Kuhela nafas berat karena sejak kaki ini sampai di ruang C6-219 bunyi cuit-cuit mirip burung tersedak biji kedondong terdengar bersahutan dari penghuninya, rombel EP A 2016. Ditambah sekarang matkulnya pak Kahfi yang memang memiliki watak santai dan selalu bertingkah sok akrab, mana dandanannya kasual mirip mahasiswanya lagi.
Minggu pertama yang biasanya berisi perkenalan singkat membosankan dan penjelasan kontrak kuliah beserta RPSnya malah berganti percie-ciean hampir sepanjang 2 sks ini. Semua ini gara-gara jari tajamnya Muhammad Malik Setiawan yang diam-diam mengirimkan fotoku berdua bersama Genta yang menunggu Malik semalam dilengkapi beberapa cerita fiktif karangannya.
"Kalian tahu tanda-tanda jodoh nggak?"
Astaughfirullah, kapan tausiyah yang menjurus pencie-ciean ini berakhir? Batinku nelangsa begitu pak Kahfi melemparkan pertanyaan yang menurut sebagian besar penghuni ruangan ini biasa saja tapi terasa mendebarkan untukku yang saat ini menjadi objek pencie-ciean teman-temanku itu.
"Sikapnya mirip pak" entah kenapa dari sekian banyak jawaban yang bisa mereka ucapkan, justru kalimat itu yang dengan kompaknya mereka teriakan seraya menatapku dengan sorot mata menggoda, asem.
"Iyasih, tapi masak cuman itu aja? Kayaknya kalian ngomong gitu sengaja buat nyindir yang tadi itu ya? Yang kalian lakukan itu, JAHAT"
"Nggaklah pak. Kan tujuan kita baik, biar mereka lebih yakin aja gitu pak. Ya kan, Wul. Wulankan orangnya susah diyakinkan pak" Malik nyebelin.
Tepat setelah pernyataannya itu, spontan pandangan seluruh orang mengarahku seolah mengungkapkan cie.... tanpa bersuara.
"Emang sikap mereka mirip? Kalau diperhatiin emang miripsih mukanya"
Astaughfirullah, astaughfirullah, astaughfirullah, astaughfirullah,astaughfirullah, batinku beristighfar mencoba bersabar dan menebalkan muka dari segala macam tuduhan tak berdasar yang semuanya berasal dari salah paham yang sudah coba kuluruskan tapi tak dipercaya.
Jadi pengen cuti tapi sayang udah semester 6, kalau ditinggal cuti nanti makin lama lulusnya. Nggak ditinggal cuti aja nggak menjamin cepet lulus apalagi ditinggal, mungkin ini yang dirasakan Mahapatih Gajahmada waktu makan buah simalakama.
"Ooohh.... jadi yang nggak yakin Wulannya? Semangat ya bro, biasanya yang susah didapetin itu orangnya setia dan nggak suka neko-neko"tolong tenggelamkan diriku di Segitiga Bermuda! Susah punya dosen kayak pak Kahfi ini, bikin jantung kebat-kebit melulu.
Entah berapa lama lagi pembahasan kontrak kuliah yang lebih dari 2 jam ini malah berisi tentang pencie-ciean diriku dan Genta akan berakhir.
Punya temen bukannya belain malah paling semangat mencie-cienya, kayaknya semester ini akan kulalui dengan banyak bumbu cie-cie yang entah kapan akan mereka lupakan.
Ketemu aja empat hari seminggu selama hampir 21 jam sukses membuat sisa 147 jamku selalu gelap gulita bahkan sampai dalam mimpi.
"Capek juga ya cie-ciein kalian, kita akhirin pertemuan cie-cie kita hari ini ya gengs. Minggu depan bawa buku pendampingnya dan lupakan kegiatan cie-cienya karena kita akan belajar Sejarah Perekonomian Indonesia yang dijamin lebih seru dibanding cie-ciein pasangan yang masih kayak tikus berdasi itu. selamat pagi, sampai jumpa minggu depan, assalamu'alaikum wr.wb" tanpa menunggu balasan dari mahasiswanya, dosen muda yang alhamdullilahnya sudah taken dan punya buntut satu itu berlalu meninggalkan ruangan dengan langkah ringan layaknya mahasiswa ketika jam kuliah usai.
Kalau pak Kahfi belum taken bisa jadi novel romansa ala remaja yang saat ini marak, soalnya muka Pak Kahfi itu masuk kategori ganteng laki-laki khas Indonesia. Udah taken dan punya buntut satu aja masih sering jadi bahan pergibahan dan khayalan kaum hawa yang mengidolakan sosoknya yang supel dan bersahaja, kecuali diriku yang justru tidak nyaman dengan sikapnya yang terlalu bersahaja itu.
"Anj, mirip tikus berdasi, koruptor dong lu Wul" Hesti k*****t, temen sendiri dikatain koruptor.
"Terserah kamulah Hes, pulang kos dulu yuk. Capek kalau nunggu sampe jam satu nanti" ajaku mengabaikan senyum usil mereka yang masih betah menempel diwajah mereka.
"Males, tapi kalau nggak balikok ya jadi kambing congek disini. Yaudah yuk balik, tapi mampir beli pecel di warung bu Reni dulu ya"
"Oke.Ya, ikut ke kosku aja yuk daripada sendirian disini" ajaku pada Deana yang sibuk menscroll beranda Twitternya dengan senyum lebar yang betah menghiasi wajah manisnya itu.
"Nggak papa aku ikut kamu Wul?"tanyanya sungkan.
"Nggak papa, yuk! Raya sama Nita udah nungguin di depan tuh"ajaku ceria dan melangkah ringan menghampiri Nita dan Raya yang telah menunggu di luar sementara Hesti tengah mampir ke kamar mandi.
"Mau kemana lo Wul?"cegat Arina dibangku deretan depan begitu melihatku hendak keluar ruang kelas.
"Pulanglah, kenapa?"
"Enak aja, ayok kumpul kita mau bahas tugas"perintahnya dengan nada menyebalkan.
"Serius? Kan semalem udah"protesku, nggak terimadong masak tiap hari kerja kelompok. Kerajinan amat, amat aja belum tentu rajin.
"Kan semalem anggotanya nggak lengkap jadi harus kumpul lagi dong, lagian semalem bukannya kalian nggak jadi diskusi tapi malah sibuk ngelakuin kegiatan lain?" Arina nyebelin, nggak tahu apa-apa tapi kenapa nuduhnya seolah dia yang paling tahu sedunia, nyebelin. Semua gara-gara jari kejamnya Malik, sebel.
"Sok tahu kamu Rin, emangnya yang lain bisa?" sangsiku karena memang anggota kelompoku orang sibuk semua kecuali diriku yang jadi mahasiswa Kupu-kupu.
"Enggak"jawabnya enteng.
"Lah terus kalau yang lain nggak bisa kenapa kamu maksa buat kerja kelompok sendiri? jangan kerajinan dong, Rin" protesku tidak terima, bebanku sudah berat sejak semalam setelah kedatangan manusia penuh imajinasi seperti Malik jadi jangan ditambah beban buat nyelesaiin tugas kelompok secara mandiri.
"Muka lo kucel amatdah dipake kuliah 2 jam aja apalagi kalau tadi jadi 3 jam, bisa-bisa muka lo udah nggak ada wujudnya, Wul. Semangat dong! Si Malik sama Genta emang nggak bisa ikut karena mereka lagi nyari sarapan jadi nanti mereka nyusul"jelasnya lempeng, Arina nyebelin dia nggak bisa baca situasi apa gimanasih? Nyebelin.
"Yaudahdeh, jadi mau nunggu dimana? Ya, sorry. Aku harus nugas dulunih, kamu mau kemana dulu sambil nunggu jam kuliah nanti siang?"tanyaku sungkan pada Deana karena tadi aku yang memaksanya untuk sekedar beristirahat di kosku tapi malah berakhir diajak nugas si Arina.
"Santuy, gue mau ikut si Raya sama Nita yang habis ini mau ke perpuskok. Lumayankan bisa sekedar ngadem sama wifian sekalian nyari ilham buat pengumpulan topik minggu depan. Bye Wul, semangat ya jangan pasang tampang melas gitudong kayak lagi mikir utang negara aja"
Masyaallah, bisa-bisanya aku mikir utang negara. Aku aja sering lupa kalau utang Indonesia itu luar biasa banyaknya tapi selalu masuk dalam batas wajar, yahh.. semoga saja memang benar masih dibatas wajar menurut penelitiannya ibu menteri. Dasar Dea, anak Moneter mah beda beban hidupnya sama anak pariwisata yang pikirannya tempat mana lagi yang asik dikunjungi dan bisa dijual.
"Makasih Ya, kamu juga ya. Bye" pamitku singkat seraya mengejar langkah Arina yang sudah keluar kelas.
======
"Assalamu'alaikum wr.wb, selamat siang semua! Kabarnya baikan? Jangan bilang buruk ya, takut nular! Di semester ini kita ketemu lagi yang saya harap baru pertama kali untuk mata kuliah Evaluasi proyek. Saya lihat di absensi kayaknya nggak ada yang dari angkatan 15sih jadi pasti amanlah, ya kan?"intero dengan gaya bahasa ngalor-ngidul, menjadi pembuka pak Aji memulai mata kuliah yang sering di keluhkan kebanyakan mahasiswa Ekonomi Pembangunan, evaluasi proyek.
Cuaca mendung ditambah AC sejuk ruang L2-301 membuat mata sebagian besar mahasiswa nampak berair menahan kantuk padahal pak Aji baru masuk kelas 5 menit, absen aja belum. Tapi memang dasarnya pak Aji memiliki sikap legowo dan santai jadi banyak mahasiswa yang juga dengan santainya menahan menguap dengan berbagai gaya, coba kalau ini jamnya pak Andryan yang kata kating horornya ngalahin malam jumat kliwon pasti udah pada jadi pepesan di depan kelas.
Dengan gaya santai dan tata bahasa yang agak njelimet pak Aji melanjutkan improvisasi pembuka kuliahnya di jam kritis ini, habis makan siang dan di ruang dingin-dingin semriwing menjadi godaan mata minta dimereminkan?
"Kalau kalian pernah mendengar dari kating tentang matkul evapro ini susah, percaya aja. Saya juga suka merasa kesusahan waktu mau ngasih nilai kalian. Mau dikasih D kasihan, dikasih C tanggung, dikasih B agak meragukan, apalagi A, bisa dicurigai saya. Kalian itu sukanya bikin bingung, pas dijelasin katanya mudeng, disuruh ngerjain mubeng, apalagi pas disuruh praktek, malah pada keblinger. Pusing saya, apa model saya ngajar memangnya membingungkan kalian? Sampe kemarin saya dapet nominasi yang bikin saya kesel. Jujur, sedih saya menang nominasi ini. Mending kalau menang nominasi dosen terkiller, lah ini? Malu saya, besok-besok kalau mau ngevote buat saya yang baik-baik ya. Kan kalau saya senang kalian juga ikut kecipratan, siapa tahu pas input nilai keyboard saya eror semua kecuali yang tombol A"
"Amiiinnn..." teriak kami kompak melupakan kantuk yang sempat hinggap barang sejenak mendengar doanya pak Aii yang tingkat ɑ 99%, berarti 1% doang kemungkinan terjadinya.
"Ciee.... semangat bener, tadi aja udah pada merem-merem apalagi sekarang cuacanya lagi mendung kelabu yang pasti sahdu buat tidur, setuju?"godanya dengan senyum terkulum maklum.
Belum sempat kami menyahuti godaannya yang tingkat ɑ nya 1% itu, suara sumbang dengan nada ngalor-ngidul khasnya kembali melanjutkan "Kalem, saya nggak akan kejam buat nahan kalian lama-lama disini, bisa-bisa saya berdosa nanti karena kalian ngelakuinnya keliatan nggak ikhlas begitu. Kita bahas kontrak kuliah seperti yang seharusnya ya, RPS baca sendiri aja sesempet kalian karena udah saya upload di Sikordik (Sistem koordinasi akademik). Hpnya udah pada canggihkan, jadi nggak perlulah dibacain. Toleransi terlambat seperti biasanya, 15 menit. Bobot penilaian 2-2-2 saja karena kalau 1-2-3 saya yakin kalian tidak akan belajar, buku pegangan silahkan membawa yang dipunya kalau tidak ya nggak masalahsih tapi yang susah ya kalian sendiri. oh ya, seperti tahun-tahun sebelumnya buat UTS ada tugas kelompok membuat analisis proyek. Wajib bersumber dari proyek pemerintah! Silahkan cari, dan buat kelompok sesuai konsentrasi kalian. Jumlah anggotanya jangan lebih dari 4 ya! Kalian buat sendiri gimana baiknya soalnya kalau saya yang mutusin nanti malah jadi campur, monggo"
"Yang moneter cung!" dasar Diyah, belum juga dijelasin bentuk tugasnya gimana masak udah semangat banget bangun kelompoknya.
"Subhanallah, rajin banget ya. Baru juga saya mingkem kamunya langsung mangap, hebat!" ini sindiran apa pujiansih? Kok nylekit ya.
Tapi memang dasarnya pada bebal tentu saja perkataan pak Aji itu hanya dianggap angin lalu dan yang lain ikut-ikutan rusuh berebut teman menyeleksi anak rajin buat jadi partnernya.
"Astaughfirullah, wait gaes! Biar saya jelaskan dulu ya mekanisme tugasnya setelah itu baru bangun kelompok yang ajib, ok! Tugasnya kalian survey lapangan langsung proyek-proyek pemerintah baik yang masih tahap rencana, pembangunan, maupun sudah jadi buat mengumpulkan datanya. Lokasinya terserah, mau dekat rumah, dekat kos-kosan, dekat sini maupun dekat dihati juga boleh, eaaa. Yang penting itu adalah bagian dari proyek pemerintah, jelas? Nah kalau sudah, silahkan berdiskusi dan bangun relasi yang baik karena bobotnya rata jadi kalau tugas ini hasilnya jelek ya pasti berpengaruh dinilai akhir kalian. Strukturnya sama seperti kalian membuat makalah; cover, pendahuluan, analisis proyek dan terakhir penutup. Nanti saya kirim file tugasnya ke siapa ya? Ah, mas Arfian saja ya soalnya saya cuma punya kontaknya dia disini"terangnya mengotak-atik gawai sejuta umatnya itu sejenak.
"Nah, mas Arifin silahkan dibagikan ke temennya. Sekarang kita mau ngapain laginih?" lanjutnya ceria lengkap dengan gestur menepuk tangannya sekali meminta perhatian dari kami yang saat ini sibuk menundukan kepala mengamati layar gawai masing-masing yang kompak membuka file tugas yang baru saja dikirim arifin.
Belum sempat satupun diantara mahasiswa penghuni ruang L2-301 itu menyahuti pertanyaan pak Aji suara pintu terbuka dan salam dari lelaki berpenampilan casual tapi rapi itu berhasil menarik atensi seluruh penghuni ruang kelas ini termasuk Pak Aji sendiri "Assalamu'alaikum wr.wb, selamat siang pak. Maaf terlambat, soalnya tadi macet di simpangan depan"
Satu kata, ganteng.