PART 16 (Dunia Baru)

1949 Kata
"Hmmm... nyium bau wangi nggak Hes?" Asem, batinku begitu aku membuka pintu kamar berniat ke toilet buat antre mandi tapi sudah dihadang mbak Diana yang memasang senyum lebar penuh konspirasi. Maklum, kosanku toiletnyanya bukan fasilitas pribadi jadi harus bersedia antre. "Wangi apa mbak Di?" "Wangi hati yang lagi berbunga-bunga, Hes" "Iya ya? Pantes jam segini udah mau mandi padahal biasanya masih rebahan bin goleran sampe yang liat lumutan" "Di kamar mandi tadi ada orang nggak, mbak Di?" kuabaikan segala macam sindiran penuh godaan itu karena kalau diladenin cuman bikin capek doang. "Pojok dipake Asri nyuci kalau tengah kayaknya dipake Septi, janjian jam berapa emang?" "Jam 10, eh apa?!" spontan kubungkam mulutku begitu tidak sengaja keceplosan, mati aku. "Ekhem-ekhem, btw ini baru jam 7 loohh... rajin amat neng" Hesti k*****t. "Asri... aku habismu!" teriaku dan membanting pintu kamar dengan wajah frustasi. Kuabaikan tatapan protes Arafah yang tidunya terganggu karena ulahku yang menutup pintu secara bar-bar. Suara tawa mbak Diana dan Hesti yang nyaring diluar sukses membuatku semakin frustasi karena mereka nampaknya akan betah merecokiku entah sampai kapan, untung penghuni lain masih pada anteng di kamarnya masing-masing. "Kenapasih Wul?" kurasakan Arafah bertanya dengan enggan mungkin karena masih ngantuk tapi jengkel juga melihatku yang duduk merana dipojokan mirip korban PHP. "Maaf ya, kamu lanjut tidur lagi aja" kuhindari pertnyaannya karena tidak mau menjelaskan sesuatu yang sia-sia. "Mana bisa lanjut tidur kalau kamu aja tingkahnya 11-12 sama orang depresi yang siap gantung diri begitu" "Ih, enggaklah. Enak aja nyamain sama orang depresi mau gantung diri, ngawur kamu Fah" "Lagian tingkahmu itu memprihatinkan tahu, padahal semalem abis ngedate dan hari ini kayaknya juga ada agenda kencan jadi jangan pasang muka merana cuman gara-gara godaan tetangga dong, harusnya ceria dan bersemangat" "Ngedate apanya? Orang semalem aku ngerjain PI biarpun ujung-ujungnya nggak jadi karena dia sibuknya naudzubillah" introku, biarpun Arafah ini orangnya agak kaku dan cuek tapi dia nggak ember, kayaknyasih, semoga penilaianku nggak salah. "Loh, semalem kamu perginya sama Genta, tah? Tak kirain sama mas Chandra" "Kenapa kamu bisa nuduh aku pergi sama mas Chandra?" "Kamu nggak buka IG?" "Kenapa emang?" "Liat!" perintahnya menyodorkan laman beranda yang menunjukan postingan dari pemilik akun Chandragp01. Sebenarnya tidak ada yang menarik dengan postingan atas nama akun itu tapi yang membuat kami tertarik adalah foto gadis dari belakang yang nampaknya diambil diam-diam. "Itukan..." "Kamu!" tegas Arafah yang sukses membuatku melongo bingung. "Kok bisa?" Benar, siluet nampak belakang gadis bersweater hijau itu pasti diriku, nggak mungkin salahkan aku mengenali diriku sendiri apalagi kejadiannya belum lama. Tapi gimana ceritanya bisa begitu? Semalam, lebih dari 3 jam aku berdiam diri di toko buku itu nunggu Genta selesai meeting tapi kok aku bisa nggak sadar kalau disana sempat ada mas Chandra. Biarpun posisiku membelakangi sudut pengambilan gambar itu tapikan.... Demi memuaskan rasa ingin tahuku ku chat mas Chandra yang biasanya hanya kuhubungi disaat perlu saja, tugas evapro. ------- Mas Chandra dilihat pukul 5.13 wib lalu ------- Mas --------- Tak sampai 1 