Guyuran hujan menyambut penghuni gedung C3-120 yang baru saja usai kuliah ESDAL bersama bu Amanah. Terlihat wajah-wajah bosan, lelah, dan marah mendominasi mahasiswa EP A 2016 yang baru saja usai kuliah tapi malah disambut guyuran hujan lebat hingga menyulitkan mereka untuk pulang.
“Anjir, gue nggak bawa payung” teriak Hesti heboh tetapi tidak berhasil menandingi suara derasnya guyuran hujan diluar sana.
“Hesti, diem! Kamu teriak-teriak juga nggak bakalan bikin hujannya langsung berhenti jadi nggak usah…”
“Wulan” suara berat asing berhasil membuatku menelan kembali berbagai jenis u*****n yang siap meluncur indah dari mulutku, Gentala Alfahreza.
“Ya?” jawabku kikuk menatapnya yang saat ini telah berdiri menjulang di sebelah kiriku, maklum aku kali ini duduk dipojok kiri kelas sementara sekat antar bangku di ruang C3-120 sempit hingga membuat tidak nyaman jika berdiri lama-lama.
“Mau ngerjain tugasnya kapan? Karena minggu depan kemungkinan aku sama Malik nggak bisa”
“Arina? Aku ngikut aja maunya kapan” jawabku kikuk karena dipelototin begitu, maklum aja si Genta ini punya mata agak belo jadi kalau ditatap lama-lama berasa lagi dipelototin, bikin merinding mana tampangnya lempeng aja lagi.
“Yaudah kalau gitu nanti kamu yang tanyain dia ya, sekalian buat grup nanti malem kita bahas” perintahnya lugas dan berlalu dengan senyum tipis setelah menepuk bahuku pelan.
“Ekhemm~ cie cie cie sekelompok sama… hahaha” Diyah, si ceriwis yang hobi ngejahilin temennya.
Kampret, baru diginiin aja udah di cie-ciein gimana kalau lebih? Eh. Wulan sadar! Lo kan nggak suka Genta jadi jangan baper cuman gara-gara cie-cie ala anak SD dari Diyah.
“Disenyumin lagi” Sarita teman dekat Diyah tentu tidak ketinggalan buat ikut-ikutan meledeku.
“Shhht… brisik kamu Di, orang kita sekelompok ya wajarlah” jelasku panik bahkan tanpa sadar mengguncang bahu Diyah dengan heboh.
“Ya santai dong! Sakit tau” gerutu Diyah dengan bibir mengerucut sebal.
“Ya habisnya kamu ngeselinsih. Dahlah aku mau pulang aja, yuk Hes”
“Lo mau ujan-ujanan, Wul?” tanya Hesti begitu menghampiriku yang berdiri diteras ruang C3-120 yang penuh mahasiswa menunggu hujan reda.
“Enggaklah, aku bawa payungkok”
“Terus menurut lo gue gimana bu? Ujan-ujanan gitu? ogah”
“Ya kita joinlah, nggak usah bertingkah kek anak sultan gitudeh. Kamu mau nginep disini?”
“Lo amnesia apa katarak? Lo nggak liat badan gue segede badak gini?”
“Ya..”
“Pake payung gue aja” Genta dengan gaya lempengnya mengulurkan payung lipat berwarna navy kearahku.
“Hah? Nggak usah, kalau dipenjemin ke aku, kamu pulangnya nanti gimana?” tolaku kikuk, ini orang maksudnya apa coba, deket enggak main nawar-nawarin minjem payung segala kesannyakan aneh. Mana anak-anak lain pada ngeliatin lagi.
Pemanangan langka kali ya Genta ngajak ngomong cewek duluan, cewek yang deket sama diakan cuma Sofia yang jelas bucinnya Friski, Amel yang diragukan jiwa wanitanya, sama Manda yang jelas-jelas LDR sama pacarnya. Selama inikan temen deketnya cuma Dika dan akhir-akhir ini lagi lengket sama Burhan.
“Gue mau ke PKM sama Dika jadi payungnya nggak kepake, kalian pake aja daripada tas gue berat”
“Thanks Ge” sambar Hesti dan langsung menariku menjauh begitu saja tanpa pamit apalagi lambai-lambai manja.
“Kok kamu main ambil gitu aja sih Hes? Kamu yang balikin besok!” semburku jengkel begitu kami keluar dari pintu kecil yang biasanya disebut pintu doraemon oleh anak-anak FE UIS.
“Kan yang dipenjemin elo wul, jadi lo yang balikin besok” tekannya dan berlalu tergesa-gesa menembus derasnya bulir air yang jatuh dari langit.
