Kuhela nafas berat melihat lalu lalang kendaraan di depan kafe Okay ini. Jangan berpikir aku tipe mahasiswa yang hobi ongkang-ongkang kaki di kafe sekedar melepas penat setelah jam perkuliahan penuh keluhan yang tak berkesudahan usai, aku adalah tipikal mahasiswa kupu-kupu yang lebih menyukai tidur untuk melepas penat.
Suara berat khas milik Genta berhasil mengagetkanku yang tengah sibuk menggulirkan layar instagramku “Kok diluar? Bang Chandra belum dateng ya?”.
“Nggak tahu, aku baru nyampe” balasku pelan padahal aku sudah berdiri tegak disini hampir 15 menit. Janjiannyasih jam 8,tapi Genta kelihatan wujudnya pas jarum panjang udah di angka 3, sementara orang yang dipanggil Sofia dengan sebutan mas Chandra malah nggak tahu kabarnya karena di chat nggak ada eksistensinya.
“Yaudah tunggu di dalem aja yuk, diluar dingin” ajaknya ramah dengan senyum dikulum mempersilahkanku berjalan lebih dulu.
“Udah ada ide?” tanyanya begitu kami memutuskan untuk duduk di bangku pojok depan dekat dengan pintu masuk.
“Belum, karena tiap ada ide pasti di komen Hesti kalau itu lebih masuk ke kasusnya anak publik. Kalau proyek pariwisatakan ya susah” jawabku lesu lengkap dengan helaan nafas berat.
“Emang kamu sebelumnya ada ide pake proyek apa?” herannya dengan wajah datar seolah tak berminat padahal nadanya kentara kepo sekali, aneh.
“Pembangunan rusunawa, pembangunan jalan tol, pembangunan RSUD, sama pembangunan YIA”
“Aku juga kepikiran mau make pembangunan YIA atau pake proyek kereta YIAkan bisa juga”
“Iyasih tapi mas Chandra setuju nggak? Kalau proyeknya regional transportasi”
“Tunggu dia nongol dulu aja ya, katanya tadi lagi otw dari kos temennya. Kamu udah makan? Mau aku pesenin apa?” jangan baper, jangan baper, jangan baper, Wulan! dia perhatian karena emang kamu temennya bukan karena alesan yang lainnya.
“Nggak usah, aku udah makankok tadi"
“Aku pesenin frappuchino aja kalau gitu ya?”
“Aku nggak minum kopi” spontan kuteriakan kalimat penolakan itu begitu melihatnya mengangkat b****g.
“Oke-oke, kalau gitu mau apa? nggak mungkinakan kamu di kafe tapi cuman diem nungguin bang Chandra yang entah kapan sampainya” katanya dengan senyum terkulum menahan tawa karena memang reaksiku berlebihan dan terkesan memalukan.
“Hot chocolate aja” jawabku terpaksa, kalau ditawarin teruskan sungkan, soalnya dia keliatan niat banget buat mesenin aku.
“Ada lagi?”
Ini orang maunya apasih? Emang kalau di kafe cuman mau nugas doang nggak boleh? Kalau iya mending nugasnya di kampus aja, nggak usah disini. Batinku jengkel melihat senyum lebarnya itu.
“Nggak, aku udah kenyang jadi itu aja. Makasih ya” balasku singkat berharap orang yang di tunggu segera datang dan mengakhiri sesi menunggu berdua ini.
Kalau menurut soundtracknya Heart series, berdua lebih baik yang dinyanyiin Acha Septriasa, aku nggak setuju. Berdua sama Genta itu rasanya nggak enak, sungkan, risih, malu,bingung, deg-degan, mual, pusing, keringat dingin, jengkel, sebel dan lain-lain, intinya nggak enak, udah itu aja.
“Hai” suara berat yang sangat kuharapkan kehadirannya akhirnya terdengar tak lama setelah Genta pergi memesan makanan. Mas baju navi yang dipanggil Sofia sebagai mas Chandra, membuatku terdoktrin untuk menirunya.
Dengan senyum lebar penuh rasa syukur kubalas sapaan ringan darinya yang saat ini memakai hoodie hitam polos lengkap dengan celana jeans dan sepatu kets warna hitam “Ya, hai”.
“Kalau disapa hai itu balesnya Hello, bukan hai. Keliatan banget bukan anak pramukanya”
“Emang bukan” ini aneh, biasanya kalau aku diajak ngobrol nggak jelas sama cowok kayak gini suka ngerasa risi dan males nanggapin tapi kenapa sekarang dengan entengnya aku ngerespon kalimat penuh basa-basinya itu? whats wrong with me?
“Jujur amat neng, padahal amat suka boong, Genta mana?” spontan luntur sudah rasa aneh yang tadi sempat membuatku bingung sesaat.
Baru saja mulutku terbuka berniat menjawab pertanyaanya tapi sudah disela duluan “Kenapa bang? Udah makan belum? Pesen sana!” Genta.
“Lah, gue nggak lo pesenin?”
“Pesen sendirilah, udah tua malu sama umur”ini beneran Genta? Jangan-jangan mereka berdua sebenernya deket, karena setahuku Genta cuma ngomong sesantai itu kalau deket sama orang yang akrab sama dia. kalau nggak, pasti kaku kayak kayu.
“Gaya lo, sok-sokan ngomongin umur, berasa udah uzur gue. Padahal cuman beda beberapa bulan doang. Dahlah gue ke toilet dulu, baik-baik kalian! Jangan ada yang baper ya, gue tinggal bentar”
Begitu lelaki bernama Chandra itu pergi ke kamar mandi yang tidak mendapat sahutan sama sekali dari sepasang anak adam itu, suasana canggung menyelimuti meja pojok depan karena penghuninya yang sudah tenggelam dalam genggaman gadget masing-masing.
“Kok pada diem? Abis berantem?” suara berat dari Chandra itu berhasil merusak suasana canggung yang sebelumnya melingkupi suasana meja di pojok itu.
“Nggaklah, PI mau dikerjain kapan?”
Belum sempat kujawab pertanyaan terkait tugas yang datengnya barengan dari dosen yang sama cuman beda matkul itu, lagi-lagi lelaki dengan pakaian serba gelap itu menyahut duluan “Yaelah, serius amat hidup kalian. Nyantai dikitlah, uts masih lama”Chandra.
“Uts emang masih lama bang, tapi kalau sekarang nggak punya ide sama sekali nanti keteteran. Apalagi tugasnya bu Amanahkan bikin jurnal”
“Kita kebagian PI kan? temanya Konsumsi masyarakat aku udah nemu jurnal nasionalnyasih tapi masih dilaptop, nanti aja ya aku kirim ke kamu” kuabaikan sindiran mas Chandra yang 100% benar, uts emang lama tapi bikin jurnal itu nggak segampang fungsi ctrl c + ctrl v.
“Romantis banget kalian, aku-kamuan lagi kayak orang pacaran aja” godanya dengan alis yang bergerak simetris naik-turun.
“Astaughfirullah, enggaklah, ngawur” buru-buru kusangkal asumsi yang hanya berlandasakan panggilan aku-kamu.
“Emangnya yang manggil aku-kamu cuman orang pacaran aja? Gaya bahasaku udah terlanjur begini sejak kecil jadi susah kalau diubah, lagian juga biar lebih sopan” gumamku melanjutkan karena masih menangkap tatapan menyelidik dari lelaki berpakaian serba gelap itu.
“Ya enggaksih, tapi kalau jaman sekarangkan aneh” sangkalnya tegas yang tanpa sadar membuatku mendengus sebal.
“Ya dibiasainlah mas, lagian cuman gara-gara gaya bahasaku yang beda sama kebanyakan anak muda jaman sekarang itu nggak dosa dan merugikan banyak pihakok” balasku sengit.
“Tetep aja aneh apalagi kalau statusnya cuman temen nanti kalau salah satunya baper trus jadi demen, situ mau tanggungjawab?”
Sabar-sabar, batinku menghela nafas berat guna meredakan emosi yang entah kenapa hari ini gampang sekali terpancing.
Belum sempat mulutku terbuka untuk membantah argumennya tapi sudah disela Genta “Shhtt... sama-sama bulan jangan berantem, ntar mataharinya minder” tapi perkataan Genta ini justru membuat moodku semakin hancur.
“Bulan apaan? Nama lo bulan?” tanyanya semangat yang hanya kutanggapi dengan anggukan singkat tak berniat membuka suara lebih banyak.
“Lah, lo belum kenalan, bang? Dia namanya Wulan”jelas Genta dengan sukarela.
“Oh Wulan, kirain namanya bulan. Tapi benersih kata Genta, arti nama kita sama, bulan. Lo jomblokan?” tanyanya dengan nada menyebalkan.
“Iya” jawabku tak ingin memperpanjang percakapan dengan isu sensitif bagi sebagian besar orang diusia awal dewasa, kecuali diriku.
Bagiku jomblo itu keinginan hati karena memang sampai saat ini aku tidak memiliki sedikitpun minat untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Biarpun kadang ngerasa iri kalau liat orang pacaran tapi kadarnya cuman dikitkok, jadi nggak sampai menggoyahkan keinginanku untuk tetap jomblo diusia awal dewasa ini.
“Lo jomblo, gue juga, arti nama kita juga sama. Jangan-jangan...” katanya sengaja menggantungkan kalimatnya hingga membuatku dan Genta menatap serius lelaki berpakaian serba gelap itu.
“Kita jodoh” lanjutnya pelan tapi menurutku terdengar seperti sengaja diteriakkan pake toa masjid hingga membuatku kehilangan kemampuan berbicara dan mengalami kelumpuhan berpikir sesaat.
“Ngawur lo bang!” teriak Genta yang berhasil mengembalikan kemampuan berpikirku yang sempat blank sesaat.
“Bercanda elah, serius amat lo, Tong. Sellow-sellow, hidup kalian itu jangan terlalu dibuat spaneng di semester 6 ini, bisa-bisa semester depan lo pada oleng. Lo baper sama dia, Tong?”
Boleh nggaksih kalau aku berharap nih kating satu mulutnya kena struk mendadak, sekali becanda bisa bikin nyawa melayang. Untung aku kuat jadi tadi cuman buffering sebentar.
“Lo ada ide proyek apa bang?” tanya Genta yang kusadari mengalihkan pembicaraan seolah menghindari menjawab pertanyaan sensitif itu, lo baper sama dia, Tong?.
Dan akhirnya dimulailah diskusi serius tentang pemilihan proyek untuk tugas evapro yang memakan waktu tidak sampai 15 menit. Tapi pada kenyataannya aku malah pulang 1 jam kemudian karena nggak enak kalau mau pulang duluan sampe akhirnya mereka peka dan mempersilahkanku untuk pulang duluan.
Sementara mereka? tentu saja lanjut nongkrongnya dan nggak ada istilahnya diantar pulang seperti di novel-novel romansa. Ini cerita dunia nyata, bukan karangan penulis novel romansa yang menyukai adegan manis antar lawan jenis yang berpotensi menimbulkan baper berkepanjangan.