menit chatku dibalas padahal sebelumnya statusnya offline. ------- Mas Chandra online ------- Mas Napa? Mas kemarin ke The Madania Bookstore, Rasaprada Mall? Iya, napa emang? Mas nyuri fotoku ya! -------- Simpulku begitu dia mengakui kemarin pergi ke The Madania Bookstore kawasan Rasaprada Mall. ------- Mas Chandra online ------- Mas Napa? Mas kemarin ke The Madania Bookstore, Rasaprada Mall? Iya, napa emang? Mas nyuri fotoku ya! Dih, PD. Nggak liat captionnya lo? --------- "Fah emang captionnya apa?" tanyaku langsung pada Arafah yang nampaknya sudah tidak berminat melanjutkan tidurnya lagi. "Baby Day Out" jawabnya singkat tanpa perlu mengalihkan fokusnya dari layar HPnya yang kutebak menampilkan beranda i********:. "Asem, dikira aku anak ilang apa ya" gerutuku pelan, mulai mengetikan balasan chat dengan berapi-api bahkan teriakan Asri yang menginfokan aku sudah bisa menggunakan kamar mandi kuabaikan. ------- Mas Chandra online ------- Mas Napa? Mas kemarin ke The Madania Bookstore, Rasaprada Mall? Iya, napa emang? Mas nyuri fotoku ya! Dih, PD. Nggak liat captionnya lo? Hapus fotonya mas! Gara-gara mas temen-temenku pada berspekulasi aneh. Kalau mau minta foto lain kali ngomong! jadi nggak perlu bertingkah sok nyetalker begitu Biarin, biar aestethik, lo sih nggak tahu seni Bodo, pokoknya hapus fotonya! Nggak sopan ambil foto orang tanpa ijin Emang kalau gue minta ijin lo mau? Enggaklah Nah, itu dah tahu jawabannya Mas! Serius ih Cieee... yang mau diseriusin Mas Chandra! Apa sayang? Tahulah, pokoknya kalau sampe besok itu foto belum mas hapus kudoain masuk neraka, upload foto orang tanpa ijin itu sama aja dengan pencurian Berati kalau gue majang foto Ariel Tatum tanpa ijin termasuk pencuriandong Tahulah mas, HAPUS! Ashiaaappp...dasar kang ngambek -------- Kuhela nafas berat begitu selesai memaksa kating sok akrab itu untuk menghapus postingannya yang berisi fotoku. Satu masalah selesai terus masalah lainnya gimanadong? Genta. Haduh Gusti... pusing pala Wulan kalau begini ceritanya, baru siluet belakangku yang diposting mas Chandra aja efeknya sampe seheboh ini, gimana kalau mereka liat Genta hari ini beneran jemput aku? Bisa jadi bahan bully sampe lulus nanti. "Lah, nggak jadi mandi Wul?" "Hah? Kenapa?" "Kamu nggak jadi mandi? Itu Asri udah selesai" "Fah, menurutmu aneh nggaksih kalau aku pergi sama Genta hari ini?" gumamku, jujur aku takut kalau bakal dapat reaksi kayak gini lagi, cie-cie yang mendebarkan bin menjengkelkan. "Hah? Serius? Jadi kamu kemarin perginya sama Genta bukan mas Chandra?" teriaknya yang kuharap tidak terengar penghuni lain. "Shhhttt!" "Maaf-maaf! Kaget, Lan" "Iya, semalem aku pergi sama Genta ke Rasaprada niatnyasih mau ngerjain PI tapi malah ditinggal sibuk rapat berjam-jam dan berakhir nemenin dia nyari kado buat temennya, asem bangetkan" curhatku dengan hembusan nafas lelah. "Dan hari ini dia ngajak ngerjain lagi tapi abis dari acara ultah temennya itu" "Bungkus ya, Lan!" "Ih, Arafah! Seriusan ih! Aku nggak mau jadi bulan-bulanan kalian buat di cie-ciein tapi kata Genta dia bisanya hari ini doang soalnya minggu depan katanya mau pulkam padahal awal bulan nanti kita udah janjian mau ngurus evapro, gimanadong?" "Yaudah ikut ajasih Lan, kalau ada yang cie-ciein bales cie-ciein aja" "Serius dong, Fah! Sarandong biar nggak ada adegan-adegan cie-cie nggak jelas kayak semalem, jujur kupingku sakit dengernya" "Ya kalau nggak mau dicie-ciein kamu perginya diem-diem jangan sampe ketahuan apalagi lewat medsos kek semalem" "Hhhh... masalahnya si Genta maksa jemput, gimanadong?" "Nggak tahu" "Kamu liat ajalah" kusodorkan HPku yang berisi barisan chatku dengan Genta subuh tadi. ----- Genta EPA dilihat pukul 05.38 wib lalu ------ Wul, nanti aku jemput jam 9 ya Kemana? Ngerjain PI Ketemu di kampus aja Gen Aku ada acara sama temenku nggak tahu sampe kapan makanya aku mau ajak kamu sekalian biar kita bisa tetep nugas Acara apa? Ultah Kalau kamu hari ini nggak bisa mending minggu depan aja Gen Mingdep aku pulkam soalnya di rumah mau ada acara Terus kamu bisanya kapan? Jangan awal bulan depan Gen, ntar bentrok sama evapro Ya minggu ini, serius Yaudah, kita bagi tugas aja gimana? Kamu bisa buat latar belakang, rumusan masalah, dan tujuannya? Susah lo, makanya aku ngajak barengan biar sisanya yang lebih ringan gampang dibaginya Iya juga ya. Yaudah, kamu abis acara sama temenmu chat aku aja kita nanti ngerjainnya di gazebo belakang L3 kayak kemarin Aku takutnya kalau selesainya malem. Soalnya kalau temenku udah ngumpul susah dibubarin apalagi ditinggal pergi karena alesan tugas, makanya aku mau ngajak kamu sekalian biar nanti aku kalau pergi nggak perlu sungkan dan jadi bahan bullyan Yaudah nanti aku kabarin ya, Ta -------- "Gimana menurut kamu Fah?" tanyaku tidak sabar setelah 5 menit kamar kami lenggang tanpa suara. "Biarin aja Genta jemput kesini Lan, nggak papa. Kamukan juga udah dewasa jadi nggak perlu sungkan kalau dikira ada apa-apa sama Genta. Lagian... Genta lumayan jugaloh" "Ih, Arafah!" "Serius Lan! Anak HIMA kayaknya bakalan sibuk banget bulan-bulan ini jadi daripada tugasmu nggak selesai mending kamu ikut Genta aja" "Gitu ya?" "Iyalah! Dah, sana bilang minta jemput! Nggak usah gaya melipir-melipir kayak semalem, cuman ngundang spekulasi, tahu" "Masak?" sangsiku. "Iyalah, kamu yang biasanya kalau nggak ada temen beli makan lebih milih bayar ongkos gofood yang mahalnya naudzubillah daripada pergi sendiri, mendadak pamit mau beli makan sendiri, mana nggak mau dititipin dan sok-sokan dirahasiain lagi, mencurigakan" "Iya-iya!" gerutuku sebal "Dah, sana mandi! Udah jam 7.30 tuh" "Ya" "Nanti abis kamu mandi aku ya" "Yo, jangan certain siapa-siapa soal semalem aku perginya sama Genta ya! Biar mereka tahunya yang pagi ini aja" Hanya acungan jempol yang kuterima sebagai tanda persetujuannya, dasar Arafah. Dengan perasaan yang lebih ringan dan keyakinan naik sebesar 40% dari 20% menjadi 60% kuketikan kata 'Ya aku mau ikut kamu ke acara temenmu dulu' ke roomchatku dengan Genta. Semoga aja drama cie-cie semalem nggak keulang lagi dan kalau keulang semoga nggak parah-parah amat sampe bikin otakku merana memikirkan jalan keluarnya. Selamat datang di dunia Cie-cie dan dehem-dehem menjengkelkan buat satu semester ini Wulan! Tebalkan kupingmu dan perbesar urat malumu, abaikan godaan setan berkedok teman. Semangat! demi tugas cepet kelar. Doaku sembari berjalan menuju kamar mandi mengabaikan dehem-dehem dan cie-cie menjengkelkan yang bersumber dari orang yang sama dari semalam, Hesti, Arafah, mbak Diana dan mbak Risa. Sementara penghuni yang lain masih nyaman dalam buaian pulau kapuknya masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN