PART 18 (Pahlawan)

1353 Kata
Entah berapa kali aku menghela nafas berat dan memasang senyum sungkan ketika disapa oleh beberapa pria yang kuduga penghuni kos ini. Ini mas Chandra mandi apa sekalian jaga lilin? Lama banget, nggak tahu apa kalau aku udah lumutan nunggu daritadi. Batinku gondok tapi masih berusaha sabar menunggu biarpun ngerasa bokongnya tepos, kelamaan duduk. "Lama ya?" "Iyalah" ketusku. "Ya sorry, mau makan apa?" "Hah?" "Makan dulu yuk, gue laper nih. Lagian sekarang juga waktunya makan malam" "Kemana?" tanyaku begitu melihatnya berdiri dengan memainkan kunci motor, kayaknya. "Cari makanlah" "Dimana?" "Lo maunya apa?" "Nggak tahu" "Lo udah makan?" "Udahkok" "Kapan?" "Tadi pagi?" gumamku mengingat-ingat kapan terakhir kali makanan masuk ke lambungku. "Manusia normal makan sehari 3 kali bukan sehari sekali, cacingan lo?" "Ish, enggaklah!" "Pacar baru bang?" celetukan dari lelaki berambut gondrong itu berhasil menghentikan perdebatan kami yang mendekati k*****s. "Iyalah, emangnya lo, jomblo udzur?" "Sialan lo bang, makanya kenalin temen lo yang jomblo jugadong biar gue nggak jomblo lagi" "Sorry ya, temen gue nggak doyan laki kumel modelan lo" "Muka mirip Kim Taehyung gini, lo katain kumel, siap-siap dibanting fansnya lo bang. Iyakan dek?" tanyanya tiba-tiba menatapku intens. "Eh?" ini kenapa mendadak nyampe ke Kim Taehyung? Biarpun gaya rambutnya sama-sama keriting tapi tetep aja mukanya jauh beda, V kan ganteng tapi dia? Astaughfirullah Wulan nggak boleh jelek-jelekin orang yang udah... lupakan! "Apaan lo, dak-dek dak-dek? Emangnya dia mau punya abang kayak lo?" "Adimas Syailendra panggil aja bang Adi" disodorkannya tangan besar itu kearahku. "Chandra, dan orang ini nggak bakalan manggil lo abang karena dia lebih senior daripada lo, bocah" Belum sempat kujabat tangan lelaki berperawakan besar dengan rambut gondrong itu tapi sudah didahului mas Chandra yang membuat kening si gondrong berkerut bingung. "Maksud lo apa bang?" "Dia udah semester 6 sementara lo, bocil yang baru aja menyandang gelar maba. Jadi nggak usah kebanyakan tingkah lo" "Nggak usah ngibul lo bang! Dia masih cocokkok kalau mau pake seragam putih-biru" "Enak aja, aku udah 20 tahun ya!" teriaku jengkel yang membuat tawa mas Chandra meledak memenuhi ruang tamu kos yang terasa lebih hidup atmosfernya karena penghuninya telah banyak yang kembali. "Serius? Lo bukan maba?" sepertinya lelaki gondrong dihadapanku ini perlu ditampol dulu biar mulutnya bisa mengatur kosakata yang keluar dari mulutnya lebih layak didengar. "Bukanlah! Aku udah semester 6 tau, situ berapa emang?" "Dua" gumamnya tertunduk lesu. "Mas, aku mau makan gepreknya Bu Ani!" kataku dengan nada memerintah dan dengusan sebal tak ingin memperpanjang basa-basi yang berhasil memancing emosiku itu. "Lain kali kalau nggak tahu, tanya! Bahasanya yang sopan! Jangan main tuduh begitu" gumamku menasehati lelaki gondrong yang sempat mengataiku anak SMP tadi dari ambang pintu rumah kos sementara mas Chandra masih berusaha keras menghentikan tawanya, semoga aja tuh orang nggak keselek. Aku butuh udara segar untuk mendinginkan asap dikepala karena dikatai anak SMP sama maba gondrong yang kebetulan berperawakan besar sehingga terkesan lebih dewasa dibandingkan diriku. Anak jaman sekarang gizinya kelebihan kayaknya, masak aku yang udah 20 tahun tingginya cuman nyampe d**a bocah gondrong tadi, mana mukanya lebih boros pula, itu berkah apa bencanasih? ===== Ditengah hilir mudik kendaraan yang berlalu lalang kepalaku sibuk merangkai kejadian menyebalkan di warungnya Bu Ani tadi. Air mataku bahkan menetes tanpa kuperintah dibalik boncengan motor yang dikendarai mas Chandra. Gosip kedekatanku dengan Genta yang akhir-akhir ini mulai kuterima lapang d**a walaupun rasanya menyiksa. Kejahilan penghuni kos yang bercandaannya udah keterlaluan tapi tetap kudiamkan, udah capek negur karena bukannya mendatangkan pengertian tapi malah godaan tak berkesudahan. Topik sempro yang terpaksa ganti dan kejadian tadi, hhh... aku nggak nyangka orang yang kuanggap teman bisa setega itu mempermalukanku. Biarlah aku kali ini agak lebay karena aku lagi capek pura-pura cuek dan keliatan baik-baik aja. Flashback "Mau pesen level berapa?" tanyanya begitu kami duduk di meja pojok yang baru saja dibersihkan. "Level 10 sama es jeruk jumbo" gumamku mengamati suasana warung yang ramai karena memang waktunya makan malam, jadi penuh mahasiswa. Tanpa berkata apapun dirinya beranjak menuju konter pemesanan yang penuh sesak orang mengantre. Kalau tahu bakalan seramai ini mending beli geprek di tempatnya mama Aliya aja daripada penuh sesak dan pasti bakalan lama, huftt.. kuhela nafas panjang dan mulai menyibukan diri di dunia orange. "Ciee... ada yang lagi nugas plus-plus nih ye" Astaughfirullahaladzim kenapa harus ketemu mereka diantara sekian banyak orang yang harus kuhindarisih? Merekakan mulutnya lebih kejam dari netijen. Batinku nelangsa begitu Afifah dan Tias mengenyakkan diri dihadapanku yang menunggu kehadiran mas Chandra. Afifah dan Tias adalah beberapa orang bermulut pedas yang apesnya juga berstatus sebagai penghuni kos Putri Kinasih. Mulut jahilnya mbak Diana, mbak Risma, Hesti atau Septi ibarat geprek cuman level 5 tapi kalau kombinasi Afifah sama Tias itu level dewa. "Hai Wul" "Oh hai" balasku canggung menanggapi sapaan Afifah. "Nugas disini?" Afifah memang ramah tapi aku tidak menyukai gaya bahasa dan intonasi bicaranya yang terkesan meremehkan. "Enggak" "Sama siapa?" Belum sempat kujawab pertanyaan introgatif Tias tapi suara berat yang hampir seharian ini membayangiku menyela lebih dulu, mas Chandra "Gue". "Bang Chandra?" "Kalian kenal?" tanyaku sangsi mengingat lelaki berperawakan tinggi ini adalah kating jurusanku sementara mereka berduakan jurusan PJKR. FE ke FIK itu jauh loh baik lokasi maupun studi ilmunya, gimana ceritanya mereka bisa kenal? "Kenalah, kan kita satu UKM" jawab Tias bangga, entah kenapa. "Ahh" gumamku terpaksa berharap mereka peka kalau aku enggan bercakap-cakap lebih lama dengan mereka. "Bukannya lo ada acara sama Genta?" "Hah? Kapan?!" teriakku berlebihan menanggapi pertanyaan bernada pernyataan dari Tias itu. Jangan bilang kalau mereka juga kenal Genta, kalau iya bisa jadi bencana ini, karena entah kenapa aku merasa pertanyaan Tias itu menyudutkanku. "Temen serombel elo kan Genta, bukan mas Chandra jadi kenapa nugasnya sama mas Chandra? Genta tadi ke kos nyariin lo" Medey-medey! Alarm berbahayaku menyala kencang begitu memahami arah pembicaraan mereka. Apalagi penjelasan dari Afifah berhasil membuat wajahku pias. "Serius?" lirihku dengan suara tercekat di tenggorokan. "Iyalah! Lo jadi cewek jangan suka PHP dong Wul, ntar kualatloh" "Maksud kamu apa, Fah?" "Lo kalau nggak suka sama Genta jangan ngasih harapan dong, Wul! Jadi cewek jangan maruk!" "Maksud kamu apasih, Yas? Kalau ngomong yang jelas! Jangan main spekulasi-spekulasi yang belum terbukti kejelasannya!" "Shhht... tenang, biar gue jelasin dulu!" interupsi dari satu-satunya lelaki yang duduk dimeja kami itu berhasil memadamkan api yang mulai tersulut, ditandai dari kalimat-kalimat sarkasme yang diucapkan Tias dan Afifah. "Gue lupa bilang sama Genta kalau lokasi nugasnya pindah di kos gue bukannya di tempat Wulan. Btw, gue, Wulan sama Genta emang sekelompok Evapro" "Maksud lo apa, bang?" entah kenapa nada menyelidik Tias itu semakin membuat tenggorokanku tercekat dan pikiranku blank sejak mereka menyingung tentang kedatangan Genta. Jadi tadi Genta ke Kos? Buat apa? Dia nggak ngasih kabar apa-apa, nggak ada chat masuk juga. Batinku linglung begitu mengecek story chatku dan Genta terakhir kali terjadi waktu ngerjain PI sekalian ngintilin dia ke pesta ultah temennya yang namanya aku juga udah lupa. "Gue evapro dulu nggak lulus makanya sekarang ngulang lagi. Dah ya, gue sama Wulan kudu cepet-cepetnih, takutnya si Genta udah nyampe" Dengan patuh kuikuti langkah lebarnya yang menyeretku meninggalkan warung ayam geprek favorit kebanyakan mahasiswa itu. Harga merakyat, rasa nikmat dan tempatnya nggak mengecewakan menjadi daya tarik kuat dikalangan mahasiswa. "Kalau temen kurang ajar begitu harusnya lo damprat bukannya pasang muka minta disembelih begitu, dah kita makannya delivery aja, yuk. Kos-kosan cewek ternyata 11-12 sama asrama acara pencarian bakat, ya! Penuh persaingan dan pertengkaran" "Ya" gumamku linglung mengikutinya menaiki motor yang membawa kami kemari bahkan lupa dengan ayam geprek yang kami pesan sebelumnya belum jadi, entah bagaimana nasibnya nanti. Jujur saja tindakan mereka sangat keterlaluan dengan mengataiku maruk padahal mereka tidak tahu duduk perkaranya, biarpun mereka mengaku kenal Genta dan mas Chandra tapi tetap saja aku tidak menyukai sikap menghakimi itu biarpun kejadian tadi tidak menarik perhatian banyak orang. Sebenarnya sudah lama aku enggan dekat dan berteman akrab dengan mereka karena selain mulutnya kurang ajar mereka juga kurang punya rasa malu, empati dan sopan santun, nggak heran kalau penghuni kos lain juga kurang menyukainya. Untung mas Chandra ngomong begitu jadi hatiku agak tenang biarpun masih was-was dan sakit hati atas perilaku orang yang berlabel teman itu. Flashback End
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN