Part 8 (Jodohkah)

1166 Kata
"Assalamu'alaikum wr.wb, selamat siang pak. Maaf saya terlambat, soalnya tadi macet di simpangan depan"tanpa perlu menunggu dipersilahkan lelaki berpenampilan casual itu melangkah santai menuju bangku pojok tepat dibelakangku yang masih tersisa. "Ya, tidak masalah baru 10 menit kayaknya" ini bukan pujian tapi sindiran walaupun diungkapkan dengan gaya bahasa ngalor-ngidulnya khas pak Aji karena memang perkuliahan sudah berjalan hampir 30 menit. "Terimakasih pak" astaughfirullahaladzim kukira orang paling tidak peka dan lemot di dunia itu aku tapi ternyata ada yang lebih parah, mas baju navy itu. "Waduh hujan, nggak ada yang punya cuciankan? Kalau saya dulu kuliah musim begini itu selalu was-was karena khawatir sama cucian. Cucian aja dikhawatirin apalagi kamu? Eaa..." "Suiit... suiitt..."astaughfirullah pak, inget anak istri di rumah batinku menatap jengah lelaki paruh baya yang memasang senyum lebar karena candaannya mendapat tanggapan positif dari mahasiswanya. "Mahasiswa jaman sekarang mana ada yang khawatir cucian nggak kering, laundry aja berjejer kayak siswa upacara hari senin jadi tinggal tunjuk mau yang mana. Kalau laper tinggal pencet kotak ajaib, menu gaya barat, timur, tengah, selatan bahkan utara ada semua. Jaman sekarang itu susahnya apasih? sinyal naik turun gunung, wifi diprotect, stop kontak jauh, mati listrik, HP ngelag, iyakan. Yang penting jaman sekarang itu rekening ghaibnya terisi banyak 0 berjejer, depannya angka berapa aja okay kecuali 0 yang pasti. Sejak jaman dulu sampe sekarang angka 0 nilainya lebih berharga dibanding angka-angka lainnya ya? buktinya bilangan berapapun dibagi 0 hasilnya tak terhingga tapi kalau dapet nilai 0 kok pada sedih ya? Bukannya seneng, padahal dalam kehidupan nyata kalau ngitung duit dilhat jumlah 0nya" Rasa-rasanya nominasi DOSEN TERGAJE yang dimenangkan pak Aji memang cocok, ini buktinya. Mana ada orang dapet nilai 0 tapi gelar syukuran sampe ngundang tetangga, yang ada jadi bahan julidan tetangga sebelah. Tapi itu bisa bikin anak tetangga sebelah senengsih karena jadi nggak punya bahan buat dibanding-bandingnin, sakit loh dibandingin sama anak tetangga. "Kalau nilai 0 buat mata uang berharga pak tapi kalau buat nilai bisa dibandingin sama anak tetangga" kisah si Noufal ini pasti pernah dialami anak-anak Indonesia yang anak tetangganya seumuran sama kita, poor Noufal. "Nggak papa, siapa tahu jodoh" Astaugfirullah, kuhela nafas berat saat kata sakral itu keluar dengan mudahnya dari mulut pemenang nominasi Dosen TERGAJE itu karena saat ini hampir 50 orang menatap lekat kearahku seolah melihat penampakan. Nampaknya kata jodoh tidak hanya sensitif di telinga jomblo tapi juga di telinga hampir 91% mahasiswa EP A 2016 . " Kok malah jadi bahas jodohsih, dahlah ada yang mau ditanyakan terkait tugas?" "Pak, dulu ketemu bu Aji dimana?" nampaknya saat ini mulai tercium bau-bau konspirasi kejam yang dimulai dari Muhammad Malik Setiawan. "Di jalinan takdir sang pencipta" astaughfirullah, boleh nggaksih nampar mulut kejam dosen gaje itu. Perasaan seharian ini pada suka banget pada bikin jantungku cenat-cenut. "Tandanya apa pak? Soalnya bisa jadi inspirasi buat deketin doi" sabar... batinku begitu melihat senyum lebar penuh konspirasi Diyah. "Tan... bentar ya, saya angkat telfon dulu" pamit pak Aji tergesa-gesa melangkah keluar kelas. Alhamdullilah, batinku lega mengabaikan tatapan menggoda mereka yang entah kenapa hobi sekali merecoki hidupku dengan kata cie-cie dan tatapan mata bersinar menggoda buat dicolok satu-satu sejak awal kuliah semester ini. "Habis ini bakalan ada sinetron judulnya Ternyata Jodohku Adalah Teman Serombelku" Innallāha ma'aṣ-ṣābirīn, sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar. Batinku mencoba bersabar dari segala macam provokasi yang kemungkinan besar akan menjadi boomerang bagiku jika menanggapi umpan yang dilemparkan Diyah. "Baik, kuliah sampai disini dulu. Kelompoknya silahkan tentukan, malam minggu nanti mas Arfian kirim daftar