PART 14 (Rahasia)

1293 Kata
Suara kertas dibalik, percakapan lirih dan juga aroma kertas menjadi hal yang biasa ditemukan di perpustakaan fakultas yang terletak di Gedung C6 lantai 2 ini. Meja baca yang disekat maupun tanpa sekat dipenuhi mahasiswa yang sibuk dengan tumpukan buku dan laptop masing-masing. Semua hal itu mendukung penuh aksi Wulan yang tengah melamun didepan beberapa tumpukan buku bersampul biru tebal, skripsi. Niat awal mencari judul untuk matkul Sempro esok hari justru terlupakan kala benaknya sibuk mereka ulang kejadian semalam. =(Flashback)= Layaknya adegan sinetron dimana kedua tokoh saling berpandangan dengan suara kepala saling bersahutan selama berjam-jam yang sering membuatku sebal, malah kualami hari ini. Salahkan mas Chandra yang tadi sempet nyebut nama Genta! sekarang atmosfer tidak menyenangkan menyelimuti parkiran bercahaya temaram di belakang gedung Club malam yang perdana kudatangi. Lalu lalang orang setengah waras -mabuk-, suara berdebum musik yang diputar maksimal, dinginnya udara menjelang fajar, ditambah tatapan Genta sukses memperparah tremorku. "Wulan ngapain disini?" tanyanya pelan setelah sekian menit hanya diam. "Ini...emmm.. apa?... tadi dapet telpon dari nomor temen...di suruh jemput soalnya...dia mabuk sendirian" jelasku dengan intonasi yang semakin turun, deg-degan. "Udah biasa kesini?" "Hah? Eng..." "Pertama kali lah, diakan anak alim luar-dalem jadi mana mungkin dia sering ke tempat maksiat begini. Wulandari, buruan masuk!" belum sempat kalimat sangkalan kuungkapkan tapi teriakan mas Chandra sudah memotong telak dengan intonasi tajamnya. "Ah ya, Genta, duluan ya" Belum sempat kakiku melangkah menjauh tapi kalimat Genta sukses membuat otaku bekerja keras mengartikannya. "Aku harap kamu nggak berpikir macem-macem setelah ini, jadi kalau ada yang bikin kamu bingung, tanya aja. Aku bakal nunggu pertanyaan dari kamu Wulandari" =(Flashback end)= Maksudnya Genta semalem apa ya? awalnya kagetsih bisa ketemu dia di tempat yang punya image hmm... buruk buat kebanyakan masyarakat, termasuk aku. Setahuku image dia selama inikan, anak baik-baik yang nggak suka neko-neko, kalem mendekati dingin, alim, kalau denger adzan bawaannya kakinya mau langsung lari ke sumber suara. Wajarkan kalau otakku berspekulasi berbagai macam hal kurang positif, pencintraan misal. Tapi untungnya dia pencitraan dikelas buat apa? dia emang anggota HIMA biarpun kata Arafah, nggak semua anak organisasi itu baik. Yang blangsak, egois, diktator sampe kang pencitraan juga banyak katanya, tapi manfaatnya buat Genta apa? Ditambah kalimat mas Chandra semalam yang membuat spekulasi negatifku tentang Genta semakin parah. "Kalau dia ngomong ini pertama kalinya tuh orang disini percaya aja, gue seringnya nemu dia nongkrong di 4 Season Bar and Cafe, tahu nggak lo? Gue yakin 100% lo nggak tahu, Ituloh Bar sekitar Graha Indah, tempatnya orang berduit" "Hayoloh, ngelamun jorok ya!" "Astaughfirullahaladzim!" teriakku yang sukses mendapat pelototan tajam dari pengunjung perpustakaan hari itu. Belum sempat mulutku kembali terbuka untuk mengomelinya tapi kalimat menyebalkan dari orang yang belum lama kukenal ini sudah meluncur bagai roket, bikin jantungan. "Mikirin semalem ya? Siapa yang lo pilih?" Chandra Garjita Prambudi, si biang keladi. "Apanya?" "Gue apa Genta?" "Hah? Buat apa?" "Buat jadi pacarlah" Astaughfirullah-astaughfirullah-astaughfirullahaladzim.... Ya Allah, tolong kuatkan imanku. Ini orang kalau ngomong kenapa suka banget bikin jantungansih? pacar apaan coba? Tapi kalau disuruh milih... mending Genta, eh. Sadar Wulan! Nggak ada pacar-pacaran, dosa. "Nggak ada dan aku juga nggak mau pacaran" "Yakin? Ini gueloh yang punya predikat pacarable" godanya dengan menaik-turunkan alis tebalnya. "Pacarable belum tentu suamiable, mas. Dahlah, mas nih bercanda mulu, udah sampe bab berapa emang?" "Lo kok ngeselinsih, nanya kabar dulukek. Gue kira lo beda, ternyata sama aja" "Yaudah, maaf. Mas apa kabar? Baikan, terus disini mau ngapain? Puas?" "Dimaafin, kabar baikdong apalagi ketemu lo. Gue kesini mau ngapelin lo lah masa mau ngapelin anak tetangga" "Astaughfirullahaladzim mas, serius!" "Ciee.. yang maunya diseriusin. Gue mau sih, tapi modalnya nggak ada jadi kalau dicicil pake gelar Sarjana dulu gimana? mau nggak?" "Ngaco, mas kalau disini cuman mau ngerecokin aku aja mending pergi ajalah aku lagi pusing ini" "Pusing mikirin gue ya?" "Karepmulah mas" "Ngambek? Gue kesini mau ngerjain skripsilah sekalian ngecengin lo