PART 13 (Pilihan Lain)

1550 Kata
Banyak yang bilang kalau cinta datang karena terbiasa tapi kalau terbiasa dijodoh-jodohin mana mungkin bisa cinta, yang ada sebal luar biasa. Itu yang dipikirkan Wulan sejak dirinya bertemu Genta di halte bus dan diseret masuk bus yang penuh sesak, entah tujuannya membantunya menghindari interogasi Hesti atau malah mendukung hipotesis si ratu drama itu, tapi yang pasti akibat tindakannya itu akan membuat Wulan semakin terjebak skandal asumsi tak berdasar teman-teman mereka. Ketika Wulan bertemu Genta selalu bersikap acuh nyatanya itu semua hanya kamuflase untuk menutupi kegugupannya. Bahkan akhir-akhir ini dirinya hobi mengutuk takdir yang mempertemukan mereka dalam berbagai moment, tugas kelompok di 3 matkul yang besar kemungkinan akan bertambah seiring berjalannya waktu di semester ini. Wulan tidak suka selalu dikaitkan dan juga dicie-ciekan dengan Genta. Wulan tidak benci Genta. Dia hanya malu, risih dan apa yaa... intinya dia tidak suka dikaitkan dengan Genta yang selalu dianggapnya aneh. Bahkan Wulan menolak ajakan Hesti yang mengajaknya mengikuti acara @secret (Economic Development Student Creativity Time) yang diadakan HIMA EP setiap tahunnya. Jika itu acara HIMA sudah pasti disana ada Genta, karena Wulan tidak ingin memperbesar hipotesis teman-temannya tentang hubungannya dengan Genta tentu saja dirinya harus menghindari bersinggungan apalagi bertemu disaat C (confidence level) mereka dari 95% meningkat menjadi 99%. Anak ekonomi Cnya 95% bukan 99% kayak anak medis, jadi jangan sampe kejadian hipotesis mereka membawa kebenaran yang tidak kuharapkan. Terlalu drama dan mengada-ada jika saat ini aku mati-matian menolak dikaitkan dengan Genta tapi akhirnya malah jadian sama dia, bisa gonjang-ganjing hidupku karena pasti jadi bulan-bulanan bully mereka. Drt~ Panggilan masuk Errrika Kukerutkan kening sebelum memutuskan mengangkat panggilan dari teman sejak kecil sekaligus tetanggaku itu dikarenakan ini merupakan pertama kalinya dia memanggilku via telepon dikala jarum pendek jam menunjuk angka 11. Tumben, biasanya cuman chat aja, batinku. "Kenapa Ka?" tanpa salam seperti biasanya, kutanyakan maksudnya menelponku dikala kebanyakan orang mulai merapikan kasurnya berniat tidur. "Hallo? Mbak temannya yang punya HP inikan?" Bukannya suara cempreng dengan nada ogah-ogahan yang biasanya kudengar dari Erika yang menyambutku tetapi malah suara berat yang dipastikan milik lelaki entah siapa ditambah suara gaduh musik yang membuatku mengerutkan kening. "Iya, kenapa ya? Ini siapa" "Mbak ini temennya udah teller berat mending mbak jemput temennya ke Ocean Dream. Bahaya mbak, cewek di Club sendirian" "Hah? Serius? Mas jangan ngeprank dong, temen saya itu nggak pernah diijinin orangtuanya keluar malem jadi gimana ceritanya dia bisa sampe sana?" tanpa sadar kuteriakan protesku. "Serius mbak!" "Astaughfirullah Rikaa... maaf mas, boleh minta tolong jagain temen saya dulu, 15 menit lagi saya sampai sana buat jemput dia" Tanpa peduli bagaimana respon orang yang memanggilku itu, kumatikan sepihak panggilannya dan bergegas memesan ojol yang lumayan sulit dikarenakan posisi bulan mulai meninggi diangkasa. Bahkan aku tidak mempedulikan apakah orang yang menghubungiku sebelumnya bisa dipercaya untuk menjaga teman sejak kecilku itu karena yang saat ini bercokol dipikiranku adalah bagaimana caranya bisa sampai Ocean Dreams secepatnya. ====== "Makasih mas" buru-buru kukembalikan helm berwarna hijau yang khas itu ke pemiliknya. "Mbak, uangnya!" astaughfirullah Wulan, malu-maluin kamu. Panik boleh tapi jangan lupa bayar ojolnya kali, batinku meringis dan mengulurkan uang berwarna biru dengan wajah memerah malu. "Emang mau ngapain buru-buru mbak?" tanyanya ramah tapi terasa menyebalkan karena sorot mata ingin tahunya ditambah pandangannya yang sempat mengamatiku dari atas ke bawah. Wulan b**o, batinku begitu menangkap maksud tatapan menilai pengemudi ojol itu. Celana training hitam panjang, kaos putih kebesaran ditambah jaket warna denim pudar yang tentu saja terlihat aneh kalau dipake pergi ke club, orang ke Club ootdnya nggak amburadul begini, tapi efek terlalu panik bahkan membuatku lupa untuk mengganti baju. "Jemput temen mas" jawabku tergesa-gesa berjaaln menuju pintu Club yang terlihat penuh lalu lalang orang. Kupejamkan mata rapat begitu selangkah kakiku memasuki Club tapi sudah disambut dengan kencangnya volume musik yang diputar DJ dan lampu kelap-kelip yang membuat pandanganku kabur. Ini yang punya usaha hemat listrik apa gimanasih, tempat seluas inikok cuman dipasang lampu kelap-kelip putar-putar yang bikin pandangan buyar, ditambah musik yang diputar kencenganya ngalahin orang punya hajatan, pengang-penganglah kupingku ini. Si Rika kan anak rumahan kenapa bisa nyasar sampe ke tempat penuh maksiat ini sih, bikin pusing aja. Harus nyari kemananih? Batinku gelisah melihat kerumunan orang yang sibuk bergoyang dan banyak orang bertebaran diberbagai sudut, belum lagi gerombolan orang yang sibuk merokok, b******u tanpa tahu malu, atau minum-minum cairan berwarna warni di sofa-sofa berwarna merah terang itu sementara aku dengan mata menyipit berusaha fokus celingak-celinguk nggak jelas. "Lo ngapain disini?" "Mas!" teriaku spontan begitu mengetahui jika orang yang menepuk bahu kiri dan berbicara itu adalah Chandra, si kating anggota kelompok evapro. Kurasakan perasaan lega yang entah bagaimana ceritanya menghampiriku yang baru kusadari cukup lama berdiri didekat pintu masuk karena saat ini kakiku mulai terasa pegal. Penampilanan chick serba hitamnya entah kenapa membuatnya terlihat keren dimataku bahkan aku sempat lupa apa tujuanku kemari sebelum akhirnya ingat ketika getaran ponselku dari caller id bernama Errrika memanggil. "Hallo? Dimana?" dengan panik kuteriakan kata yang melintas dikepalaku begitu mengingat jika tujuanku kemari adalah menjemput Erika. "Hah?" teriaku karena tidak mendengar jelas perkataan orang disebrang sana bahkan aku tidak menyadari jika layar HPku telah mati, habis batrai. Wulan b**o, inikan emang jamnya kamu tidur sekalian charge HP. "Mas, lihat temenku nggak?" bahkan dengan bodohnya kuucapkan kalimat apapun yang terlintas dipikiranku demi menemukan teman masa kecilku itu. Wulan g****k, memangnya mas Chandra tahu siapa temenmu? Kenal juga baru, stupid me. "Temen lo siapa? Genta?" "Bukanlah, aduh... hpku mati lagi, gimana ya..." kuedarkan pandangan diseluruh ruangan yang tidak mungkin dengan mudah kulihat jelas selain karena minim pencahayaan tapi juga karena penuh orang ditambah tinggi badanku yang tidak seberapa semakin menjadi kendala. "Temen lo kenapa? Gue bantu cari, keliatan banget baru pertama kali kesini" bisiknya karena semakin malam kusadari musik yang diputar justru semakin kencang, buktinya telingaku semakin pengang rasanya. "Cewek, namanya Erika, badanya sejengkal lebih tinggi dariku, kulitnya putih, badannya agak berisi, rambutnya hitam panjang sepunggung bergelombang, dipipi kanannya ada t**i lalat kecil" jelasku rinci berharap bisa menemukan Erika secepatnya bahkan ejekannya yang mengatakan jika ini pertama kalinya aku menginjakan kaki disini kuabaikan. "Bukan itu bocah, maksud gue bajunya warna apa? Kalau gitu susah, lo pikir dia orang ilang?" "Ya mana kutahu, orang aku aja ditelpon sama mas-mas katanya dia mabuk tapi aku lupa nanya dia nemu temenku disebelah mana, keburu panik duluan" Ya Allah, semoga Erika cepet ketemulah. Pusing disini, mana tenggorokkanku sakit karena daritadi ngomong sama mas Chandra sambil teriak-teriak, saingan sama musik yang kencengnya ngalahin speaker hajatan tetangga. "Temen lo mabuk?" "Mas, jangan teriak dikuping! Sakit!" kutepuk bahunya keras karena telingaku semakin nyeri karena musik yang diputar semakin kencang ditambah teriakan mas Chandra. Tanpa memperdulikan protesku sebelumnya lelaki berpakaian serba hitam itu menyeretku masuk lebih dalam bangunan club malam itu. kesan yang pertama kali kudapat setelah masuk gedung itu lebih dalam adalah, menyesakkan. Bau alcohol, rokok dan parhum beragai merk berbaur menjadi satu membuatku mual tapi mati-matian kutahan karena takut menyinggung banyak pihak yang terlihat menikmati bau campur aduk seperti itu. "Temen lo yang mana?" tanyanya begitu menghadapkanku dengan meja bar yang penuh orang yang disuguhi berbagai macam minuman berwarna-warni. "Hah? Gimana carinya? Tempatnya penuh dan remang-remang gini gimana aku bisa tahu Rika dimana" "Lo punya HP buat apaan? Kasih liat fotonya, gue bantu cari orangnya. Kalau dia mabuk pasti tempatnya disini soalnya kalau lantai atas buat mahasiswa harganya kurang bersahabat" "Hpku mati" gumamku lesu tanpa berani menatapnya yang menatap intens, nervouslah dipelototin cowok ganteng. "Hhh.. terus nyarinya manual gitu? nih" katanya sinis menyodorkan Hpnya. "Buat apa?" "Cari fotonya disosmed buruan!" "Dia nggak pernah upload fotonya" jawabku kikuk berusaha menghindari tatapannya yang kurasakan semakin tajam. "b**o, lo mau temen lo dikelonin orang?" "Kok gitu?" teriaku kaget bercampur panik menyadari peluang perkataannya terjadi besar. "Ini club malam bukan club makan, tempatnya maksiat. Lo cari di akun siapakek atau akun sekolah SMA kalian buruan, gue bantu cari. Bahaya cewek mabuk sendirian di club malam" Hampir sepuluh menit kuotak-atik HP berlogo apel tergigit itu untuk menemukan foto Erika diantara puluhan uploadan foto teman sekelasnya waktu SMA dulu "Ketemu!" teriaku gembira seolah memenangkan lotre. "Mana?" tanyanya ikut antusias. "Orangnya yang ini" tunjuku antusias pada foto Rika yang memakai jeans warna hitam dan t-shirt bergaris hitam putih. "Nggak ada gambar yang lebih bagus dibanding ini apa? burem gini" ketusnya setelah mengamati foto Rika yang kusodorkan kearahnya. "Dahlah ikut gue aja!" perintahnya menyeretku tanpa permisi menuju meja panjang yang penuh orang itu. Dengan perasaan jengkel ku ikuti langkah lebarnya menuju tempat yang menurutku tidak naman itu, tapi begitu kepalaku menangkap objek yang menarik diantara manusia dimeja pajang itu membuat rasa jengkelku buyar. Potongan rambut cepak, kemeja putih bergaris, dan postur badan itu mirip... Genta! Itu beneran Genta? Batinku begitu melihat siluet sampingnya sekilas karena mas Chandra dengan semangat menyeretku mendekati meja bar yang bersebrangan dengan deretan sofa yang ditempati Genta. Sekilas, tapi mendebarkan dan sukses membuat pikiranku sibuk merangkai berbagai hipotesis terkait sosok Genta yag nampak berkeliaran di Club malam, setahuku Genta anak alim jadi aneh kalau nemu dia eksis disini. Tapi itu tak bertahan lama begitu aku menangkap postur tubuh Rika yang familiar tertelungkup diatas meja pojok yang disebelahnya lelaki berpakaian urakan tengah mengajaknya berbicara. "Rika!" teriaku tapi masih tidak mampu mengalahkan deru musik menggema disemua ruangan dan juga membuat orang yang kupanggil sadar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN