"Gue nggak akan nangis. Gue nggak akan nangis. Gue nggak akan—"
PLING!
Sebuah air mata jatuh ke atas tangan Kirana yang sedang menggenggam buket bunga mewah. Di depan cermin besar di ruang rias, sosok asing menatap balik padanya—seorang perempuan dengan gaun pengantin rancangan desainer Italia, rambut yang ditata sempurna, dan wajah yang dipoles makeup artist profesional sampai mirip boneka porselen.
"Ini bukan gue. Ini cuma karakter dalam drama absurd."
"Nona Kirana, jangan digosok matanya! Nanti eyelash extension-nya lepas!" teriak sang makeup artist panik.
"Iya deh, iya," Kirana menghela napas. "Bodo amat. Toh ini pernikahan palsu."
Dari balik pintu, suara Siska sudah terdengar sejak tadi. "KIR! GUE BISA MASUK NGGAK? GUE PENGEN LIAT LO!"
Sebelum Kirana sempat menjawab, pintu sudah terbuka dengan kasar. Siska berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca dan mulut menganga.
"A-Astaga... l-l-lo..."
"Jangan bilang gue cantik atau gue bacok lo," gerutu Kirana sambil menyilangkan tangan.
Siska malah melompat dan memeluknya erat. "LO CANTIK BANGET ANJIR! GUE SAMPE NANGIS NIH!"
"Dasar Siska lebay!" Tapi Kirana tidak bisa menahan senyum kecil melihat air mata tulus temannya.
"Santai sis, ini cuma formalitas. Besok-besok juga lo bakal liat gue balik ke kantor pake kaos oblong kayak biasa."
"Tapi—"
"Nona Kirana, waktunya," seorang asisten menyela. "Ayah sudah menunggu di depan."
"Ayah." Kata itu membuat perut Kirana mual.
---
Dengan gaun sepanjang dua meter yang harus dibawa tiga asisten, Kirana berjalan pelan di karpet merah. Di ujung lorong, seorang pria berusia 50-an dengan jas abu-abu tengah menunggu dengan ekspresi tidak karuan.
"Dia datang karena dibayar. Bukan karena peduli."
"Nak..." Ayah Kirana mencoba tersenyum. "Kamu cantik sekali."
Kirana menatapnya tajam. "Kamu di sini cuma karena dibayar Dian. Jangan pura-pura jadi ayah peduli sekarang."
Pria itu menghela napas. "Aku tahu aku banyak salah—"
"Save it," Kirana memotong. "Hari ini cuma formalitas. Setelah ini, kamu balik lagi ke kehidupan kamu, aku kehidupan aku, Deal?"
Sebelum ayahnya sempat menjawab, musik sudah dimulai. Pintu besar terbuka, memamerkan ratusan tamu undangan yang berdiri menghormati.
"Buset! Dian bilangnya cuma nikah kecil!"
Di ujung aisle, Dian berdiri tegap dengan setelan jas putih yang membuatnya terlihat seperti pangeran dari dongeng—kalau saja wajahnya tidak sekaku patung marmer.
"Dasar, Tampan banget sih. Sayang isinya racun."
Saat Kirana melangkah, bisikan-bisikan mulai terdengar.
"Itu tunangan Dian? Cantik ya..."
"Katanya anak pengusaha sukses dari Surabaya..."
"Pasangan yang serasi..."
"Kalau saja mereka tahu."
---
Dian memandang Kirana dari ujung rambut sampai ujung gaun ketika dia tiba di sampingnya. "Anda terlambat 3 menit," bisiknya.
"Gue sengaja biar lo cemas," balas Kirana sambil tersenyum manis di depan tamu.
Upacara berlangsung kaku. Saat wali kota meminta mereka saling berjanji, Kirana bisa merasakan betapa tidak nyamannya Dian.
"Saya, Daryandra Zaynar Wira Pradipta, menerima Anda sebagai istri..."
"Dia bahkan nggak bisa pura-pura antusias."
Giliran Kirana. "Saya, Kirana Anastasia Wijaya, menerima Anda sebagai suami..."
"Bohong besar."
Tapi ketika cincin harus dikenakan, sesuatu yang aneh terjadi. Jari Dian yang biasanya stabil, tiba-tiba gemetar saat mencoba memasukkan cincin ke jari Kirana.
"Hah? Dia nervous?"
Begitu upacara selesai, Dian langsung menarik Kirana ke samping. "Jangan lupa, malam ini ada resepsi dengan investor penting. Anda harus—"
"Tersenyum manis dan pura-pura mencintaimu, yeah yeah gue tahu," Kirana memotong. "Lo juga jangan lupa janji lo: 5 miliar dan gue bebas setelah ini."
Dian mengeras. "Tidak ada yang berubah."
Tapi sebelum mereka bisa bertengkar lebih lanjut, Nyonya Wira sudah menyela dengan pelukan hangat.
"Selamat datang di keluarga kami, Nak!"
Kirana terpaksa memasang senyum. "Dua tahun. Hanya dua tahun."
---
Di ballroom hotel bintang lima, Kirana harus berdiri berjam-jam menerima ucapan selamat dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Kaki mulai pegal karena sepatu hak tinggi, tapi Dian di sampingnya tetap sempurna seperti robot.
"Dasar. Kok dia nggak capek ya?"
Tiba-tiba, keramaian sedikit reda. Clara muncul di pintu masuk dengan gaun merah menyala yang sengaja dipilih untuk mencolok.
"Selamat menikah, Dian," ucapnya dengan senyum getir sambil mencium pipi Dian—terlalu lama untuk sekadar formalitas.
"Haduh. Drama."
Kirana menyeringai. "Makasih udah dateng, Clara. Jangan sedih ya, kan lo masih bisa jadi 'teman spesial'-nya Dian."
Dian mencubit lengan Kirana dengan keras.
"Aduh!"
"Maafkan istri saya," Dian berpura-pola tertawa. "Dia masih grogi."
Clara memandangi Kirana dengan mata penuh kebencian sebelum pergi.
"Anda sengaja?" desis Dian.
"Lo juga sengaja ngajak doi ke nikahan lo?" Kirana membalas.
Mereka saling menatap penuh tantangan, tapi tiba-tiba—
"KIRANA!"
Suara itu membuat Kirana membeku. Seorang wanita paruh baya dengan mata merah mendekat.
"Ibu Dian? Kenapa menangis?"
"Ini... ini untukmu," ucap Nyonya Wira sambil menyodorkan kotak perhiasan antik.
Dian tiba-tiba pucat. "Ibu! Itu—"
"Diam, Nak. Ini sudah waktunya."
Kirana membuka kotak itu dengan hati-hati. Sebuah kalung berlian tua dengan liontin berbentuk hati terbuka, memperlihatkan foto kecil Dian kecil dan seorang wanita cantik.
"Ibunya Dian..."
Tanpa disadari, air mata mengalir di pipi Kirana. "Ini... terlalu berharga. Saya tidak pantas—"
"Kamu pantas," bisik Nyonya Wira sambil memeluknya. "Aku tahu hatimu yang sebenarnya."
Dian berdiri kaku, wajahnya tidak terbaca. Tapi Kirana melihat—untuk pertama kalinya—ada kilatan emosi di matanya.
"Apa dia... sedih?"
---
"Dasar hidup! Nikah kontrak kok masih harus kerja lembur?!"
Kirana menggedor-gedor keyboard laptop di ruang kerja pribadi Dian dengan penuh dendam. Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, tapi sang CEO baru saja memaksanya untuk menyiapkan presentasi dadakan untuk klien dari Jerman yang akan meeting via Zoom jam 7 pagi besok.
"Ini malam pertama apa malam siksaan?!"
Dian yang duduk di seberang meja dengan postur sempurna seolah-olah baru bangun tidur (padahal mereka berdua sudah terjaga sejak 18 jam yang lalu) tiba-tiba melemparkan dokumen ke arah Kirana.
"Slide 5 kurang data. Revisi."
PLAK!
Kirana membanting mouse-nya. "Ini udah gue kerjain 3 kali! Lo pikir gue robot?!"
Dian tidak bergeming. "Anda istri saya sekarang. Reputasi saya bergantung pada performa Anda."
"Istri lo? ISTRI LO?!" Kirana bangkit dari kursinya, piyama bergambar unicorn-nya yang sudah kusut terlihat semakin konyol di tengah ruangan kerja mewah itu. "Ini mah hubungan bos dan karyawan aja nggak! Ini p********n modern!"
Dian mengangkat alis, matanya menyapu penampilan Kirana yang berantakan. "Kalau Anda tidak bisa bekerja dengan serius, lebih baik ganti baju dulu. Piyama unicorn itu mengganggu konsentrasi."
"DASAR—"
Kirana melihat ke bawah. Piyama pink-nya yang sudah usang itu memang terlihat absurd dengan tulisan "Unicorn Mode: ON" di bagian d**a.