asik juga ternyata" "Mas!" "Apa sayang?" "Diem!" "Ogah, gue kalau suka orang, ngomong ke orangnya. Nggak cuman melototin dari pojokan kayak yang itu tuh" Spontan kuikuti arah pandangnya yang melirik deretan bangku sebrang, tepatnya sisi kanan yang ditempati Genta. Tunggu, Genta? Sejak kapan? "Sejak kapan?" gumamku dengan tatapan fokus kearahnya yang memberikan tatapan intens kearahku entah sejak kapan. "Sejak lo ngelamun kali, gue liatin daritadi dia juga cuman melototin lo doang tapi nggak ada niat mepetin lo jadi gue tikung aja" Kupicingkan mata berusaha mengintimidasi manusia bermulut lemes ini walaupun kusadari hanya akan berakhir sia-sia. "Hufftt..." "Mas!" kutepuk bahunya sebal. Ini orang kenal belum ada sebulan tapi lagaknya udah kayak kenal lama, tiup mata orang sembarangan padahal nggak kelilipan. Kalau ada yang salah paham gimana? "Wul" "Hah?" kupandang bingung wajah keruhnya yang entah kenapa membuat bulu kuduku berdiri tegak dihadapannya, Genta. Kapan datengnya? kok nggak denger suaranya tapi tau-tau udah berdiri tegak disebelah, serem lagi auranya. "Bisa ikut aku sebentar? Ada yang mau aku bicarin, penting!" "Ya" spontan kurapikan buku-buku tebal bersampul biru -Skripsi- yang sejak tadi terbuka lebar tapi sama sekali tak berhasil menarik minatku kembali ke tempatnya semula. "Duluan mas" pamitku dan mulai mengikuti Genta yang sudah keluar lebih dulu dari perpustakaan jurusan dan mengabaikan tatapan menggodanya. ===== Ini orang katanya mau ngomong tapi daritadi nggak ngomong-ngomong mana ditinggal ngegame pula, mau ngeur tapi sungkan, tapi kalau nggak ditegurkok keterlaluan. Kucoba fokuskan pandanganku ke layar HP yang menampilkan beranda i********: tapi sayangnya pikiranku justru sibuk mengutuk sikap lelaki dihadapanku, Genta. "Emm.. Genta? Kamu ngajakin kesini mau ngomong apaan?" kucoba mulai percakapan karena terlanjur sebal menunggu bibirnya yang hampir 10 menit ini betah tertutup rapat. Mana daritadi dilirik-lirik pengunjung kantin biarpun setahuku Genta nggak masuk jajaran mahasiswa hits tapi mukanya mendukung buat itu, manis. "Sama kayak kamu, aku semalem juga jemput temen yang tepar" Kuanggukan kepalaku singkat sebagai isyarat mendengarkan ceritanya. Padahalkan nggak ada faedahnya juga aku dengerin ceritanya, tapi yaudahlah demi kedamaian bersama. "Gue biasanya ikut temen ke 4 SBC buat ngilangin isi otak gue yang rumit karena gue..." "Keluarga gue...hancur" Entah kenapa mendengar suara Genta yang semakin pelan dan juga gaya bahanya yang berubah membuat tanganku tanpa permisi menggenggam tangannya yang terkepal erat diatas meja. "Lo kasihan sama gue?" Kugelengkan kepala singkat dengan senyum tipis buat pemanisnya "Keluarga hancur bukan berarti kiamat Genta, mungkin saja memang jodoh orangtuamu waktunya cuman sampai situ" "Kenapa lo nggak kasihan? Lo tahu buruknya keluarga bubarkan?" "Tahu, aku emang bukan dari keluarga broken home tapi aku yakin nggak seburuk itu. Daripada bersama tapi banyak drama dan numpuk dosa mending pisah tapi bisa damai dan bahagia. Kamukan cuma broken home bukan yatim piatu, disyukurin aja. Seenggaknya mereka masih tinggal di dunia yang sama kayak kamu dan masih bisa ketemu biarpun beda rumah, jadi kenapa aku harus kasihan?" "Kenapa lo bisa berpikir sepositif itu? Nggak pernah susah lo?" tuduhnya dengan senyum meremehkan yang membuat hatiku berdebar tidak nyaman. "Ngawur, yang namanya manusia pasti pernah ngerasain susahlah, entah apa wujudnya. Bukannya itu yang disebut cobaan? Semua punya porsinya sendiri-sendiri Genta, jangan disamain apalagi dibandingin, kufur itu. Lihatnya kebawah jangan keatas biar kamu bisa bersyukur" "Berasa curhat sama psikolog gue, btw temen lo siapa yang ke OCD semalem? Bukan bang Chandrakan?" "Enggaklah, dia temen deket sejak SD, tetangga jugasih. Ketemu mas Chandra itu nggak sengaja, pas aku mau nyari diakok" "Jangan diulangi kesana sendiri, bahaya. Dan gue harap lo bisa jaga rahasia tadi" "Ya, kamu tenang aja. Aku orangnya insyaalloh bisa dipercayakok" "Thanks" "Sama-sama, udahkan? Aku duluan ya, soalnya udah ditunggu temen" "Gue anterin ya?" "Nggak usah, dia udah nunggu di depankok, duluan ya" pamitku dan beranjak pergi menuju parkiran depan kantin ini dengan terburu-buru. Kuharap cerita permasalahan keluarganya itu bukan indikasi minatnya untuk berhubungan lebih dari teman denganku. Genta emang ganteng, tapi aku nggak suka karena jantungku selalu berdebar kencang didekatnya, nggak nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN