PART 11 [Kebetulan Mendebarkan]

1094 Kata
Suara bising lalu lalang kendaraan di depan halte Fe UIS nampaknya tak berhasil membuyarkan lamunan seorang gadis berambut panjang terurai layaknya putri raja, Wulan. T-shirt makrab berwarna putih, skinny jeans hitam, flatshoes hitam tak lupa ransel berukuran cukup besar berwarna merah menemaninya menunggu BRT yang akan mengantarkannya pulang ke rumah. Wulan memang berasal dari kota sebelah jadi jangan heran jika setiap akhir pekan menemukan dirinya duduk diam di depan halte seperti ini, pasti dia dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Hampir 30 menit dirinya duduk diam seperti orang kehilangan harapan di halte itu padahal bis yang harusnya dinaikinya sudah lewat sebanyak dua kali, efek ngelamun atau mungkin udah ditahap kesadarannya hilang lewat ubun-ubun sampai sebuah suara berat yang mulai menjadi momok menakutkan baginya berhasil menarik kesadarannya. "Mau kemana?" tanyanya pelan tapi menurutku terasa diteriakan menggunakan Toa Masjid, bahkan tanpa sadar aku sudah berdiri tegak dan memasang sikap defensif. "Hah? Pulang" gumamku lirih entah terdengar olehnya atau tidak tapi yang pasti aku sudah menjawabnya. "Inikan baru minggu pertama kuliah, masa udah pulang lagi?" Ni orang sewot bangetsih, lagian pulang minggu pertama atau terakhir kuliahkan nggak dosa, yang penting nggak bolos kuliah. Lagian aku mau pulang kapan itukan hakku dan nggak merugikan pihak manapun, kenapa dia sewot? nyebelin. "Iya" jawabku sambil lalu dengan fokus pada chat dari Hesti yang baru saja kusadari. Udah balik? Dompet lo ketinggalanih Mati aku, lupa lagi. Hes, tolong anterin ke halte depan fe sekarangdong. Aku masih disini "Kenapa?" entah sejak kapan tapi setiap mendengar suaranya pasti bikin jantungku nyut-nyutan, kaget. "Hah? Em... dompetku ketinggalan" jawabku tanpa mau mengalihkan pandangan pada kolom chatku dan hesti yang hanya terdapat checklist dua biru, diread doang, asem. "Mau diambil dulu? Kuanterin yuk" "Hah? Nggak!" teriaku berlebihan bahkan terlihat alisnya yang menyatu heran. "Emm.. maksudnya ini lagi dianterin Hesti kesini" Maluuu... Wulan b**o, kalau mau nolak biasa aja dong, nggak perlu bertingkah kayak gini, malu-maluin aja. Batinku dengan kepala menunduk dalam dan mengabaikan tatapan aneh orang sekitar. "Atau mau pinjem uangku dulu?" "Nggak usah, Hesti udah otwkok" "Kapan? Busnya udah datengtuh, yuk. Kalau nggak ikut ini nanti nunggu 15 menit lagiloh" "Hah? Nggak papa, kamu duluan aja lagian aku juga nggak lagi buru-burukok" tolaku pelan takut terdengar orang lain yang saat ini mulai berdesak-desakan berdiri di depan pintu masuk halte agar bisa naik bus lebih dulu. "Kalau gitu aku temenin" jawabnya enteng tapi berhasil membuat aliran oksigen ke paru-paruku tersendat, mati aku. "Wulandariman.... a?" teriakan dengan suara khas Hesti yang nampaknya tertelan kembali itu berhasil menyalakan alarm tanda bahayaku Mayday-mayday, kenapa Hesti munculnya nggak daritadisih, kalau ginikan rumor yang semula cuman dihembuskan si Malik bisa-bisa diperbesar sama nih ratu drama, mati aku. "Thanks Hes" teriak Genta yang tiba-tiba menariku menaiki bus yang pintunya akan ditutup karena penumpang sudah naik semua dan di Halte hanya tersisa kami bertiga. Belum sempat rasa kagetku hilang sopir bus yang tiba-tiba mengerem lantaran menghindari serobotan pengguna sepeda motor ugal-ugalan, membuat tubuhku menubruk tubuh Genta yang berdesak-desakan denganku di lorong tengah bus. Astaughfirullah, semoga jantungku masih sehat, otaku masih waras dan imanku nggak oleng, ini posisi perasaan syahdu bangetsih. Tangan kananku menggantung di pegangan bus sementara tangan kiriku mencengkram bahunya erat, takut jatuh karena jalan yang tidak semulus imajinasiku dan juga efek tubuh kurang tinggi bikin susah jaga keseimbangan. Bahkan tangan kirinya, entah sadar atau tidak, melingkari bahuku erat seolah menjagaku dari desakan rusuh penumpang yang tidak kebagian tempat duduk. "Dompetnya kukasih nanti deket halte kamu turun ya" pernyataannya yang disampaikan dengan bisikan lirih tepat di sebelah telinga kiriku itu sukses membuat nafasku macet, yang tadinya udah kebat-kebit karena rangkulannya sekarang mendadak macet gara-gara ditambah bisikannya. Kayaknya bisikan Genta lebih berbahaya daripada setan penggoda, bisa bikin nyawa anak orang melayang. Kuanggukan kepala singkat merespon pernyataannya itu karena tidak mampu mengeluarkan suara sepatah katapun. Apa ini, sensasi yang dirasakan kating waktu sidang skripsi ya? Rasanya lebih mendebarkan daripada detik-detik menunggu pengumuman SBMPTN keluar, padahal cuman dirangkul Genta bukan dicium, eh. Wulan nyebut! Rasa-rasanya sekarang aku mulai hobi mengobrol dengan diri sendiri hanya untuk memaki jiwa j****y yang baru kusadari eksistensinya. "Kamu nanti turun dimana?" Astaughfirullah, jantung tenang bentar napa? bikin susah napas kalau lu mompa darahnya sekenceng Rossi narik gas motornya, lagian ini si Genta kenapa cerewet bangetsih? Nggak tahu apa kalau ada anak orang yang kewarasannya mulai goyah karena hobi merutuki jiwa j****y dan imajinasi liarnya, asem. "Depan perumahan Permai Abadi" gumamku dengan suara tercekat setelah sekian lama berusaha mengatur nafas dan fokusku yang mulai kabur agar kembali normal. "Sama berati" gumamnya enteng tapi sukses membuatku tersedak air liur yang tidak seberapa. "Kamu nggak papa?" Astaughfirullahaladzim, ini orang syaraf pekanya kemanasih? Itu tangan kenapa gampang banget elus-elus punggung krempengku yang kata Hesti nggak menarik karena kebanyakan tulang. Yang ada nih batuk gegara kesedak ludah yang nggak seberapa bukannya berhenti tapi malah semakin menjadi sampai ketemu malaikat Izroil, mana pada diliatin sama penumpang lain pula, malu. "Hhh.. ya" kujawab seadanya dengan harapan tangan bertuahnya itu bisa secepatnya menyingkir dari tubuhku biarpun kuduga maksudnya baik tapi efeknya itu nggak baik buat kesehatan jantung dan kewarasan akalku. Kenapa aku merasa seolah kebetulan ini janggal ya? Hampir selama 3 tahun ini aku kuliah di UIS, pulang-pergi naik kendaraan umum sejuta umat, BRT tapi baru kali ini bisa ketemu sama dia. Anehkan? Kenapa konspirasi alam semesta mempertemukan kami baru terjadi sekarang, setelah asumsi tidak berdasar manusia-manusia yang ditakdirkan menjadi teman serombelku hampir 3 tahun lalu itu merebak?. Kenapa nggak dulu-dulu sebelum asumsi tak berdasar itu mulai membesar dan membekas dibenak mereka yang juga beraliran sama? Mana tadi Hesti liat pas aku ditarik Genta ke Bus yang sudah penuh terutama lorong belakang yang khusus wanita jadinyakan aku nggak bisa menghindar, lorong depan juga sudah berjubelan manusia bergelantungan di pegangan bus demi bisa sampai tujuan dengan tariff yang ramah untuk kantong mahasiswa. Entah berapa lama perjalanan penuh cobaan ini berakhir tapi yang pasti rasanya lama banget, karena biasannya ketika aku mengumpulkan niat buat menjelajah mimpi selalu buyar keburu nyampe tujuan. Kenapa sekarang rasanya sampe tanganku yang dipaksa merentang tinggi di pegangan bus ini kesemutan, tapi nggak nyampe-nyampe? Ini kutukan apa doaku terkabulnya terlambat? Biasanya aku berdoa nyampenya lama, biar bisa merasakan nikmatnya tidur diruang berAC, BRT. Maklum di rumah adanya Angin Cemilir bukan Air Conditioner. Kalau benar ini kebetulan aku cuman bisa pasrah dengan alur ciptaan Sang Ilahi, tapi kalau ini doaku yang selama ini baru terkabul, sekarang bakalan kuganti. Semoga Bis ini segera sampai dan ini jadi pertemuan terakhir kami diluar jam kuliah dan tuntutan tugas, amin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN