PART 17 (Hancur)

1154 Kata
"Udah sampai bab berapa?" "Kamu udah bimbingan?" "Dosbingnya siapa?" adalah beberapa kalimat tanya terkutuk yang pasti menghampiri mahasiswa diujung tanduk seperti Wulan ini. Bertemankan laptop yang menyala terang dan beberapa tumpukan buku, Wulan memasang wajah muram lengkap dengan helaan nafas berat setiap detiknya di pojok perpustakaan. Bulir-bulir air mata berlomba membasahi wajah mendungnya membuat kepalanya terasa semakin pening. "Perasaan lo hobi banget semedi dipojokan dah, ngapa? Sinyalnya bagus ya?" Ditengah pikiran yang semakin semrawut kehadiran manusia bermulut tajam bukanlah waktu yang tepat, Chandra Garjita Prambudi. Tak ingin otaknya semakin semrawut dengan ogah-ogahan dilambaikan tangannya sebagai tanda pengusiran. "Sakit gigi, lo?" "Hhhh... mas tolong jangan berisik, lagi puyeng ini" kupaksakan suaraku keluar demi menghindari keributan. "Cacingan?" "Hm" "Lo kena cacingan sama radang kagak ada bedanya ya, diam-diam menjengkelkan" "Ya" "Lo ngomong dua huruf lagi, gue tampol" "Apa?" "Sabar-sabar, lo kalau nggak ikhlas ngomong sama gue mending diem daripada bikin gue senewen" "Lo serius nggak mau ngomong sama gue?" Tanyanya lagi setelah 5 menit tak mendapat respon apapun dariku, dasar nggak konsisten. "Mas! Serius aku lagi mumet ini, jadi toloooonnngg... banget mas jangan brisik. Kalau nggak bisa, mending mas pergi aja sana!" "Lo ada masalah sama penelitian lo ya?" "Kok tau?" "Gue tadi liat lo nangis depannya Pak Toni" "Ngawur! Aku nggak nangis ya!" "Iyadeh nggak nangis, cuman manyun aja" "Enggak! Mas nggak usah ngajak berantem ya, aku lagi stress ini" "Yee... siapa juga yang ngajak berantem? Orang gue cuman nanya-nanya doang" "Tapi pertanyaanmu itu mengundang emosi" "Itukan lo nya aja yang emosian" "Mas!" "Sorry-sorry, Mau gue bantu nggak?" "Hhh...Ya. Emangnya mas Chandra bisa bantu apa?" "Dih, nantangin. Nggak tahu aja lo, gue dulu pernah magang di KIME tahu" "Ya terus?" "Kok lo ngeselinsih" "Mas Chandra lebih ngeselin" "Ini kenapa kesannya jadi kayak bocah adu sensasi? Dahlah, kalau lo emang perlu bantuan gue, ntar sore dateng aja ke kos gue" "Ngapain?" "Nyalon" "Hah?" "Hah-heh Hah-heh aja lo, lo perlu bantuan gue nggak? Kalau iya, ya lo usaha dong! Ke tempat gue rayu-rayu bawa bingkisan gitu. Jangan tangan kosong! Kesannya nggak modal, kere lo?" "Emang aku kere, kenapa? Masalah?" "Masalah lah, jadinyakan gue juga ikut-ikutan nggak sejahtera" "Mas kamu kalau ngomong bisa to the point nggaksih? Aku bingung daritadi banyak ngomong tapi nggak tahu mana ide pokoknya" "Lo kata bahasa Indonesia pakai ide pokok segala?" "Kan kita ngomong pakai bahasa Indonesia" "Iya juga ya. Ah udahlah, ntar sore lo ke tempat gue!" "Ngapain?" "Nah kan balik lagi, sebenernya yang bikin obrolan kita jauh dari pokok pikiran itu lo sendiri bukan gue, dah pokoknya jam 3 gue tunggu di tempat gue" "Tapikan aku nggak tahu tempatnya mas Chandra" "Lo masih pake HP layar kuning?" "Enggaklah" "Yaudah tinggal shareloc, susah amat" "Terus nanti ngapain di tempatnya mas Chandra?" "Ngapel! Dahlah, orang sibuk mau pergi dulu, bye" "Mas! Serius ih" "Gue juga serius! Dah, jangan ngajakin gue ngoceh melulu, haus" "Tap..." belum sempat kuselesaikan pertanyaanku tapi narasumbernya sudah menghilang. Bentar-bentar, ini maksudnya dia mau bantuin bikin masalah penelitianku kan? Enggak nambah masalah hidupku. Jujur aja masalah hidupku sudah meresahkan apalagi ditambah harus bikin masalah penelitian yang susah banget muncul idenya, entah terbang kemana otak imajinatifku ini. Padahal biasanya, dalam jangka waktu 5 menit otakku sudah bisa merangkai beberapa scene adegan novel. Ah sudahlah, mending sekarang pulang terus tidur biar nanti otakku lebih bisa diajak kerjasama buat mencari ide baru mengingat kejadian tadi pagi yang sukses menghancurkan segala anganku. [Flashback 2 jam lalu] Suasana mendebarkan kala bimbingan adalah pemandangan biasa tapi kalau sampe ada yang mukanya kuyu dan merah mau nangis itu agak berkesan. Sekuat tenaga kuatur pernafasanku yang terasa nyeri ketika melewati tenggorokan karena terganjal tangis dan u*****n. Gara-gara subyek penelitian yang sama, dosbingku, Pak Toni menyarankan, Enggakding, lebih ke memerintahkan buat ganti topik! dan yang lebih menyakitkan, dia bilang topikku juga nggak menarik. Garis bawahi! NGGAK MENARIK, bukan lagi level kurang menarik. Ya Allah rasanyakok nyesek banget ya judul di tolak begini, padahal baru judul belum juga masuk Latar Belakang dan kawanannya. Ibarat kata baru keliatan gerbangnya udah ditendang jauh, kayaknya lebih nyesek daripada korban PHP biarpun aku nggak pernah jadi korban PHPsih, alhamdullilah. Gebetan aja nggak punya jadi mau di PHPin siapa? Paling bias, kalau ada. "Gini mbak, biarpun objek penelitian kalian berbeda tapi subyeknya sama jadi hasil akhirnya besar kemungkinan juga sama. Kalau udah ada yang meneliti lebih baik ganti karena nggak mungkin sidang dengan topik yang sama cuman beda mahasiswa dan dosennya aja" "Mmm.. iya pak" dengan lesu kuanggukan kepala berusaha menahan jerit tangis dan sesak didada, sakit banget oy. "Biar kasus seperti ini tidak terulang lagi saya kirim list daftar judul skripsi 5 tahun kebelakang ya" "Ya, pak" "Nggak usah sedih begitu, untung baru judul dan belum sampe ke Bab 1 ketahuannya, jadi masih bisa segera diganti. Jangan patah semangat ya!" "Iya pak, terimakasih" "Kalau begitu saya tunggu judul barunya minggu depan ya!" "Baik pak, terimakasih, permisi" pamitku pelan, nggak semangat. Hhh... apes bener nasibku bisa samaan sama anak EP B, tahu gitu aku nggak usah sok-sokan ngalah tadi, sekarang pusingkan nyari-nyari topik lagi. Wulan-Wulan, kayaknya kamu harus belajar bersikap bodo amat biar nggak gampang nggak enakan gini, mentang-mentang si Retha udah di Acc sama bu Maria. Akhirnya dengan langkah lunglai kuarahkan kakiku menuju perpustakaan fakultas di gedung C6-245 berharap bisa segera menemukan topik baru karena waktunya udah mepet. Habis UTS langsung presentasi jadi kalau nggak cepet bisa-bisa nilai semproku C, kan bahaya. Mana Bu Rida bilangnya nilai tergantung hasil pula, matikan kalau begitu. [Flashback End] Dengan bingung kupandang bangunan satu lantai bercat biru yang terlihat sepi dan sedikit suram karena tidak ada pencahayaan didepannya, bahkan halamannya kotor penuh rontokan daun mangga. Bahkan matahari yang sudah kembali ke peraduannya saja tak membuat si pemilik bangunan menyalakan sumber penerangan lain sehingga membuat rumah lebih terang dan terkesan berpenghuni. Nggak kayak sekarang, gelap, kotor, dan menakutkan. "Wul! Ngapain disitu? Sini masuk" tiba-tiba pintu dihadapanku terbuka menampilkan orang yang siang tadi memerintahkanku menemuinya. "Ini... beneran kosmu mas?" tanyaku sangsi karena menurutku suasananya kurang nyaman, halamannya memang lumayan luas tapi gelap dan penuh guguran daun mangga. "Kenapa? Suram ya?" "Iya" "Lampu depan mati dan belum sempet diganti sama anak-anak jadinya ginideh, sini masuk dulu" dilebarkannya pintu itu menyilahkanku memasuki ruang tamu yang ternyata cukup bersih dan lumayan luas. "Lo tunggu sini bentar, gue mau mandi dulu. Nanti kalau anak-anak lain dateng dan nanya lo siapa, bilang aja pacar gue soalnya yang menghuni sini kebanyakan biawak kalaupun enggak biawak pasti jomblo udzur jadi kalau ada umpan segar langsung diembat" perintahnya enteng yang sukses membuat wajahku memucat. Ini Kosan manusia apa setan? Kenapa kesan seremnya nggak cuman di bangunannya aja, tapi sampe ke penghuninya? Tahu gitu aku nggak usah kesini tadi, tapi kalau nggak kesini otakku udah nggak sanggup diajak berpikir lagi. Bissmillah semoga cepet selesai, batinku yang duduk dengan nelangsa sendirian di ruang tamu kos ini, Demi sempro!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN