PART 10 (LIBEROSIS)

1085 Kata
Semakin dipikirkan malah semakin membuatku stress, tapi kalau diabaikan justru membuatku depresi, terkutuklah mereka yang masih yakin tentang asumsi hubunganku dan Genta. Kuhela nafas berat karena saat sosialisasi Pkl ini aku dengan terpaksa duduk manis disisi kanan Genta, tepat di deret ketiga dari depan. "Kamu kenapa?" kugelengkan kepala singkat sebagai respon pertanyaan lelaki yang entah sejak kapan menjadi momok menakutkan bagiku. "Kamu nyesel duduk disini? Mau pindah kebelakang?" tanyanya perhatian tetapi malah mengundang deheman menyebalkan dari Hesti, Nita, dan tentu saja gerombolan Arafah yang terdiri dari Ana, Febri, Ayu, dan Bella ditambah Arina yang duduk tepat dibelakangku. Satu kata buat mereka, Nyebelin. "Nggak papa" gumamku tak jelas karena jujur saja aku takut berbuat sesuatu dan merasa tertekan duduk disebelahnya biarpun Burhan, Amel, Manda, Arifin, Mahira, Alia dan dua anak rombel Bc yang kuketahui bernama Iqbal dan Ocha terliat fokus dengan gadet digenggaman masing-masing. "Cuekin aja! Kebanyakan mereka lebih menyukai persepsi mereka dibenarkan daripada menerima penjelasan yang tidak sesuai persepsi yang mereka suka. Jangan dipikirin, takutnya nanti kamu malah tertekan dan bikin kehidupan sosial maupun pendidikan kamu berantakan" nasehatnya yang kusetujui tapi sulit untuk kurealisasikan. "Makasih sarannya, bakal aku cobakok biarpun susah" gumamku dengan helaan nafas berat. "Jangan mencoba mengabaikan kalau nggak bisa tapi jangan terlalu dipikirkan nanti malah jadi beban. Pernah dengar tentang Liberosis?" "Keadaan ketika kita mencoba mengabaikan hal yang membuat kita stress tapi semakin diabaikan malah semakin membuat stress, kenapa?" "Kamu kayak orang lagi kena liberosis sekarang dan aku nggak suka" tekannya dengan sorot mata tajam yang membuatku merinding. "Kalau mereka bikin nggak nyaman, tinggalin aja. Kadang orang berlabel teman itu kalau bercanda suka keterlaluan padahal kitanya udah ngerasa nggak nyaman dan meradang, bumi ini dihuni jutaan manusiakok jadi nggak perlu takut kesepian" nasehatnya lagi seraya menepuk tanganku pelan yang membuat jantungku semakin berdebar kencang melihat perubahan sorot matanya melembut dalam sekejap ditambah senyum tipisnya, Ya Allah kuatkan hatiku dari godaan Genta terkutuk, eh. "Atau kalau kamu mau, kita... bisakok wujudin persepsi mereka" lanjutnya pelan yang sukses membuat tanganku dingin dan sesak nafas seketika. Kuabaikan suara burung tersedak biji kedondong dibelakang, dehem-dehem kurang ajar. Pikiranku saat ini tengah penuh persepsi dan konspirasi yang membuatku tidak memperhatikan kegiatan sosialisasi yang telah dimulai bertepatan dengan gumaman lirihnya yang kini gaungnya masih mampu kudengar bahkan mengalahkan suara presentasi yang dilakukan Miss Fanya. Genta nggak bermaksud ngajak pacarankan? Tolong siapapun, jelaskan maksud kalimatnya itu. Jantungku rasanya masih betah marathon bahkan otaku dengan lancarnya mulai mengarang cerita tentang kita berdua. Menakutkan, suaranya memang menjurus bisikan tapi menurutku lebih terdengar seperti diteriakan menggunakan sound orang hajatan. ===== "Mana lembar usulan topik lo, Wul?" tagih Andra menghampiriku yang masih betah melamun memikirkan banyak hal sampai tidak sadar jika ruangan mulai riuh karena kegiatan sosialisasi PKL telah usai. "Hah? Lembaran topik apa?" tanyaku kaget karena jujur saja aku belum memikirkan topik apapun untuk matkul sempro nanti. "Topik buat semprolah, mana? Buruan isi! Gue tinggal ke toilet dulu"perintahnya dengan gaya menyebalkan dan berlalu begitu saja meninggalkan banyak beban pikiran di otak sempitku, Andra nyebelin. "Isi aja sembarang dulu karena ini cuma buat penentuan dosbing informal dulukok, masalah nanti kamu ganti topik atau nggakan juga didiskusiin lagi sama dosbing informalmu" entah kenapa sekarang Genta hobi ngomong perasaan dulu waktu kita beberapa kali jadi temen sekelompok dia jarang banget mau mamerin suaranya, sekarang nggak diminta aja ngoceh terus, bikin pusing. "Bisa gitu? tapi aku bener-bener nggak ada ide sama sekali" gumamku lesu. "Tulis aja kemiskinan, pengangguran, lingkungan kumuh, macet atau mungkin ketimpangan pembangunankan bisakan. Ini baru topik jadi cakupannya masih luas, nantikan masih konfirmasi lagi sama dosbing sekalian ngajuin judul" "Makasih sarannya, duluan ya" pamitku pelan berusaha sopan dan mengabaikan tatapan menggoda sekelompok orang disekitarku, gerombolannya si Mahira yang tadi anteng aja tapi entah kenapa sekarang jadi bertingkah lebih nyebelin dibanding Hesti tadi, hhhh.... "Semangat!" katanya pelan dengan senyum lebar dan tatapan intens yang kubalas dengan anggukan singkat serta senyum tipis buat sopan santun, malu euy udah jadi pusat perhatian gini. ===== Kutatap sebal empat orang gadis yang saat ini tengah sibuk bercanda atau mungkin berghibah ria di selasar gedung L1. Hesti dengan tawa melengkingnya, Dea yang hanya menunjukan senyum lebar, Nita yang terlihat sibuk bercerita dan Raya yang memasang wajah penasaran akut, rasa-rasanya mereka sengaja ninggalin aku dan sekarang menjadikanku objek gosip. Dasar temen k*****t. "Nggegosipin aku ya?" tanyaku retoris menghampiri mereka yang sekarang malah kompak memperlihatkan sorot mata menggoda. "Iyalah, tadi dikasih masalah apa sama Genta?" Hesti k*****t. "Masalah apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu, padahal sudah pasti aku mengerti maksud dari masalah yang Hesti katakan karena dapat dipastikan tidak jauh dari bahasan terkait topik sempro. Apalagi memang masalah yang dipusingkan mahasiswa diujung bangku perkuliahan seperti kami yang selangkah lagi menghadapi skripsi? "Masalah hati yang belum dapet kepastian, perasaan doi hobi banget main perang geriliya kayak jaman penjajah aja. Untungnya lu strong Wul" Nita kalau ngomong suaranya emang pelan tapi efeknya bisa bikin orang mati jantungan, pelan dan mematikan. "Apasih, Nit? Kalau mau ngomong itu dipikir dulu, bahasamu terlalu rumit menurutku" elaku, gengsidong. "Pura-pura b**o lagi, gue aminin b**o beneran lo Wul. Udah jadian belum? Bilangin, kalau suka itu ngomong jangan cuman suka diem-diem merhatiin, nanti kalau digondol orang jadi jomblo abadideh. Lagian yang suka sama lo kan banyak Wul" mulut Hesti minta digeprekih, ngeselin banget. "Ngawur! Nggak mungkinlah, jangan sembarangan kalau ngomong! Yuk pulang" dengusan nafas sebal mengiringi langkahku kembali menuju kosan dan mengabaikan segerombol orang yang kulabeli sebagai teman itu kecuali Dea yang arah rumahnya memang tidak sama. Hari ini jadwalku, Hesti dan Nita memang hanya mengikuti sosialisasi PKL saja tapi kalau Tari ada jadwal kuliah jam 1 nanti. "Gue kalau nonton drakor ada pemeran yang nggak peka rasanya pengen nampol. Lo mau gue tampol juga nggak, Wul? Nggak usah pura-pura nggak tahu, lo juga ada rasa sama diakan?" teriaknya menggelegar hingga membuatku menundukan kepala dalam dan mempercepat langkah berusaha menghindari sesi interogasi menyebakan ala mereka. Hhhh... apa iya banyak yang diem-diem suka aku? Gimana kalau itu semua cuman sindrom erotomania*? Tapi apa iya sindrom erotomania bisa menyerang banyak orang? Kan kalau kena ini sindrom yang ngerasa dicintai dan jadi pusat perhatian si penderita bukan orang lainnya. Apa bener kata Hesti kalau aku juga suka sama Genta? Tapi kenapa? Dia aneh dan sama sekali nggak pernah masuk sekalipun dalam pikiran terliarku kalau kami bakal terlibat hubungan romantis, ah tahulah pusing. Jalanin aja apa yang ada Wul, kamu sekarang udah semester tua jadi bukan waktunya main cinta-cintaan tapi harus fokus nyelesaiin kuliah dulu, setelah itu barudeh mikirin jodohnya yang entah masih nyelip dimana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN