yang ramenya ngalahin ibu-ibu berebut barang obralan akhir tahun.
Astaughfirullah, inimah bukan khilaf lagi tapi emang satu botol dimasukin semua. Batinku begitu mencicipi sebuah tahu bulat yang disodorkan Genta, efek mau nolak nggak enak.
“Kamu nggak papa? Muka kamu merah banget, bentar aku cariin minum dulu”katanya panik begitu melihat wajah dan bibirku memerah bahkan mataku sudah berkaca-kaca dengan hembusan nafas satu-dua.
“Uhuk-uhuk”kurasakan tepukan dipunggungku setelah dirinya kembali dengan sebotol air mineral dingin.
“Minumnya pelan-pelan aja, takutnya kesedak” titahnya pelan tetap dengan mengelus-elus punggungku ketika dengan patuh kuminum air mineral yang sudah dibukakannya.
“Alhamdullilah, kamu nggak minum?”gumamku pelan karena masih merasakan jejak-jejak sensasi terakar dibibir.
“Aku udah biasa apalagi kalau keluar sama Septian, buat kamu aja minumnya”padahal bibirnya merah banget tapi diakok bisa tetep keliatan santai begitu. Nggak bohong, itu bukan tahu bulat biasa tapi tahu bulat digoreng di neraka.
“Minum aja, kamu belinyakan cuma satu. Aku udah nggak papakok”kataku karena kasihan melihat bibirnya yang lebih merah daripada pengguna liptintnya tony moly, seksi, Astaughfirullah.
“Gue telat 10 menit aja bibir kalian udah pada jontor apalagi kalau gue telat 30 menit pasti kalian udah telanjang”tiba-tiba suara berat yang hampir 20 menit ini ditunggu-tunggu sumbernya datang membuat Genta yang tengah menelan air mineral menjadi tersedak, Muhammad Malik Ibrahim.
“Uhuk-uhuk...... akh....”kasian juga ngeliatnya kesedak begitu apalagi dia abis makan 2 biji tahu bulat dari neraka tapi mulutnya Malik minta ditampol juga, hingga akhirnya membuatku memilih menghampiri Malik dan menepuk punggungnya keras daripada membantu Genta meredakan batuknya.
“Dateng telat bukannya minta maaf malah fitnah nggak jelas begini, maksudnya apa?” gerutuku jengkel menatap tajam lelaki berkaos hitam bergambar itik kuning itu, tipikal Malik sekali, eksentrik.
“Gue dateng bibir kalian aja merah-merah sama napas megap-megap begitu, kalau nggak abis cipokan apalagi? Nyemil cabe rawit? Si Gentakan nggak doyan pedes”kutatap cepat wajah Genta yang saat ini memerah dan memandangku, nanar? Maksudnya apa coba ngeliatin begitu, bikin ngeri aja.
Masak dia nggak doyan pedes padahal tadi waktu aku baru nyoba sebiji aja dia udah makan dua biji dan dia keliatan nyantai aja, apa karena memang akunya yang nggak peka ya? Apa itu cuman pencitraan? Tapi mukannya nggak merah dan nafasnya juga biasa aja, nggak megap-megap tapi udahlah yang penting sekarang adalah meluruskan kesalahpahaman yang bersumber dari imajinasi kreatifnya Malik.
“Enggakok, kita abis makan tahu bulat yang dikasih temennya Genta tadi” jelasku cepat karena setelah Genta menyadari diriku kepedasan memakan tahu bulat itu dirinya membuang tahu bulatnya yang masih tersisa 4 buah.
“Udah, nggak usah malu-malu Wul. Sepikok ini”dosa nggaksih doain Malik tenggelam di kolam ikan depan fakultas?
Hipotesisnya ituloh bias dan berujung fitnah kejam. Dijamin mulut comelnya itu besok pagi atau mungkin jemari tajamnya setelah ini akan merangkai cerita fiktf antara aku dan Genta di grup rombel tentang kejadian imajinatif yang dituduhkannya itu. Tahu bulat k*****t, pokoknya abis ini aku bakalan puasa nggak makan tahu bulat sampe lulus kuliah! Semua gara-gara tahu bulat, aku benci tahu bulat! Huaaa.. ibu... pusing.