PART 2 (EKONOMI SUMBER DAYA LINGKUNGAN)

1098 Kata
Hari senin merupakan hari mulia bagi umat islam karena pada hari itu Nabi Muhammad SAW lahir, mendapat wahyu, dan meninggal, semua amalan hamba diangkat, pintu surga di buka, istimewa sekali bukan? Tapi senin semester ini sepertinya akan berjalan kelam bagi Wulan. Dua matkul yang masing-masing memiliki bobot 3 sks di hari yang sama diampu oleh orang yang sama, di ruang yang sama pula dan hanya diberi jeda 30 menit. Kejam sekali TU menyusun jadwal rombel EP A 2016. 1 sks = 50 menit jika 2 matkul dengan bobot masing-masing 3 sks, berarti 300 menit = 5 jam kami akan berkencan dengan bu Amanah di ruang C3-120 mendengarkannya mengocehkan Perekonomian Indonesia yang tidak jauh-jauh dengan pembanguan ekonomi, pertumbuhan ekonomi, pajak, konsumsi masyarakat, dan kawannanya setelah itu hanya jeda 30 menit kami akan kembali dijejali bu Amanah dengan AMDAL, Pajak Progresif, Kurva Lingkungan Kuznet, Pembangunan Greentown dan kawannya yang dijamin membuat matamu mengerjap lelah. Sekedar informasi ya, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi itu berbeda, bukan karena tulisan dan cara membacanya saja tapi definisi, perhitungan dan konsepnya itu beda. Pembangunan ekonomi itu proses multidimensional yang melibatkan perubahan struktur ekonomi dan sosial, memperhitungkan pertambahan penduduk dan modernisasi, sementara pertumbuhan ekonomi merupakan proses yang mengakibatkan pendapatan perkapita meningkat dalam jangka panjang tanpa memperhitungkan pertambahan penduduk dan perubahan struktur ekonomi dan modernisasi. Sederhananya, pembangunan ekonomi itu memperhitungkan proses dan hasil tetapi pertumbuhan ekonomi hanya memperhatikan hasilnya. 5 jam bersama Bu Amanah itu nggak enak karena beliau itu tipe dosen serius jadi kalau didalam kelas pasti bahasannya ya materi kuliah kalau tidak dari buku pegangan ya pasti isu terbaru yang dihubung-hubungkan dengan 1001 teori ekonomi yang kebanyakan pemikirnya sudah tenang di alam sana. Nggak ada istilahnya dia akan curhat masalah anaknya apalagi suaminya, mungkin takut ditikung pelakor, mentok dia cerita pasti tentang pengalaman penelitiannya yang terdengar seru bagi yang berminat tapi kalau mahasiswanya seperti Wulan tentu saja hal itu membosankan karena bahasannya pasti variabel X, Y, hasil penelitiannya tidak signifikan, atau mungkin alat analisisnya yang bermasalah. Hello, hidup Wulan itu sudah penuh masalah sebagai mahasiswa biasa-biasa saja di semester 6 ini, apalagi punya temen kerajinan seperti Arafah yang hobi banget nanyain mau ambil topik apa buat sempro nanti, ketemu dosennya aja belum, udah diteror buat mikirin topik. Sudahlah membahas bu Amanah dijamin akan membuat moodmu terjun bebas, semoga saja Dosbing informalku bukan bu Amanah karena dijamin topik penelitianmu akan bermasalah. Bu Amanah sendiri pernah bilang kalau mahasiswa bimbingannya itu topik penelitiannya dia yang menentukan karena nantinya itu akan menjadi bagian dari proyek penelitiannya yang bekerjasama dengan mahasiswa. Hello, topik nentuin sendiri aja kadang ogah-ogahan kalau berurusan dengan revisi apalagi kalau sudah ditetapkan begitu, auto pindah haluan kalau itu Wulan orangnya. “Hhh… ngantuknih, kalian masih sanggup melek?” Wulan dengan lesu menatap Nita, Hesti, dan Utari yang sudah kembali ketempatnya usai shalat Dzuhur dengan wajah segar. “Lo kapan nggak ngeluh ngantuk apa suntuksih, Wul? Anjir, muka lo wkwkwk… keliatan banget ngantuk. Merem dulu sono, ntar kalau mulai gue bangunin” Hesti memang terlahir dengan mulut berbisa dan perasaan sensitive tidak terkira yang sangat merepotkan tapi terlepas dari itu semua dia adalah teman yang baik dan perhatiankok. “Thanks Hes, aku ngantuk banget kemarin susah tidur” gumamku lesu dan mulai menelungkupkan badan di bangku kuliah yang hanya setinggi pinggang. “kapansih lo nggak ngeluh susah tidur? Biasanya juga duduk baru 5 menit tapi nyawanya udah kabur ke dunia mimpi” dasar mulut cabe, kalau ngehujat orang niat banget untungnya aku ngantuk berat gini jadi nggak kugubris ocehan nylekitnya itu. “Bangun! Ada bu Amanah” rasanya baru 5 menit aku memejamkan mata tapi suara cempreng Hesti sudah bergema memaksaku keluar dari dunia mimpi yang belum sempat kucicipi. Hhh… kuhela nafas berat mulai menatap fokus kedepan dimana bu Amanah tengah sibuk mengotak-atik layar laptopnya bersiap memulai kuliah kembali untuk matkul yang berbeda, Ekonomi Sumber Daya Lingkungan.  "Assalamu'alaikum wr.wb, Selamat siang mas mbak. Kita sehari ada pertemuan 2 kali ya untuk matkul PI dan ESDAL, ibu kira rombel yang satunya ternyata sama. Kalau misalnya jadwalnya kita padatin aja, gimana? biar nggak sampe 6 jam dalam sehari tapi kita pangkas aja jadi 4 jam tapi nggak usah ada jeda. Eh, tapikan yang ESDAL jam 1 ya? Kalau mau dimajuin ntar kalian nggak sholatdong ya, yaudah kalau gitu ikut jadwalnya ajalah. Sama seperti PI tadi kontrak kuliahnya toleransi keterlambatan 15 menit, kesempatan absen sebesar 30% atau 2 kali pertemuan demi kebaikan bersama, bobot nilai 2+2+2 dan setelah UTS akan ada tugas membuat jurnal sama seperti yang saya jelaskan waktu matkul PI tadi pagi, bedanya tentu saja di tema. Biar praktis dan tidak makan banyak waktu kelompoknya sama saja ya, lagian hampir 3 tahun bareng pasti akrabkan sama temennya sendiri, disini nggak ada yang dari angkatan 17kan?” oh, ibu anda sangat mulia, hobi sekali memberi tugas padahal materi kuliah belum dapat tapi sudah disiapkan tugas sejak awal, faedahnya apa coba? Kayak nggak tahu tabiat mahasiswa aja yang akan banjir ide kalau udah dateline. “Nggak ada bu. Ijin bertanya, apa kita masih tetep ada UTS tertulis?” Sofia bertanya dengan lantang mewakili pertanyaan yang berkecamuk di otak setiap mahasiswa di ruangan ini, maklum aja bobot buat jurnal itu berat kalau masih ada UTS tertulis itu kejam. “Tentu saja UTS dan UAS tertulis tetap ada, apa kalian mau ujian lisan?” eh, busyet ini dosen wali nggak PEKA amat ya, maksud hati bertanya begitukan siapa tahu nggak ada tes tertulis lagi biar beban otak agak berkurang gitu. “Tertulis saja bu” spontan mahasiswa rombel EP A 2016 berteriak kompak menentang ide bunuh diri dengan cara ujian lisan. Gila aja, ESDAl lisan? Gagu mendadak lo, isu lingkungan itu berat apalagi dikaitkan sama isu ekonomi yang lebih sensitive dari moodnya ibu-ibu hamil. “Yakin? Bukannya lebih enak lisan ya? Lebih cepat” masyaalloh bu, baru kutahu engkau ternyata semenyebalkan ini didalam kelas, dulu waktu metopen suka sibuk rapatsih jadinyakan kami kurang berpengalaman dengan karakter bu Amanah yang keliatan kalem pas perwalian. “Iya bu” kalau keadaan genting gini aja baru kompak, biasanya? Pecahlah jadi dua kubu besar dengan beberapa geng kecil penghuninya. Sayap kanan kelas untuk wanita kalem, ambis, dan pendiam sementara sayap kiri kelas untuk anak-anak aktivis, hiperaktif, dan ceriwis. “Lihat saja nanti kedepannya, kalau memungkinkan saya ingin mengadakan metode lisan saja biar lebih praktis dan meja saya nggak bertumpuk tugas dari kalian yang minta dicoret-coret” Astaughfirullah, elus d**a aku denger bu Amanah ngomong gini, seandainya ku berani menyampaikan aspirasi inginkr teriak , SALAH SENDIRI NGASIH TUGAS BANYAK, SITU JUGAKAN YANG REPOT? MAKANYA KALAU MAU NGASIH TUGAS ITU YANG MANUSIAWI JANGAN MAIN PERINTAH-PERINTAH AJA TANPA ADA INSTRUKSI YANG PASTI, EMANGNYA DI PHP ITU ENAK? HUH. Akhirnya hanya helaan nafas berat dan sedikit gerutuan terdengar lirih dari berbagai penjuru gedung C3-120 siang itu dan kuliah ESDAL berjalan lancar walaupun terlihat banyak mahasiswa yang berjuang keras membuka matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN