Ruangan meeting di lantai 30 Wira Group itu sunyi, terlalu sunyi. Hanya terdengar suara AC sentral yang berdesis lembut dan ketukan jari Dian di atas meja kayu mahoni. Kirana duduk di seberangnya, merasa seperti tahanan yang sedang diinterogasi.
"Dasar ruangan. Dinginnya kayak kuburan. Cocok banget sama si mayat hidup di depan gue ini," batin Kirana sambil menahan bersin.
Dian mengeluarkan setumpuk dokumen dari tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja dengan suara "plak" yang menggema.
"Ini perjanjian terbaru. Ada beberapa poin yang saya revisi."
Kirana menyeringai. "Revisi lagi? Udah berapa kali nih kontraknya diubah? Lebih banyak revisi daripada skripsi gue dulu!"
Dian tidak terhibur. "Pasal 4.2: Tidak diperkenankan mengumbar hubungan kita ke media sosial."
"Gue mah jarang update status kok," bales Kirana santai sambil main-mainin pulpen.
"Pasal 6.1: Wajib tinggal bersama minimal 4 hari dalam seminggu."
"Waduh, harus sering-sering liat muka masam lo dong?"
Dian menghela napas. "Dan yang paling penting—" matanya menyala seperti laser, "Pasal 9.3: Tidak ada keterlibatan perasaan dalam hubungan ini."
"Duh, lagi-lagi soal perasaan!"
Kirana memutar matanya. "Lo paranoid banget sih! Siapa juga yang mau jatuh cinta sama manusia es krim kayak lo? Dingin, kaku, dan bikin sakit kepala!"
Dian menatapnya lama. "Bagus. Kalau kita sepaham soal itu, tidak akan ada masalah."
"b*****t! Kenapa setiap dia ngomong gini d**a gue rasanya sesek ya?"
Kirana menyambar dokumen itu dan mulai membacanya dengan cepat. "Ini masa kontraknya dua tahun? Lama juga ya?"
"Cukup untuk orang tua saya percaya dan berhenti mencampuri hidup saya."
"Terus setelah itu?"
"Kita bercerai dengan damai. Anda dapat uang pensiun 5 miliar."
"LIMA MILIAR?!" Kirana nyaris tersedak air liur sendiri. "Eh, maksud gue... ya... cukup fair sih."
Dian tiba-tiba berdiri dan berjalan ke jendela, memandang kota Jakarta di bawah. Punggungnya yang tegang terlihat jelas melalui kemeja putihnya yang mahal.
"Ada satu hal lagi." Suaranya aneh, lebih rendah dari biasanya. "Clara akan tetap menjadi bagian dari hidup saya."
KRAAK!
Pulpen di tangan Kirana patah tanpa sengaja. Tinta biru mengotori jarinya.
"Tenang, Kirana. Ini cuma kontrak. Lo nggak berhak protes."
"Oh ya? Jadi gue istri di depan umum, doi selingkuhan di belakang?" Suara Kirana lebih pedas dari yang dia rencanakan.
Dian berbalik, wajahnya tidak terbaca. "Itu bukan urusan Anda."
"Jelas urusan gue dong! Gimana citra gue kalo ketauan?"
"Tidak akan ketahuan. Clara mengerti situasinya."
"Dasar! Dua-duanya toxic banget!"
Kirana berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh ke belakang. "Gue nggak mau jadi bagian dari hubungan nggak jelas lo! Nggak mau jadi pelakor!"
Dian mendekat dengan langkah mengancam. "Anda lupa posisi Anda. Ini BUKAN pernikahan sungguhan. Ini BISNIS."
"Kalau cuma bisnis, ngapain lo kemarin kayak orang kesetanan pas gue diganggu preman?!" teriak Kirana tanpa berpikir.
Dian terkesiap. Ada sesuatu yang berkilat di matanya—semacam konflik batin—tapi cepat hilang.
"Saya sudah menjelaskan alasannya."
"Alasan sampah!" Kirana menatapnya tajam. "Lo tau nggak sih, gue tuh—"
Dia tiba-tiba berhenti. "Gue tuh apa? Nggak bisa bedain mana kontrak mana perasaan? Nggak bisa akui kalo gue mulai suka sama lo? GILA!"
Dian memandanginya dengan ekspresi aneh. "Anda tuh apa?"
"Gue tuh... males banget sama lo!" Kirana menyambar dokumen itu dan menandatanganinya dengan kasar. "Udah! Tandatangan! Lo menang! Puas?!"
Dian mengambil dokumen itu, matanya menyapu tanda tangan Kirana. "Bagus. Sekarang kita ke catatan sipil."
"Gue mau ke kamar mandi dulu!" Kirana membanting pintu ruangan begitu keras sampai lukisan di dinding bergoyang.
---
Kirana menatap wajahnya di cermin. Mata yang biasanya bersinar sekarang merah dan berkaca-kaca.
"Dasar Kirana bodoh! Ngapain juga lu nangis? Ini kan cuma kontrak! Dia dari awal juga udah bilang nggak ada perasaan!"
Tapi kenapa semakin sering diingatkan, semakin sakit rasanya?
Dia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan diri. "Dua tahun. Cuma dua tahun. Habis itu gue bisa pergi dengan 5 miliar. Hidup baru. Bebas dari Daryandra dan segala drama toxicnya."
Tapi kenapa pikiran itu justru membuat dadanya semakin sesak?
---
Dian berdiri kaku di sebelah Kirana yang sengaja mengambil posisi paling jauh. Lift yang turun ke lobby terasa seperti neraka yang bergerak lambat.
Tiba-tiba, Dian membuka mulut. "Tentang Clara—"
"Gue nggak peduli!" Kirana memotong. "Lo mau pacaran sama satu pabrik cewek juga bodo amat!"
Dian menghela napas. "Anda tidak mengerti—"
Ding!
Pintu lift terbuka. Kirana langsung melompat keluar sebelum sempat mendengar lanjutannya.
"Gue emang nggak mau ngerti! Cukup sakit tau, sadar diri lo tuh nggak akan pernah liat gue lebih dari sekedar kontrak!"
Dian menyambar lengan Kirana. "Kita harus terlihat kompak di depan umum."
"Jangan sentuh gue!" Kirana menarik tangannya. "Kalo cuma kontrak, ya udah jalanin aja sesuai kontrak. Tapi jangan paksa gue pura-pura senang!"
Dian terlihat seperti baru ditampar. "Baik," ucapnya dingin. "Tapi setidaknya jangan merusak acara hari ini."
Kirana ingin menjawab lebih banyak, tapi sekelompok karyawan Wira Group sudah mendekat, memberikan selamat pada mereka berdua.
"Selamat ya, Pak Dian, Bu Kirana!"
Dengan cepat, Kirana memasang senyum palsu. "Ini baru babak pertama. Siap-siap aja, Daryandra. Gue nggak akan jadi istri patuh kayak Clara!"
---
"Dasar manusia! Sampah! Anjing! Kadal gurun!"
Kirana menggedor-gedor panci dengan kasar di dapur penthouse mewah Dian. Sudah dua hari dia tinggal di sarang sang CEO, dan selama itu pula kebenciannya pada laki-laki itu semakin menjadi-jadi.
"Kerjaannya cuma tidur, marah-marah, terus pergi ketemu Clara! Dasar playboy!"
Kulkas stainless steel besar itu penuh dengan bahan makanan mahal, tapi tak ada satu pun yang siap santap.
"Emangnya gue ini apa? Koki pribadi?!"
Dengan gerakan kasar, Kirana menyambar pisau dapur dan mulai memotong bawang dengan penuh dendam.
"Anda bisa lebih pelan tidak? Saya lagi meeting penting!" Suara Dian menggema dari ruang kerjanya.
"Kalau lo mau sepi, ya masak sendiri!" balas Kirana sambil sengaja membanting panci lebih keras.
Ding!
Notifikasi dari ponsel Dian terdengar jelas. Kirana yang sedang penasaran mengendap-endap mendekat.
[Clara: Sayang, aku kangen. Nanti malam ketemuan ya?]
"BUSET! Di depan gue aja berani!"
Dian malah dengan santai membalas: [Ya. Jam 8.]
"Gila bener sih! Gue aja harus masak sendiri, doi malah mau dinner romantis sama selingkuhannya!"
Tanpa berpikir panjang, Kirana menyambar ponselnya dan memesan makanan online dalam jumlah besar.
"Mau ngambek juga harus kenyang!"
---
Dian berdiri di depan pintu, mengenakan jas hitam yang membuatnya tampak seperti bintang film.
"Saya pergi. Jangan lupa kunci pintu."
Kirana yang sedang asyik melahap burger keju ukuran jumbo hanya melotot. "Mana kuncinya?"
"Di lemari dapur."
"Lemari yang mana? Ini penthouse lo besar banget!"
Dian menghela napas. "Anda sudah tinggal di sini dua hari tapi tidak pernah menjelajahi rumah?"
"Jelajahi? Ini rumah atau hutan sss sih?" Kirana mengunyah dengan kasar. "Pulang jam berapa?"
"Anda bukan istri sungguhan saya. Itu bukan urusan Anda."
PLAK!
Kirana melempar bungkus burger ke tempat sampah. "Bener juga, semoga dinner romantis lo sama Clara berantakan!"
Dian memicingkan mata. "Anda cemburu?"
"HAH?!" Kirana nyaris tersedak. "Gue cemburu sama lo? Kayak gue mau jatuh cinta sama manusia es krim yang kerjanya cuma tidur, marah, dan kencan!"
Dian tersenyum tipis—senyum yang bikin Kirana geram. "Bagus. Karena saya juga tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita ceroboh seperti Anda."
"Dasar—"
Tapi sebelum Kirana sempat membalas, Dian sudah menghilang di balik pintu lift.
---
BRRIIINNNGGG!!!
Alarm ponsel berbunyi dengan nada menyebalkan pukul 6 pagi. Kirana yang baru tidur jam 3 karena marathon drama Korea langsung mengumpat.
"Siapa yang berani— Oh."
Pesan dari Dian: [Fitting baju pengantin jam 8. Jangan terlambat.]
"Dasar dictator! Jam segini aja udah nyuruh-nyuruh!"
Dengan mata setengah tertutup, Kirana merangkak ke kamar mandi. "Gue nggak ngerti. Katanya pernikahan kontrak, tapi baju pengantinnya harus fitting segala?"
Saat turun ke lobby, Dian sudah menunggu dengan wajah lebih masam dari biasanya.
"Anda terlambat 15 menit."
"Wah, selamat pagi juga," Kirana menyeringai. "Tadi mimpi buruk ketemu lo, jadi susah bangun."
Dian mengabaikan komentarnya. "Kita akan ke butik Langit. Desainer sudah menunggu."
"Wah, mewah banget ya? Tapi buat apa sih? Nikah kontrak aja pake baju bagus-bagus?"
"Karena orang tua saya akan hadir. Dan media juga."
"MEDIA?!" Kirana nyaris menjerit. "Lo bilangnya cuma nikah kecil!"
Dian masuk ke mobil tanpa menjawab.
---
Begitu masuk, Kirana langsung disambut oleh 5 orang staff yang semuanya tersenyum manis berlebihan.
"Selamat pagi, Nyonya Wira! Kami sudah siapkan beberapa pilihan untuk Anda."
"Nyonya Wira? Duh, kedengeran tua banget!"
Dian langsung duduk di sofa dan membuka laptopnya. "Saya ada kerjaan. Anda urus sendiri."
"Dasar! Gue aja yang cuma 'pemeran pendukung' harus fitting, doi malah kerja?"
Tiga jam berikutnya adalah siksaan. Kirana harus mencoba 15 gaun pengantin berbeda, masing-masing lebih mewah dan berat dari yang sebelumnya.
"Yang ini dari sutra Perancis dengan payet kristal Swarovski," kata desainer bangga.
"Gila, beratnya kayak baju zirah!"
Saat Kirana keluar dengan gaun ke-7, matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih.
Dian sedang menelepon—dengan senyum lembut yang belum pernah Kirana lihat sebelumnya.
"Ya, sayang. Nanti aku jemput jam 7... Iya, restoran Italia itu... Kamu yang terbaik."
"Clara. Pasti Clara."
Perasaan aneh menyelinap di d**a Kirana. "Ngapain juga gue kesel? Ini kan cuma kontrak?"
Tanpa berpikir panjang, Kirana berjalan mendekat dan sengaja menjatuhkan gelas air mineral ke laptop Dian.
SPLASH!
"KIRANA!"
"Maaf, tangan gue licin," ujarnya tak bersalah. "Tapi kan lo punya duit, bisa beli baru tuh laptop."
Dian berdiri dengan wajah merah marah. "Anda benar-benar—"
Tiba-tiba, pintu butik terbuka. Nyonya Wira masuk dengan wajah berseri.
"Anak-anak! Wah, Kirana cantik sekali!"
Dian langsung mengubah ekspresinya menjadi senyum sempurna. "Ibu datang."
"Dasar munafik!"
Nyonya Wira memandangi mereka berdua dengan curiga. "Kalian bertengkar?"
"Tidak, Bu," Kirana cepat menyambar tangan Dian dan berpura-pura mesra. "Kami cuma... berdiskusi tentang motif bunga untuk dekorasi."
Dian kaku seperti patung, tapi tidak menarik tangannya.
"Wah, kamu sudah pakai cincin tunangan Dian!" Nyonya Wira tersenyum senang.
Kirana baru menyadari cincin berlian besar di jarinya. "Kapan gue dipasangin ini?!"
"Dian, kamu harus lebih romantis," sindir Nyonya Wira. "Lihat, Kirana sampai tidak sadar kamu pasangkan cincin."
Dian tersenyum kaku. "Iya, Bu."
Tapi begitu ibunya berpaling, dia segera melepaskan genggamannya dan berbisik kasar:
"Main api bisa terbakar, Kirana."
Kirana membalas bisikannya: "Lo yang main api duluan sama Clara."
Mereka saling menatap—satu penuh amarah, satu penuh tantangan.
Nyonya Wira yang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum bahagia. "Kalian memang pasangan yang sempurna!"