"Gue di rumah sendiri! Mau pake baju apa terserah gue!"
"Ini juga rumah saya," balas Dian dingin. "Dan selama kontrak ini berjalan, penampilan Anda mencerminkan diri saya."
Kirana ingin melempar laptop ke arah kepala Dian, tapi bayangan 5 miliar di akhir kontrak menghentikannya.
"Oke, tuan tanah! Nanti gue ganti baju kemeja upacara bendera biar lo senang!"
Dian menghela napas panjang—helaan napas ke-37 malam ini, Kirana sudah menghitungnya.
"Fokus saja pada presentasi. Klien ini penting bagi perusahaan."
"Ya ampun, perusahaan lagi! Lo ini nggak punya life outside kerja apa?!"
Tiba-tiba, telepon Dian berdering. Dari layar, Kirana bisa melihat nama "Clara" muncul dengan foto selfie mereka berdua yang mesra.
"Buset! Di depan istri baru aja berani!"
Dian dengan cepat mematikan layar. "Tidak penting."
"Waduh, jangan ditolak dong! Nanti doi nangis lagi kayak di pesta pernikahan!" Kirana menyeringai.
Dian menatapnya tajam. "Anda terlalu banyak bicara."
"Dan lo terlalu banyak nyuruh-nyuruh!"
Ruangan kembali sunyi, hanya diisi suara ketikan keyboard yang semakin keras dan kasar. Kirana menguap lebar, matanya sudah berkaca-kaca karena lelah.
"Gue nggak kuat... tidur dulu 5 menit aja..."
Tanpa sadar, kepalanya mulai menunduk, semakin rendah, semakin—
"KIRANA!"
Suara Dian menggelegar seperti petir. Kirana tersentak bangun, nyaris jatuh dari kursi.
"LO KERASAN BANGET SIH! GUE KAN MANUSIA BUKAN ROBOT!"
Dian berdiri, tubuhnya menaungi Kirana seperti awan gelap. "Saya tidak peduli Anda lelah atau tidak. Kerjaan harus selesai!"
"Yaudah kerjain sendiri aja! Gue tidur dulu!" Kirana mencoba berdiri, tapi Dian menahan bahunya dengan kuat.
"Tidak."
"Lepasin gue!"
"Tidak sampai presentasi ini selesai."
Mereka saling menatap—satu penuh amarah, satu penuh kelelahan. Tiba-tiba, Kirana merasa sesuatu yang aneh.
"Dia... bau harum ya? Padahal seharian kerja."
Dian juga diam, tangannya masih mencengkeram bahu Kirana. Ruangan terasa semakin panas.
"Kenapa dia ngeliatin gue kayak gitu? Kenapa jantung gue berdebar kencang?"
Tiba-tiba—
BRRIIINNNGGG!!!
Alarm di laptop Dian berbunyi.
"Jam 2 pagi. Waktunya istirahat," ucap Dian tiba-tiba melepaskan pegangan.
"Hah? Tapi presentasinya—"
"Saya akan selesaikan sendiri. Anda tidur saja."
Kirana terbelalak. "Apa-apaan ini? Setelah nyiksa gue semalaman, sekarang dia baik hati?"
"Tapi tadi lo bilang—"
"SUDAH!" Dian membentak. "Pergi sebelum saya berubah pikiran!"
Kirana tidak perlu disuruh dua kali. Dia langsung melompat dari kursi dan bergegas ke pintu. Tapi sebelum keluar, dia menoleh.
"Dian... makasih."
Dian tidak menoleh, tapi Kirana melihat telinganya yang memerah. "Pergi."
---
Kirana menceburkan diri ke kasur king size yang mewah. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya masih berputar-putar.
"Dia tadi... beneran ngeliatin gue dengan cara aneh? Atau gue yang ngantuk banget sampe berhalusinasi?"
Dari balik pintu, suara ketikan keyboard Dian masih terdengar.
"Dasar workaholic. Kerja sampai jam segini."
Tapi entah mengapa, ada perasaan aneh di dadanya. Seperti... khawatir?
"Ah, bodo amat! Dia juga nggak peduli sama gue."
Kirana memeluk bantal erat-erat, mencoba mengusir bayangan wajah Dian yang tadi memandanginya dengan cara yang berbeda.
"Dua tahun. Cuma dua tahun. Setelah itu gue bebas."
Tapi kenapa pikiran itu tiba-tiba terasa... tidak menyenangkan?