Rasa-rasanya minggu ceria bakalan sulit dinikmati mahasiswa semester diujung tanduk seperti kami ini, disaat yang lain sibuk berkencan atau jalan-jalan tapi aku malah terjebak berdua bersama Genta diselasar gedung L2 demi tugas yang masih lama datelinenya, Perekonomian Indonesia.
"Kamu udah nemu data konsumsi masyarakat?" tanyaku memecah keheningan yang berlangsung hampir 15 menit ini.
"Nggak ada, kalau ganti variabel nggak bisa ya? Hhhh... konsumsi masyarakat tu susah, coba kamu chat Arina"
"Udah, katanya dia juga beum nemu tapi kalau Malik nggak tahu karena dia lagi offline"
"Kamu chat Malik juga?" tanyanya dengan nada tajam.
"Hah? Iya" ini maksudnya apa coba? Kenapa dia kayak orang sebel kalau aku chat si Malik? Aneh.
"Lain kali nggak usah, jam segini biasanya dia lagi ngegame jadi pasti HPnya off karena nggak bisa diganggu"
"Chat Malik bisa tapi kenapa nggak pernah chat aku?"
Mati aku, batinku begitu mendengar jelas gumamannya karena posisi kami yang duduk bersebelahan. Kenapa ada orang modelan Genta ginisih? ngomongnya emang pelan tapi efeknya menyeramkan, bisa bikin jantungan. Jangan sampe aku terlibat hubungan lebih dari teman kelompok dan teman serombel sama nih orang, amin.
"Dapet, Arina katanya dapetnih" dengan senyum lebar kucengkeram erat tangannya begitu melihat notif chat yang Arina kirim berisi data konsumsi masyarakat Indonesia dari tahun 2010-2018.
"Eh, maaf" teriaku begitu mendengar ringisannya, pelansih tapi karena efek euphoria dari data konsumsi masyarakat yang dikirim Arina membuatku tanpa sadar mendempetkan posisi duduk kami.
"Nggak papa, santai aja. Berati datanyakan udah, tinggal kita mau buat kapan? Kalau bulan ini aku nggak bisa soalnya Hima lagi mau ada acara jadi kemungkinan bakal agak sibuk"
Kenapa dia nggak marah? Padahal tangannya merah gitu karena tadi kucengkeram, pasti sakit. Apa jangan-jangan...
Belum sempat pikiran liarku merangkai berbagai hipotesis, suara beratnya yang khas berhasil membuat jantungku bekerja ekstra memompa darah "Kenapa? Terpesona?" mati aku.
"Hah? Enggakok, aku ngikut kamu aja ada waktu luangnya kapan. Akukan bukan orang sibuk, kalau bisa jangan pas weekend ya" kutebalkan mukaku mengabaikan godaan manusia yang hampir 3 tahun ini kukenal pendiam, dingin, dan misterius padahal aslinya... nggak tahu deng.
"Iya juga nggak papa" gumamnya pelan.
Jantung, tenang! Kamu kalau mompa darah jangan berlebihanlah, ini aku mau napas susah woy.
"Kamu ada pacar?" nyuuut... rasanya jantungku ditembak menggunakan desert eagle*.
"Kita bahas besok lagi ya, aku lupa ada janji sama Nita" dengan terburu-buru kututup layar laptopku yang masih menunjukan barisan semut hitam yang menyusun jurnal tentang konsumsi masyarakat yang menjadi awal kedekatanku dengannya, tugas kelompok membuat jurnal.
Mati aku, mati. Batinku begitu merasakan genggaman tangannya seolah menahanku yang baru saja selesai memasukan laptop dan bergegas pergi meninggalkannya yang menjadi momok menakutkan bagiku.
"Tunggu habis adzan mahgrib dulu, bahaya cewek keluar pas mahgrib-mahgrib" katanya tajam seolah mengingatkan adiknya tentang bahaya keluar saat mahgrib.
Kutundukan pandanganku menghindari tatapan tajamnya yang kurasakan menyorotku dari samping, kembali kududukan bokongku ketempat semula dengan jantung berdebar kencang hingga membuatku sulit menelan ludah.
"Tunggu habis mahgrib dulu, nanti kuanterin" perintahnya tegas yang kubalas dengan anggukan pelan.
"Kos Nita dimana?" tanyanya memecahkan kecanggungan yang menyelimuti usai perintah tak terduganya itu.
"Rumah Cantik, gang belakang gedung C3" gumamku dengan suara serak, efek tenggorokan kering karena terlalu gugup.
"Deket ya? Kalau gitu santai aja, nggak usah buru-buru. Oh ya, emang kalau weekend kenapa? Kamu ada acara jalan sama pacar ya" tanyanya retorik, ini orang nanya apa ngajak geludsih. Kok sinis begitu, ngeselin.
"Enggaklah, emang orang b**o mana yang mau sama orang aneh kek aku" gerutuku sebal.
Wajar, hampir 20 tahun hidupku. Nggak pernah sekalipun aku dekat dengan cowok kecuali tuntutan tugas atau tetangga waktu kecil dulu. Nggak tahu kenapa, apa aku terlalu jelek? Tapi kata beberapa orang aku cantikok biarpun nggak punya banyak followers di IG padahal aku juga posting beberapa fotoku disana, mungkin karena aku jelek makanya nggak punya banyak followers.
Awalnya itu bikin aku malu dan sedih tapi semakin dewasa aku nggak peduli karena menurutku nggak penting, semakin dewasa membuatku memfungsikan IG menjadi hiburan dikala tugas nyerangnya udah keterlaluan. Bahkan aku udah nggak pernah update apapun di IG atau akun sosmedku lainnya, males. Menurutku yang penting bahagia di dunia nyata daripada cuman bahagia di dunia maya, nyiksa diri.
"Kamu nggak anehkok, justru mereka yang aneh karena berharap kamu jadi seperti apa yang mereka diktekan. Kamu, ya kamu, cuman satu di dunia dan nggak bisa disamakan apalagi ditiru sama siapapun. Menurutku kamu nggak anehkok, cuman mereka aja yang salah menilai dan nggak bisa memahami kamu"
Deg...deg...deg...
"Dan aku salah satunya" gumamnya lirih tapi masih mampu menembus gendang telingaku yang hanya berjarak 100 cm dari mulut beracunnya. Mati aku
Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Alhamdullilah, batinku bersorak gembira mendengar panggilan shalat tersebut. Bahkan tanpa kusadari senyumku merekah dan rona wajah penuh kelegaanku tidak bisa disembunyikan, seolah memang ini yang paling kunantikan. Biasanya juga masih suka nunda-nunda, jeleknya aku.
"Kita sholat dulu ya nanti kalau udah selesai tunggu aku di selasar, aku anterin ke tempatnya Nita" perintahnya tegas seraya tangannya gesit merapikan barang bawaannya kedalam ransel hitamnya.
"Nggak usah, lagian tempatnya deket jadi aku bisa pergi sendiri" tolaku langsung, bisa jadi bulan-bulanan Nita aku kalau sampe dia tahu tiba-tiba aku di Kosannya diantar Genta.
Sebenernya aku nggak punya janji sama Nita, demi menghindar dari suasana tak terduga karena Genta, paling aman kabur ke tempat Nita yang lokasinya lebih deket dan orangnya nggak terlalu ribet. Kalau pulang ke Kos dengan alasan janji sama Arafah atau Hesti bisa berujung bully tak berkesudahan, belum lagi penghuni lainnya yang juga punya karakter 11-12 sama mereka, usil.
"Nggak papa, soalnya kalau malem biasanya warung depan gang itu selalu jadi tempat tongkrongan jadi penuh cowok dan rokok. Jangan coba-coba jalan sendiri kalau malem, bahaya. Iya kalau cuman digodain, gimana kalau terjadi hal lain? yuk" ini orang maksudnya apa? bikin was-was aja.
Baru tahu aku kalau warung situ jadi tempat tongkrongan mahasiswa yang melepas penat dengan cara berkumpul dan share asap rokok. Tapi dulu aku lewat sama Arafah nggak ada apa-apa karena emang kalau malem warung itu tutup, jadi sejak kapan kejadian seperti ceritanya Genta ini?
"Ayo" ajaknya dengan melangkah ringan menuju masjid yang ada di gedung L2 sementara aku mengikutinya dengan kening berkerut lantaran berusaha mencari alasan untuk menggagalkan acara antar-mengantar ke Kos Nita yang berjarak tidak lebih dari 500 m.
Bisa jadi bulan-bulanan mereka aku, biarpun Nita tipikal teman anti ribet tapi kalau kumat mulut usilnya suka nylekit dihati. Dia nggak ember sebenernya kecuali lagi gabut, badmood, tugas numpuk atau baper gara-gara dia itu selalu terkena sindrom second lead drakor yang jarang banget dapet happy ending.
Intinya Nita itu tipikal temen yang jelek tapi nggak jelek-jelek bangetlah keculai lagi dalam kondisi tertentu, dijamin menenggelamkan dia di Samudra Hindia bakalan jadi rencana sempurna yang bisa dicetuskan otakmu kalau nyinyirnya lagi kumat. Semoga aja habis sholat aku dapat petunjuk cara menghindari Genta segera tanpa perlu ada agenda ketemu Nita apalagi mahasiswa EP A 2016 lainnya, bisa panjang urusannya.
÷÷÷÷÷÷÷
Desert Eagle adalah senjata api semi-otomatis besar yang diproduksi di oleh (IMI), dibawah kontrak untuk Magnum Research, Inc. Desert Eagle mampu menembus target sekaligus membuat target hancur seketika, seperti dilansir dari avclub.com. Berat pistol ini bisa mencapai 2 kg dengan panjang sekitar 30 cm. Pistol ini memiliki daya tembak 2000 joule yang akan menghasilkan suara tembakan yang amat keras.