“Hesti k*****t, jadi orangkok nggak bertanggung jawab. Bodolah, pokoknya aku nggak mau” protesku keras berusaha menyejajarinya yang setengah berlari lincah menghindari kubangan air meninggalkanku jauh dibelakang.
Maklum aja diantara kami berenam memang aku yang terlahir dengan tubuh mungil yang tingginya tak lebih dari 155 cm dengan berat 45 kg, sementara tinggi Hesti 160 cm dengan berat 59 kg, Dea tingginya 165 cm dengan berat 50 kg, Nita 162 cm dengan berat 49 kg, dan terakhir Utari tingginya 158 cm dengan berat 60 kg. biarpun Utari bilang jarum timbangannya udah bergeser ke kiri sebanyak 3 garis tapi tetap saja tidak kelihatan karena bentuk tubuhnya masih sama, jadi bisa dipastikan tak ada yang percaya dengan perkataan Utari yang terkesan hanya khayalan saja itu.
“Hesti aku lupa ngajak si Nita sama Utari, gimana nih?” teriaku panik begitu menyadari jika aku lupa mengajak pulang teman baikku yang lainnya, maklum arah Rumah Dea berlainan dengan kami berempat sehingga tidak bisa pulang bersama.
“Dah pada gede biarin aja, lagian juga nggak bakalan nyasarkok. Buruanlah, makin deresnih!” teriak Hesti tetap mempertahankan langkah lebarnya menghindari genangan air.
Dasar Hesti, nggak punya rasa setia kawan biarpun yang dia bilang benersih tapikan yaa.. udahlah lagian juga terlanjur nyampe sini paling besok cuman kena omel dikit. Batinku bergegas mengikkuti langkah lebar Hesti yang berjalan kesana-kemari menghindari aliran air dari atas, maklum saja posisi jalan menuju kosan kami memang menanjak.
====
Walaupun hujan telah usai dengan menyisakan gerimis tipis dan jalanan basah serta beberapa lubang genangan air dijalan tapi hawa dingin justru terasa menusuk tulang sehingga makan malam yang tepat untuk kali ini adalah mie instan. Tapi sayang stoknya habis jadi dengan terpaksa aku keluar bersama Hesti demi sebungkus mie instan untuk makan malam.
“Seblak keknya enaknih Wul” kata Hesti begitu motor berhenti didepan minimarket dekat kos kami.
“Kamu mau beli seblak? Yaudah aku nitip seblak campur level 5 satu ya, kamu mau nyetok mie instan nggak? Kalau iya, biar aku yang beli dan kamu bagian antre seblak”
“Dih kok gitu? mending lo aja yang antre seblak biar gue yang beli mie instan”
“Kan yang bawa motor kamu Hes, dahlah kamu mau nitip mie berapa? Buruan! Dingin tau”
“Tapi lo nanti yang nyamperrin gue kesana, ogah gue kalau disuruh jemput lo disini biarpun cuma beda beberapa meter. Mana nyebrangnya susah lagi kalau jam segini, macet”
“Iya ntar aku yang nyamperin kamu, mau nitip beli mie berapa?”
“Mumpung promo beliin mie goreng 5 sama mie kuahnya 5 yang biasa ya, duitnya minjem lo dulu” katanya seraya membelokan motor bersiap menyebrang jalan yang ramai kendaraan lalu lalang karena kebanyakan juga pada keluar cari makan atau sekedar nongki-nongki cantik.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk membeli mie instan pesanan Hesti yang kuyakin saat ini dia tengah bersungut-sungut sebal mengantre beli seblak didepan Stadion Merdeka yang terkenal enak. Kutolehkan kepalaku kanan-kiri menunggu lenggang lalu lalang kendaraan yang justru sangat ramai dimalam dingin uasi diguyur hujan hampir 3 jam sore tadi.
Brak~
Terlihat sebuah motor Beat Street berwarna hitam tergeletak dipinggir jalan tak jauh dari posisiku berdiri menunggu lalu lalang kendaraa lenggang. Dua orang pria tergeletak dibahu jalan dan tengah dibantu beberapa orang untuk duduk ditrotoar jalan tak jauh dari lokasi kecelakaan itu.
Kayak kenal, batinku melihat seorang pria memakai kemeja putih bergaris hitam dengan ransel hitam serta gantungan perak yang cukup familiar menurutku. Genta! Batinku berteriak begitu melihat wajahnya yang tanpa sengaja menoleh kearahku berdiri kaku menunggu jalanan lenggang bahkan tanpa sadar bukannya menyebrang jalan tapi aku malah berjalan menghampirinya yang saat ini menunduk mendengar ceramahaan bapak-bapak yang membantunya duduk ditrotoar jalan.