kelompoknya ke saya sama lokasi proyeknya juga. Maaf saya ada keperluan mendesak, selamat siang. Assalamu'alaikum wr.wb" tutup Pak Aji yang mengakibatkan suara besahutan berebut teman sekelompok dimulai. "Okay gaes, kalau misal kelompoknya berhitung aja gimana? biar adil. Takutnya ada orang buangan"Sofia mulutnya minta disekolahin lagi kayaknya, batinku dan menatap lelaki bersweater navi yang duduk tepat dibelakangku. Mungkin yang lain lupa kalau dikelas kami saat ini dapat tambahan satu mahasiswa. Kayaknyasih kating karena sikapnya keliatan cuek, nggak ada rasa canggung apalagi keliatan malu-malu dan bingung. "Mas Chandra, konsentrasimu apa?"tanya Sofia lantang kepada lelaki yang duduk dibelakangkku. "Regional" masyaalloh suaranya berat banget sampe bikin merinding, batinku bergidik ngeri. "Dari konsentrasi regional dulu ya, terus Publik, Pertanian baru terakhir moneter. Eh, moneter ada berapa orangsih disini?" "8 orang jadi mau langsung dibagi 2 aja biar cepet"jelas Diyah lancar. "Oke kalau gitu, pertanian berapa orang?" "9 orangnih, bagi 2 aja ya"jawab Noufal semangat. "Enak aja, bagi 3lah. Kan satu kelompoknya jadi bisa diisi 3 orang, pas"tegas Sofia yang melemparkan tatapan tidak terima dengan ide Noufal, kelompok 5 orang itu kebanyakan jadi pasti nanti ada yang numpang nama. "Bagi dua ajalah Sop"astaughfirullah, si Noufal kalau pasang muka melas gitukok bikin geli ya, hii. "Nggak bisa! Jadi 3, sana!"tegasnya yang berarti tak bisa ditawar lagi. "Yang regional berapa orang? Cung!" "25, Bagi jadi 8 kelompok ya. Mulai berhitung 1 sampe 8, dari gua ya. Satu!"teriaknya begitu selesai menghitung jumlah tangan terangkat keatas. "2" "3" ... "8"gumamku seraya berdoa agar tidak satu kelompok lagi dengan Genta, bisa lebih lama nanti acara mencie-cienya. "Yang kelompok satu siapa? Cung!"perintahnya lagi begitu acara menghitung untuk undian kelompok usai. "Kelompok 6"semakin dekat dengan angka kelompokku semakin keraslah degupan jantungku ditambah hati yang sejak tadi tidak mau berhenti berharap biar nggak satu kelompok lagi sama Genta, cukup 2 matkul aja. "Kelompok 8, cung!" Kuhela nafas berat begitu menyadari tangan orang yang tidak kuharapkan teracung ringan keatas, Genta. Jangan sampai doktrin seharian ini soal jodoh yang dibilang mereka semakin merajalela di otaku, doaku dalam hati dengan khusuk begitu mengamati sorot mata penuh makna dari kebanyakan mahasiswa EP A 2016 itu. "Kayaknya lo beneran jodohdeh sama Genta, Wul"bisik Hesti sesat. "Ngawur, nggaklah! Inikan cuma kebetulan, lagian kelompoknya juga nggak cuman kita berdua jadi nggak ada istilah jodoh dan lain-lainnya, lupakan!" gumamku jengkel. "Udah kita-kita ajanih, cieee, uhuk-uhuk"Hesti k*****t. "Hei"kurasakan tepukan lembut dibahuku yang membuat acara berdebatku dengan Hesti tertunda. "Ya?"responku singkat begitu mengetahui subjek yang menepuk bahuku adalah mas baju navi. "Gue minta nomer lo buat bahas tugas ini"katanya santai dengan menyodorkan handphone hitam mengkilatnya. "Hah? Ya"responku kikuk. Gimana nggak kikuk, tiba-tiba disodorin HP buat minta nomer padahal kenal juga enggak. Jangan baper Wulan! Inget, ini karena tugas bukan karena alesan lainnya. Batinku menegur pikiran absurd yang sempat lewat, naksir misalnya. "Udah?"kusodorkan kembali Handphone hitam mengkilat itu kepada pemiliknya. "Lokasinya lo bahas sama yang satunya dulu ya! Gue lagi ada acara jadi nggak bisa ikut, ntar kalau bingung atau udah nemu proyeknya chat gue aja, bye"pamitnya tergesa-gesa keluar kelas yang membuatku mengeluarkan helaan nafas berat lagi. Berdua, lagi? Nggak mungkin jodohkan? Astaughfirullah Wulan! Nyebut! Batinku gelisah lantaran takdir seolah senang sekali menyatukan kami dalam satu keadaan yang sama, tugas kelompok. Tebalkan kupingmu, tenangkan jantungmu, dan perbanyak stok sabarmu Wulan, godaan cie-cie entah akan berakhir di episode berapa. Pikirku nelangsa begitu melihat Genta menghampiri tempat dudukku dengan langkah ringan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN